Rabu, 25 November 20

Rusdi Rosman, Sang Motivator di Kimia Farma

Rusdi Rosman, Sang Motivator di Kimia Farma
* Direktur Utama Kimia Farma, Rusdi Rosman.

Obsessionnews – Mengawali karier dari bawah di industri farmasi sejak 26 tahun lalu, Rusdi Rosman berhasil menapaki puncak kariernya hingga menjabat Direktur Utama sebuah perusahaan farmasi milik negara yang sudah hadir sejak zaman Belanda ini, PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. Di bawah kepemimpinannya, Kimia Farma kian berkibar dengan kehadiran ratusan apotek dan klinik yang tersebar di seluruh Indonesia. Belum lagi pengembangan pabrik-pabrik baru yang tengah gencar dibangun Kimia Farma.

Ketika ditemui Men’s Obsession di ruang kerjanya yang sederhana di kawasan Veteran, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, dengan ramah dan terbuka, ia bercerita banyak mengenai kehidupannya, mulai dari perjuangan awal karier, pengembangan-pengembangan Kimia Farma, hingga cerita-cerita ringan yang membuat suasana mencair dan santai. Senyum manis tak pernah lepas dari wajahnya yang kharismatik. Dari nada bicara dan gesture tubuhnya sama sekali tak menampakan kesan bossy.

Ya, itulah Rusdi Rosman, seorang pemimpin yang hangat dan humble. Rusdi pun dikenal sangat peduli terhadap para stafnya, ia bahkan seringkali harus turun langsung memberikan motivasi kepada mereka agar lebih semangat untuk bersama-sama berjuang membesarkan Kimia Farma.

Kala pertama menjabat Direktur Utama Kimia Farma pada 2012 lalu, Rusdi langsung berjibaku mengembangkan perusahaan, salah satunya dengan melakukan pembenahan mental dan kultur SDM yang diakuinya sebagai fondasi dan langkah awal untuk kemajuan sebuah perusahaan. Dalam hal ini, Rusdi menciptakan budaya kerja ‘5 AS’, yakni, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, kerja antusias, dan kerja tuntas, guna mendukung slogan dan budaya perusahaan ‘I CARE’ (Innovative, Customer First, Accountability, Responsibility, dan Eco Friendly).

“Walaupun banyak pengembangan tapi kalau human resources-nya dan budayanya tidak bagus, itu gampang sekali roboh. Artinya tidak kuat. Nah Kita membangun fondasi budaya kerja dan budaya perusahaan ini sangat serius, melibatkan konsultan juga. Alhamdulillah saat ini sudah mulai terbangun budaya itu,” papar pria kelahiran Makassar, 8 Februari 1965 ini.

Perjalanan karier Rusdi bermula dari seorang apoteker pendamping di Kimia Farma saat ia baru menamatkan pendidikan farmasi dari Universitas Padjajaran, Bandung pada 1989. Dengan semangat, Rusdi bertekad ingin lebih meningkatkan kariernya. Atas support dan doa keluarga, terutama sang istri juga, perlahan demi perlahan kariernya meningkat hingga pada puncaknya ia menjabat Direktur Utama Kimia Farma.

“Jadi dukungan istri sangat kuat. Dia selalu bilang saya harus punya competitive advantages dari orang lain. Salah satunya dengan saya mengambil beasiswa di Amerika saat itu,” ujar peraih gelar MBA Operation Management dari California State University, San Bernardino CA, USA dan Global Business Management University of California, Riverside, USA ini.

Selain meningkatkan soft competency, sejak awal berkarier, ayah dua putra ini, selalu memegang teguh nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan dan kerja keras yang menjadi kunci kesuksesannya selama ini. Namun dengan merendah, Rusdi mengatakan bahwa semua yang telah dicapainya ini adalah karena takdir Tuhan.

“Saya tidak pernah bermimpi bisa menjadi Direktur Utama. Ini semua karena takdir Tuhan! Kalau bukan karena takdir Tuhan belum tentu saya bisa seperti ini,” ungkap penggemar olahraga, membaca dan memancing ini.

 

Pengembangan Bisnis

Di bawah kepemimpinan Rusdi, Kimia Farma gencar melakukan pengembangan-pengembangan bisnis, antara lain, pengembangan apotek dan klinik yang tersebar di seluruh Indonesia, serta pembangunan beberapa pabrik baru. Rusdi berhasil menggenjot kinerja teamnya sehingga menghasilkan pencapaian yang luar biasa.

Sekadar gambaran, ia berhasil meningkatkan jumlah apotek hingga 725 apotek pada 2015 lalu, meningkat drastis dalam waktu 4 tahun jika dilihat dari kondisi 2011 dengan 390 apotek. Begitupun dengan klinik, kini, sudah terdapat 319 klinik kesehatan Kimia Farma yang juga dapat digunakan untuk pasien BPJS Kesehatan.

Yang juga menjadi sebuah prestasi membanggakan, asset apotek Kimia Farma hanya 15% atau 92 apotek dari total 725 apotek tersebut, sisanya milik investor.

“Saya memanfaaatkan kekuatan brand Kimia Farma, power of brand. Bagaimana caranya brand Kimia Farma itu dipercaya oleh para investor untuk menanamkan asetnya untuk dibuat apotek dan klinik,” beber Rusdi. Tak hanya itu, Kimia Farma bahkan memiliki market share tertinggi di Indonesia dengan prosentase 29%.

Tak cukup puas dengan pencapaian itu, Rusdi menargetkan untuk lebih memperluas lagi jaringan apotek dan klinik minimal 100 apotek dan 50 klinik per tahunnya.

“InsyaAllah akan menjadi 1000 apotek sebelum 2019,” ucapnya, optimis. Salah satunya dengan merambah masuk ke kawasan mal atau pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia yang akan dimulai dengan 2 mal terlebih dahulu pada tahun ini.

Di samping apotek dan klinik, Kimia Farma juga tengah gencar membangun beberapa pabrik baru dalam rangka pengembangan bisnisnya. Setelah selesai dengan pabrik farmasi di Banjaran yang menjadi satu-satunya di Indonesia, Kimia Farma membangun lagi pabrik lainnya, antara lain, pabrik rapid test di Bali, dan pabrik bahan baku obat yang lagi-lagi pertama di Indonesia. Pabrik bahan baku obat yang sedang dibangun di kawasan Lippo Cikarang itu, merupakan joint venture dengan investor dari Korea Selatan.

Dengan adanya pabrik bahan baku obat tersebut, Kimia Farma akan mampu menghemat devisa negara lantaran tidak lagi tergantung pada import obat, bahkan Rusdi yakin ke depannya Kimia Farma akan bisa eksport obat. Pabrik obat tersebut, rencananya akan memproduksi antara lain, obat-obatan penyakit umum di Indonesia, seperti kolesterol, maag, diabetes, dan darah tinggi.

Tak hanya itu, Kimia Farma bahkan menyediakan produk yang diklaim belum dimiliki perusahaan lain, yakni obat HIV, ARV (antiretroviral). Dengan penuh keyakinan, Rusdi mengatakan, jika pabrik-pabrik tersebut sudah mulai beroperasi paling lambat tiga tahun ke depan, Kimia Farma akan mampu meraih omset berlipat ganda.

Melihat pasar kosmetik yang begitu besar di Indonesia, Kimia Farma juga tengah mempersiapkan pengembangan produk kosmetik. Tak tanggung-tanggung, Rusdi bahkan berencana akan membangun sebuah pabrik kosmetik besar di Banjaran yang akan mulai dibangun tahun depan. Diam-diam ia pun sudah mempersiapkan manajemen khusus untuk pengembangan kosmetik ini.

Menyusul brand Marcks dan Salicyl yang menjadi best seller dan selalu mendapat Top Brand Award, Rusdi yakin divisi kosmetik Kimia Farma akan mampu bertumbuh hingga mencapai minimal 50%.

“Apalagi melihat pasar kosmetik itu lebih tinggi dari pasar farmasi jadi saya yakin. Kita akan meningkatkan target growth minimal 50%, bahkan kalau bisa lebih. InsyaAllah tahun ini pasti ada peningkatan-peningkatan,” urainya dengan penuh semangat. []

(Naskah: Suci Yulianita/Men’s Obsession)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.