Senin, 30 Januari 23

Saatnya Evaluasi Total Pesawat Angkut TNI

Saatnya Evaluasi Total Pesawat Angkut TNI

Jakarta, Obsessionnews.com – Pesawat angkut TNI AU jenis C-130 HS bernomor A-1334 dengan pilot Mayor Penerbang Marlon mengalami kecelakaan di Kabupaten Wamena, Papua. Hercules yang sedang dalam misi latihan TNI AU tersebut jatuh sebelum mendarat di Bandara Wamena. Hercules A-1334 merupakan pesawat bekas AU Australia yang laik operasi dan sudah dimodifikasi di Pangkalan RAAF Richmond.

Sering jatuhnya Hercules TNI AU sangat memprihatinkan. Sejak kecelakaan Hercules di Medan tahun lalu, sebenarnya AU telah memperhatikan ekstra perawatannya. Presiden Jokowi pun sudah memerintahkan untuk memodernisasi dan evaluasi total pesawat angkut TNI maupun Polri.

“Tidak hanya masalah kecelakaan yang di Wamena, untuk semua yang berkaitan dengan pesawat-pesawat TNI maupun Polri betul-betul harus dilihat akar dari masalah itu apa,” tegasnya usai meresmikan pengeluaran dan pengedaran uang Rupiah tahun emisi 2016, di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (19/12/2016).

Perlu evaluasi seluruh alat utama sistem senjata (alutsista) khususnya pesawat angkut militer. Ini berkaitan dengan kapabilitas TNI menghadapi tanggap darurat dan menjaga keutuhan wilayah NKRI. Optimasi terkendala SDM teknologi dan biaya perawatan.

Pemerintah perlu meningkatkan kesiapan rata-rata seluruh jenis pesawat angkut TNI AU supaya tidak stagnan. Rendahnya kesiapan alutsista khususnya pesawat transport membuat jam terbang kurang. Hal ini akan mengakibatkan penurunan profesionalitas dan tingkat keterampilan penerbang. Penerbang profesional minimal dibutuhkan 15 jam terbang pesawat tempur dan 20 jam terbang pesawat angkut perbulan.

Kecelakaan Hercules yang terjadi berulang berdampak negatif bagi operasional TNI AU dan melemahkan sistem pertahanan nasional. Hercules dalam lintasan sejarah bangsa sarat perjuangan dan menjadi saksi berbagai operasi militer. Hercules juga tidak pernah absen dalam operasi kemanusiaan, terutama bencana alam sebagai penyalur logistik. Kecelakaan Hercules A-1334 menimbulkan dilema berat pemerintah antara harus mengandangkan seluruh Hercules dan membiarkan tetap terbang.

Kecelakaan Hercules ini juga disorot oleh DPR. Anggota Komisi I DPR Sukamta menyampaikan dalam catatannya, tahun ini setidaknya terjadi 5 kali kecelakan pesawat milik TNI. Sejak tahun 2000 telah terjadi 5 kali kecelakaan yang menimpa pesawat Hercules berjenis C 130.

“Ini tentu harus jadi perhatian serius dari Pak Menhan dan juga jajaran TNI,” kata Sukamta.

Sukamta menilai perlunya evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem penerbangan TNI. Audit terhadap kelaikan perlu dilakukan, mengingat banyak pesawat TNI yang usianya lebih dari 30 tahun. Kata dia, pernyataan Kepala Staf TNI AU bahwa pesawat masih dalam keadaaan layak terbang tetap harus ditindaklanjuti.

“Lakukan audit kondisi pesawat TNI untuk memastikan kondisi pesawat yang masih ada,” kata Politikus PKS itu.

Sudah waktunya Indonesia mentransformasi pesawat angkut militer sesuai dengan tantangan zaman. Sebagai negara kepulauan sangat luas dan tantangan lebih besar, mestinya Indonesia tidak boleh kalah langkah dengan Malaysia yang telah mentransformasi pesawat transpot militer Airbus A400 M.

Ini pesawat angkut taktis terbaru yang juga bisa berfungsi alat angkut strategis berbasis teknologi mutakhir. A400 M untuk menggantikan Lockhead C-130 Hercules dan Transall C-160. Pesawat A400 M memiliki jarak tempuh dua sampai tiga kali jarak Lockheed C-130J. dia juga memiliki maximum payload atau bobot angkut dua kali lebih besar.

Transformasi pesawat angkut militer sudah keharusan demi menuju multirole function tidak hanya untuk misi militer, tapi juga kemanusiaan. Prinsip transformasi adalah meneguhkan military transport aircraft dengan tantangan terbaru.

Selama 10 tahun terakhir Indonesia hanya mengandalkan pesawat transpot C-130 KC Tanker (2), C-130B (10), dan C-130H (10). Kemudian F-27 TS (6), CN-235 (6), Casa-212 (7). Pemerintah perlu meningkatkan kesiapan seluruh pesawat angkut TNI AU yang baru 40 persen.

Kekurangan anggaran perawatan tidak boleh menjadi kambing hitam kecelakaan alutsista TNI. Penyebab sejati kecelakaan pesawat terbang dan helikopter TNI belum diumumkan secara terbuka. Ada kemungkinan penanggung jawab tidak mampu mengetahui penyebab pasti kecelakaan. Dalam domain teknologi, perawatan, suku cadang, dan gangguan cuaca ekstrem sebenarnya sudah diperhitungkan masak-masak dalam desain alutsista dan uji laboratorium serta uji lapangan. Berbagai uji dengan beban statik, dinamik, dan lingkungan operasi dilakukan memakai standar militer yang sangat ketat.

Anggaran belanja militer beberapa tahun ke depan harus disertai audit investigasi alutsista dan pencegahan penyelewengan dalam pengadaan dan perawatan. Berbagai kasus penyelewengan dan mark-up pengadaan alutsista masa lalu tidak boleh terjadi lagi. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.