Jumat, 22 Oktober 21

Rupiah Melemah terhadap Dolar AS, Perlukah Masyarakat Tetap Tenang?

Rupiah Melemah terhadap Dolar AS, Perlukah Masyarakat Tetap Tenang?

Semarang, Obsessionnews – Minggu lalu adalah sebuah momentum penting bagi pergerakan rupiah. Setelah berbulan-berbulan terus melemah terhadap dolar AS, kini nilai tukar rupiah akhirnya menyentuh level psikologis Rp 13.164. Fenomena melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar dinilai lebih disebabkan faktor permasalahan di luar negeri dibandingkan dengan pengaruh dari kondisi yang ada di dalam negeri.

“Ini bukan karena masalah dalam negeri, ini karena faktor di luar negeri,” kata Menteri Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro seusai Rapat tentang Pendanaan Luar Negeri di Kantor Wakil Presiden, Senin (3/2).

Menurut Bambang, pelemahan mata uang rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor luar negeri seperti kondisi perekonomian terkini, misalnya di Tiongkok dan Amerika Serikat.

Dia mengutarakan keyakinannya Bank Indonesia (BI) telah siap dalam mengambil langkah-langkah yang tepat, seperti melakukan intervensi di pasar bila sekiranya hal itu diperlukan.

Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar, tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga mata uang lainnya di dunia.

“Ini memang faktor global, faktor eksternal yang dialami oleh semua negara. Kami selalu bertemu dengan Gubernur BI untuk mengantisipasi. Tetapi sekali lagi, ini faktor global. Jadi, waspada, tetapi tenang saja,” ujar Jokowi.

Yang menarik adalah ketika rupiah melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melambung, bahkan menembus level 5.429. Sejumlah analis memperkirakan IHSG masih dalam tren naik karena didukung dengan naiknya pasar obligasi, mengecilnya defisit transaksi, dan naiknya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia, baik lewat portofolio maupun Foreign Direct Investment (FDI).

Pada perdagangan IHSG tercatat akumulasi pembelian bersih (net buy) oleh asing sejak awal tahun ini hingga kemarin mencapai Rp 11.44 triliun, sedangkan penjualan bersih (net sell) mencapai Rp 274.8 miliar.

Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, sebanyak US$ 40,3 miliar komitmen investasi berhasil dijaring sejak Oktober 2014 hingga 27 Februari 2015.

Analis Asjaya Indosurya Securities Indonesia, William Suryawijaya, menjelaskan, aliran modal (capital inflow) di Bursa Saham Indonesia termasuk tinggi, sehingga indeks masih bisa terangkat tinggi.

Dia memprediksikan IHSG akan bergerak menuju level 5.500 dan investor asing akan mencatatkan net buy. Kepercayaan investor saat ini masih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Perkara nilai tukar rupiah yang saat ini sudah mencapai level Rp 13.000 ke atas sama sekali tidak membuat para investor khawatir karena tidak terlihat adanya kepanikan pada pasar, baik pasar uang maupun pasar saham.

Dr FX Sugiyanto, MS, pengamat ekonomi dari Universitas  Diponegoro (Undip) Semarang
Dr FX Sugiyanto, MS, pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang

Senada dengan Jokowi, Dr FX Sugiyanto, MS, pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menganalisis pelemahan mata uang rupiah erat kaitannya dengan perbaikan ekonomi di Amerika. “Tetapi jika tidak diantisipasi bisa juga berisiko terhadap aspek yang bersifat spekulatif,” kata Sugiyanto kepada obsessionnews.com, Kamis (12/3).

Pernyataan Menkeu yang menyatakan penurunan nilai rupiah membuat APBN semakin tinggi menjadikan bermacam spekulasi di masyarakat. “Itu juga saya pertanyakan. APBN bersumber selain pembagian hasil laba, kemudian juga dari pajak kan?” ujar Sugiyanto.

Menurutnya, semestinya pendapatan dari luar negeri naik dengan melemahnya rupiah. Tetapi tidak cukup besar jika dilihat dari data kuartal 2014. Pengaruh kurs nyatanya belum berpengaruh secara signifikan terhadap ekspor Indonesia.

Kenaikan APBN sebetulnya berbentuk rupiah bukan dolar. Statemen Menkeu di atas dirasa membiaskan makna. Sugiyanto menduga BI telah melakukan intervensi besar-besaran. “Saya khawatir BI mampu atau tidak mampu mengantisipasi itu? Karena kalau kita lihat datanya itu kurs jangka panjang sudah di atas 13.000 lebih. Harusnya sekarang sudah 13.000 lebih, itu sebetulnya sudah upaya intervensi, kalau tidak sudah naik jauh, ” kata dosen Fakultas Ekonomi Undip ini.

Dia menyarankan pemerintah lebih baik jujur atau tidak membuat pembiasan makna. Perkiraan skenario adalah pos-pos migas juga mungkin akan naik dengan diikuti pajak. Jika ekspor naik karena rupiah melemah berimbas pada penerimaan pajak yang besar pula.

“Tapi jangan lupa, di saat yang sama ada impor dan pembayaran bunga. Memang impor itu tidak mempengaruhi APBN. Artinya, melihatnya hanya parsial, yang memberi sign positif, inilah yang membuat rancu,” tuturnya.

Sugiyanto juga memberikan solusi jangka pendek di mana BI harus berjaga-jaga untuk intervensi selama masih mampu. Selain itu BI tidak menurunkan suku bunga terlebih dahulu. Penyelesaian tersebut ialah pilihan dilematis yang harus diambil guna mendorong angka rupiah. “Solusi jangka pendek tidak menarik. Tapi, kalau dalam jangka pendek suku bunga itu diturunkan bisa jadi direspon negatif,” katanya.

Menurut Sugiyanto pernyataan Menkeu tidaklah salah ataupun tidak lengkap. “Memang tidak salah, hanya ada informasi yang tidak disampaikan kepada publik,” tandasnya. (Yusuf Isyrin Hanggara)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.