Senin, 6 Desember 21

Rusia Segera Akui Pemerintah Taliban di Afghanistan

Rusia Segera Akui Pemerintah Taliban di Afghanistan
* Para pemimpin Taliban. (Foto: Reuters)

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia bergerak ke arah untuk segera mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan.

Putin dalam pertemuan Klub Diskusi Valdai di kota Sochi, Kamis (21/10/2021), menuturkan Moskow bergerak untuk mengakui Taliban, tetapi hal ini harus mengikuti prosedur yang sama yang telah menempatkan kelompok itu dalam daftar organisasi teroris di Rusia.

“Kami tampaknya sudah semakin dekat untuk melakukannya (mengakui Taliban),” ujarnya seperti dilansir kantor berita TASS.

Posisi Rusia, kata Putin, bergerak ke arah sana, tetapi keputusan itu harus dibuat dengan cara yang sama ketika Taliban dimasukkan dalam daftar hitam.

Sementara itu, utusan khusus Rusia untuk Afghanistan mengatakan Moskow tidak memberikan ultimatum kepada Taliban terkait pembentukan pemerintah yang inklusif di Afghanistan.

Namun, ujarnya, Taliban harus memenuhi harapan global tentang hak asasi manusia dan inklusivitas pemerintah.

Amerika Serikat dan NATO menginvasi Afghanistan pada 2001 dengan alasan memburu pelaku serangan 11 September. AS telah menduduki Afghanistan selama 20 tahun sebelum merampungkan penarikan pada Agustus lalu.

Taliban sebagai penguasa baru Afghanistan juga mendapat dukungan dari 10 kekuatan regional dalam pembicaraan di Moskwa pada Rabu (20/10/2021), untuk gagasan konferensi donor PBB yang membantu mencegah keruntuhan ekonomi dan bencana kemanusiaan Afghanistan.

Rusia, China, Pakistan, India, Iran dan lima negara bekas Uni Soviet di Asia Tengah bergabung dengan Taliban, menyerukan agar PBB mengadakan semacam konferensi sesegera mungkin untuk membantu membangun kembali negara itu.

Mereka mengatakan itu harus dilakukan “dengan pemahaman, tentu saja, bahwa beban utama … harus ditanggung oleh pasukan yang kontingen militernya hadir di negara ini selama 20 tahun terakhir.”

Gagasan itu merujuk ke Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, yang menginvasi Afghanistan setelah serangan 11 September 2001, dan penarikan tiba-tiba membuka jalan bagi Taliban Islam untuk merebut kembali kendali negara pada Agustus.

Washington memilih untuk tidak menghadiri pembicaraan, dengan alasan teknis. Tetapi pihak AS mengatakan mungkin akan bergabung dengan putaran pembicaraan lainnya di masa depan.

Rusia telah memimpin seruan untuk bantuan internasional, sadar bahwa setiap tumpahan konflik dari Afghanistan dapat mengancam stabilitas regional.

“Tidak ada yang tertarik dengan kelumpuhan total seluruh negara bagian, yang berbatasan, antara lain, CIS (Persemakmuran Negara-Negara Merdeka),” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov melansir CNN pada Rabu (20/10). (*/ParsToday/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.