Jumat, 5 Juni 20

RR Sindir Analisis ‘Krisis Ekonomi’ Ala Staf Presiden

RR Sindir Analisis ‘Krisis Ekonomi’ Ala Staf Presiden

Jakarta – Ekonom senior Rizal Ramli (RR) mengoreksi analisa Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan soal krisis ekonomi di Indonesia. Rizal menilai ada yang keliru dalam analisa tersebut dan bahkan menyesatkan dengan membandingkan indikator-indikator setelah krisis 1998 dan pre-krisis 2018.

“Ini konyol dan menyesatkan, Mas @moeldoko, Analisa ABS (Asal Bapak Senang) begini yang nembuat kita mudah terlena dan selalu telat-langkah,” ungkap RR melalui akun Twitternnya @RamliRizal, Kamis (6/9/2018).

Sebab, bila dibandingkan dengan dari indikator-indikator ekonomi Indonesia di masa menjelang Krisis Moneter 1997-1998 dengan masa sekarang, kuartal ke-II tahun 2018, ternyata malah situasinya cukup mengkhawatirkan.

 

Perbandingan Indikator-Indikator Menjelang Krisis Moneter 1997-1998 dengan Saat Ini

 

Kenyataannya dapat dilihat indikator utama, yaitu transaksi berjalan (current account), menunjukkan bahwa kondisi tahun 1997 masih lebih baik dari tahun 2018. Pada tahun 1997 tercatat defisit transaksi berjalan sebesar US$ -4,89 miliar. Nilai tersebut lebih kecil dari defisit transaksi berjalan tahun 2018, yang sebesar US$ -8 miliar. Secara persentase terhadap GDP (Gross Domestic Product), defisit transaksi berjalan tahun 1997 sebesar -2,2% dari GDP, juga lebih kecil dari tahun 2018 yang sebesar -3,04% dari GDP.

Di indikator berikutnya, neraca perdagangan, malah dapat dilihat bahwa ternyata tahun 1997 terjadi surplus sebesar US$ 410 juta. Berbanding terbalik dari tahun 2018 yang neraca perdagangan (kumulatif Januari-Juli 2018) mencatat defisit sebesar US$ -3,02 miliar.

Beberapa indikator , seperti rasio cadangan devisa dan inflasi, pada tahun 1997 memang lebih buruk dari 2018. Tercatat cadangan devisa tahun 1997 hanya sebesar 2,9 bulan impor, lebih buruk dari cadangan devisa tahun 2018 yang mencapai 6,9 bulan impor. Inflasi tahun 1997 sebesar 6,2% juga lebih tinggi dari tahun 2018 yang hanya sebesar 3,2%.

Sementara, indikator-indikator lainnya nyaris setara. Debt service ratio (DSR) tahun 1997 sebesar 30% hanya sedikit lebih tinggi dari tahun 2018 sebesar 26,2%. Rasio investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) terhadap GDP di tahun 1997 sebesar 1,48%, sementara tahun 2018 sebesar 1,5%. Dan yang terakhir, peringkat surat utang (bond) dari lembaga internasional semacam Standard & Poor’s pada tahun 1997 dan 2018 ternyata sama-sama BBB-.

Seperti dilansir indonesiakita.co, sebelumnya Yanuar mencoba menjelaskan melalui data yang sudah dihimpun tim KSP untuk menguak fakta tentang kondisi keuangan Indonesia saat ini dengan kondisi keuangan Indonesia pada tahun 1998.

“Atas pertanyaan tentang melemahnya rupiah terhadap dollar, saya ingin menyampaikan perbandingan situasi 1998 vs 2018 yg disiapkan teman-teman @kspgoid. Semoga bisa menjawab (sebagian) pertanyaan tersebut,” cuit @Yanuarnugroho pada Selasa malam (4/9/2018) lalu.

Adapun pada grafis yang diuploadnya, memperlihatkan bahwa perbandingan dua situasi tersebut. Misalnya saja pada fluktuasi dolar terhadap rupiah antara tahun 1997-1998 dengan kondisi saat ini jauh berbeda. Pada tahun 1998, rupiah sangat terlihat kontras fluktuasinya, dimana sempat ada dipuncak tertinggi namun kemudian jatuh. Sedangkan saat ini antara tahun 2017 hingga 2018 fluktuasi rupiah tidak terlalu kontras. Ini membuktikan nilai kenaikannya pun tidak terlalu berarti.

 

Analisa ‘Krisis Ekonopmi Indonesia’ ala Kepala Staf Kepresidenan (KSP)

.

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini pun dapat dibilang stabil. Salah satu faktornya karena saat ini Indonesia sudah memiliki cadangan devisa yang cukup yakni 118,3 Miliar dolar AS. Berbeda jauh dari tahun 1998 yang hanya 23,61 Miliar dolar AS.

Selain itu, jika melihat dari tingkat utang Indonesia saat ini beberapa lembaga internasional memberikan peringkat Investement Grade yang artinya cukup aman dan baik dalam hal pengelolaan utang. Jauh berbeda dari tahun 1998 yang berpredikat Junk. Terpenting saat ini bertumbuhan ekonomi pun terus ke arah yang positif yakni di atas 5 persen. Jauh dari kondisi 1998 yang bahkan minus 13 persen.

Terlihat bagaimana Yanuar Nugroho berusaha membandingkan indikator saat krisis 1998 dengan indikator menjelang krisis sekarang 2018. Karena menurut Rizal Ramli, yang seharusnya dibandingkan adalah sesama indikator menjelang krisis, yaitu tahun 1997 dan 2018. (Red)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.