Rabu, 27 Oktober 21

Rupiah Rontok Akibat SBY 10 Tahun ‘Nothing To Do’

Rupiah Rontok Akibat SBY 10 Tahun ‘Nothing To Do’

Rupiah Rontok Akibat SBY 10 Tahun ‘Nothing To Do’
Oleh: FX Arief Poyuono

Rontoknya nilai kurs rupiah hingga melewati kisaran 13ribu rupiah per US Dollar bukanlah disebabkan oleh keadaan ekonomi  nasional yang saat ini dipimpin oleh Presiden Jokowi.

Tidaklah mungkin kejatuhan rupiah terjadi begitu saja tanpa sebuah hasil kerja  ekonomi nasional yang terjadi dari masa lalu.

Perlu dicatat bahwa utang luar negeri melesat hingga kisaran Rp2.700 triliun terjadi pada era Presiden SBY. Ini terjadi karena banyaknya SUN dan Obligasi pemerintah yang dijual murah murah dengan bunga tinggi karena adanya mafia fee SUN dan Obligasi di era SBY.

Hubungan antara utang luar negeri dan nilai kurs mata uang  suatu negara sangatlah kuat hubungannya untuk kejatuhan nilai kurs mata uang negara penghutang.

Pengunaan hasil SUN dan Obligasi diera SBY tidak digunakan secara baik hanya untuk bancaan para koruptor melalui proyek proyek infrakstrutur dan menyuburkan mafia import minyak.

Hari ini Jokowi telah diwarisi kehancuran ekonomi oleh SBY dengan tandai beras mahal, gas elpiji langkah dan mahal, nilai kurs rupiah jeblok dan utang negara bertumpuk.

Hal ini, semakin jelas ketika laporan BPK bahwa banyak penyelewengan APBN diera SBY dan para koruptor APBN dan APBD yang tinggal tunggu dieksekusi.

Harga Beras mahal hari ini juga akibat kegagalan SBY selama sepuluh tahun menjadikan negara yang berswasembada pangan. Bukan karena Jokowi yang tidak bisa memanage kebutuhan pangan nasional sehingga Indonesia yang terkenal negara agraris justru menjadi negara pengimpor pangan terbesar di Asia yang menambah beban makin terperosoknya nilai kurs rupiah.

Kemudian, selama SBY berkuasa semua anggaran yang diarahkan untuk program perbaikan infrastruktur  pertanian untuk menuju swasembada pangan kemana saja.

Karena itu, sangat naif kalau Jokowi effect akan memberikan perbaikan ekonomi dan penguatan rupiah dalam waktu singkat. Apalagi saat Jokowi memimpin keadaan ekonomi Amerika Serikat sedang bagus bagusnya setelah krisis tahun 2008  dan apalagi Tim ekonomi Jokowi masih belum kelasnya  dan pengalaman yang cukup untuk menanggani keadaan ekonomi nasional yang hampir hancur oleh SBY.

Maka, Jokowi harus lebih kerja keras dan mulai berani untuk melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap semua transaksi ekport dan import serta hutang luar negeri swasta dan mengunci capital outflow dana asing dengan kebijakan yang tepat.

Serta memberikan kemudahan bagi industri yang berbahan baku lokal untuk lebih berkembang dengan pajak khusus dan kemudahan eksport,” tutur Poyuono.

Jatuh nilai kurs rupiah juga tidak lepas dari peran BI yang berperan sebagai pemain vallas bukan berfungsi sebagai pengendali moneter. [#]

*) FX Arief Poyuono SE – Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.