Selasa, 30 November 21

Ruhut: Akbar Faisal Barisan Sakit Hati

Ruhut: Akbar Faisal Barisan Sakit Hati

‎Jakarta, Obsessionnews – Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul menilai, sikap yang diambil oleh politisi Partai Nasdem Akbar Faisal terkait kritiknya terhadap Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan bagian dari ungkapan sakit hati, lantaran dirinya adalah salah satu relawan Presiden Joko Widodo yang tidak diberi jabatan.

Ahhh… kalau kata saya sih, Akbar ini sama dengan mereka barisan sakit hati,” ujar Ruhut di DPR, Selasa (7/4/2015).

Sebagai sesama teman anggota DPR yang bertugas di Komisi III DPR RI, Ruhut mengaku sedih dengan langkah politik yang diambil oleh Akbar. Menurutnya, cara bermain Akbar terlalu terburu-buru dan terlalu menampakkan jika dirinya sakit hati lantaran tidak diberi jabatan oleh Presiden Jokowi. ‎Ruhut juga merasa Luhut tidak sejelek yang ia sangka.

“Pak Akbar tolonglah dijaga kualitasnya, saya sedih mendengarnya, lagi pula Pak Luhut tidak seburuk yang ia katakan,” terangnya.

Bagi Ruhut wajarlah,‎ Luhut mendapat jabatan sebagai Kepala Staf Presiden. Sebab, mantan Jenderal TNI ini sudah lama punya hubungan dekat dengan Presiden Jokowi dan juga Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Sementara Akbar, disebut oleh Ruhut baru kenal sejak Jokowi jadi Gubernur, dan kemudian menjadi relawan.

‎”Sabar dulu, Pak Luhut ini dah kenal lama dengan Presiden, dia bukan orang kemarin sore,” cetusnya.

Sebelumnya, Akbar yang juga mantan anggota tim transisi Jokowi-JK mengkritik Luhut Panjaitan yang berencana mengangkat beberapa alumnus Universitas Harvard di dalam Kantor Staf Kepresidenan. ‎Kritikan itu disampaikan Akbar melalui surat, ia meminta orang dekat Jokowi untuk menahan diri memberikan masukan kepada Presiden.

Akbar mengaku, surat yang ditulis di samartpohne -nya sebenarnya ditujukan ke kepada Yanuar Nugroho, salah satu dari lima deputi Kepala Staf Kepresidenan, yang mulai bekerja di Gedung III Sekretariat Negara, pada awal tahun ini.

Berikut kutipan lengkap pernyataan Akbar yang ditulis pada Sabtu (4/4/2015), dan tersebar luar dikalangan wartawan.

Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya “tak ada” dalam perencanaan kami di Tim Transisi dulu. Sekadar menginfokan ke Anda, Mas, bahwa Tim Transisi itu dibentuk Pak Jokowi untuk merancang pemerintahan yang akan dipimpinnya.

Tapi saya sungguh tak nyaman mempersoalkan itu sebab akan dituding macam-macam.

Misalnya, “Akh…karena AF (Akbar Faisal) kecewa tidak jadi menteri dan lain lain. Dan masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya pertanyakan.

Termasuk surat presiden ke DPR tentang Komjen (Pol) Budi Gunawan yang disusul kontroversi lainnya.

Ke mana para pemikir Tata Negara di sekitar Pak Jokowi sekarang? Yang kudengar selanjutnya malah pengangkatan Refly Harun sebagai Komisaris Utama Jasa Marga.

Mungkin Bu Rini anggap Refly sangat paham soal tol karena setiap hari melalui macet–persoalan yang Pak Jokowi katakan dulu akan lebih mudah menyelesaikannya sebagai presiden ketimbang sebagai Gubernur DKI–dari rumahnya (Refly) di Buaran sana.

Mas Yanuar, sebagai anggota DPR pendukung pemerintah dan Insya Allah punya peran (meski sangat kecil) terhadap kemenangan Jokowi-JK, saya ingin kalian di Istana fokus pada tugas yang lebih membumi.

Misalnya, jangan biarkan kami di DPR dihajar bagai sand zak (karung latihan tinju) oleh orang-orang Prabowo dalam kasus kebaikan tunjangan mobil pejabat, misalnya, hanya karena kalian tak mampu berkomunikasi dengan kami di DPR (atawa parpol pendukung).

Ini juga satu soal sendiri karena terbaca dengan kuat kalau kalian di ring 1 presiden kini sukses melakukan deparpolisasi dan atau gagal meyakinkan publik akan seluruh keputusan-keputusan presiden/pemerintah.

Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard. Saya merasa mengenal beberapa orang di Istana Negara tempat Anda berkantor sekarang. Entah apa mereka (masih) mengenal saya sekarang. Tapi saya nggak memikirkannya.

Saya hanya minta kalian disana berhenti melakukan hal yang tak perlu seperti deklarasi soal Harvard yang akan masuk Istana itu.

Sekali lagi, saya sebenarnya tak perlu menulis panjang lebar seperti ini hanya untuk menanggapi soal Harvard ini.

Tapi saya harus lakukan sebagai berikut; menurutku kalian makin jauh dari seluruh rencana awal kita. Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu saya pahami dan terlibat di dalamnya.

Saya sekuat mungkin berusaha menghindari kalimat-kalimat keras untuk memahami apa yang kalian lakukan di sana. Tapi sepak terjang kantor Mas Yanuar bernama Kastaf Kepresidenan itu makin jauh.

Terakhir, saya sarankan agar menahan diri dalam memberikan masukan ke presiden. Jangan racuni pikiran presiden yang polos ini dengan permainan yang dulu kami hindarkan beliau lakukan meski kadang gregetan lihat langkah-langkah tim Prahara.

Terkhusus dengan Pak Jusuf Kalla (JK), saya minta kalian berikan rasa hormat.

Tanggal 9 Juli lalu, 53% penduduk Indonesia memilih Jokowi-JK dan bukan Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan.

Apalagi Anda-Anda yang bergabung belakangan.

Selamat berakhir pekan.

Jakarta, Sabtu, 4 April 2015

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.