Senin, 14 Oktober 19

Said Aqil Siradj: NU dan PDI-P Sangat Bersahabat

Said Aqil Siradj: NU dan PDI-P Sangat Bersahabat
* Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj, (Foto: NU Online)

Jakarta, Obsessionnews.com – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj mengungkapkan, organisasi yang dipimpinnya itu memiliki hubungan yang dekat dengan dengan PDI-P. Keduanya  saling mendukung dan menguatkan.

Bahkan, menurut Said, NU dan PDI-P sudah sering sejalan sejak Indonesia berdiri dan merdeka. Hal itu disampaikan Said  di hadapan ratusan santri Pondok Pesantren Al Tsafaqah di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019) malam.

“Antara NU dan PDI-P yang nasionalis sangat-sangat bersahabat. Jika seandainya tidak bergandengan santri dan nasionalis, belum tentu merdeka Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut ia bercerita dulu Bung Karno selalu meminta masukan dari para kiai NU. Salah satunya adalah Wahab Chasbullah yang ditemui Bung Karno pada 1948. PDI-P kata dia, adalah partai yang meneruskan perjuangan Bung Karno.

Said menjelaskan, saat awal kemerdekaan kondisi negara sedang berada di ambang perpecahan. Dari pertemuan Wahab Chasbullah dan Bung Karno, lahirlah istilah halal bihalal yang terus dipakai hingga saat ini.

“Saat itu terminologi halal bihalal muncul dari Kiai Wahab guna menjawab permintaan Bung Karno untuk adanya silaturahmi antartokoh,” ucapnya.

Pada kesempatan itu di hadapan para santri Said  menegaskan, NU menolak NKRI bersyariah. Ia menceritakan kisah saat KH Wahid Hasyim ber-istikharah dan setuju dihapusnya tujuh kata dari Piagam Jakarta. Dengan sebuah visi bahwa lebih penting memastikan Indonesia yang kuat terlebih dahulu.

Menurutnya, yang lebih penting adalah justru NU dan nasionalis memang sudah ada sejak NKRI berdiri. “Bahwa NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 sudah final. Maka lebih baik kita isi saja kemerdekaan ini dengan amal-amal Islam,” tutur Said Aqil.

“Jadi persahabatan NU dengan kaum nasionalis sangat penting harus kita jaga. Kalau tidak, nanti kita seperti Timur Tengah,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan, ada sejarah panjang antara Soekarnois dan Nahdliyin. Karena itu, bisa dipahami banyak pihak yang tak senang ketika keduanya bersatu.

“Ketika Soekarnois dan Nahdliyin bersatu, banyak pihak tidak senang. Kita harus menjawab tantangan ini bersama-sama,” kata Hasto.

“Maka fitnah bahwa PDI-P anti Islam sudah jelas tak benar. Bagaimana mungkin anti Islam, terbukti PDI-P dekat dengan NU,” sambungnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.