Selasa, 18 Juni 19

Rumuskan RUU EBT, Ridwan Hisjam Blusukan ke Kampus-kampus

Rumuskan RUU EBT, Ridwan Hisjam Blusukan ke Kampus-kampus
* Diskusi Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Guest House, UB, Kota Malang, ini diikuti oleh sekitar 17 Perguruan Tinggi se-Malang Raya.

Malang, Obsessionnews.com – Komisi VII DPR RI bersama dengan tim bersama tim akademisi terus melalukan kajian mendalam mengenai potensi Indonesia menggunakan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Kali ini kajian mengenai EBT dilaksanakan Komisi VII DPR bersama peneliti Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Ridwan Hisjam menyampaikan, pihaknya kerap melakukan blusukan ke kampus-kampus untuk meminta masukan atau pendapat dari pakar energi tentang EBT. Masukan ini  penting dibutuhkan sebelum DPR merumuskan Rancangan Undang-Undang (RUU) EBT.

“Dari DPR kita sangat terbuka dan membutuhkan sekali masukan atau saran dari para peneliti energi kita di kampus-kampus untuk menyempurna RUU EBT. Di mana UU ini sangat dibutuhkan, oleh pengusaha atau investor yang ingin mengembangkan EBT,” kata Ridwan, Selasa (29/1/2019).

Diskusi RUU EBT yang berlangsung di Guest House, UB, Kota Malang, ini diikuti oleh sekitar 17 perguruan tinggi se-Malang Raya. Ridwan menyampaikan UU ini terdiri atas 14 bab dan 45. Komisi VII DPR RI juga ada yang menemui peneliti di Universitas Hasanudin dan ke Universitas Sumatera Utara.

RUU EBT adalah inisiatif dewan terkait mengatasi krisis sumber energi fosil. Politisi senior Partai Golkar ini berharap RUU ini bisa menjadi payung hukum untuk EBT, karena sudah banyak pengusaha kecil mulai bergerak mengembangkan sektor ini.

“Awalnya harga EBT pasti mahal. Namun lama kelamaan akan murah. Tapi untuk itu perlu campur tangan pemerintah,” terang Ridwan yang kembali maju mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari Dapil Malang Raya ini.

Sementara itu, Rektor UB Malang, Prof Dr Nuhfil Hanani AR, menyampaikan bahwa penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia, sudah mulai menjadi topik penelitian. Sebab, menurut data bahan bakar fossil ini akan bertahan 70 tahun lagi.

“RUU ini penting. Malah saya kira agak terlambat membahasnya,” katanya.

Nuhfil mengatakan pada kesempatan ini, UB menawarkan opsi pengembangan energi terbarukan dari geotermal, gelombang laut, angin, hingga angin.

“Itu yang baru diteliti dan bisa dimanfaatkan. Banyak potensi lagi yang masih belum tersentuh,” tambahnya.

Diskusi tentang RUU Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang digelar Komisi VII DPR RI dan UB, ini memaparkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti UB Malang yakni Pakar Hukum UB Aan Eko Widiarto, Dosen FMIPA UB Sukir Maryanto, dan Dosen Teknik Elektro bidang Energi Sholeh Hadi Pramono. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.