Jumat, 27 Mei 22

Rizieq dan Wiranto Punya Komitmen Kebangsaan yang Sama

Rizieq dan Wiranto Punya Komitmen Kebangsaan yang Sama
* Menko Polhukam Wiranto mengadakan pertemuan dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dan para ulama di rumah dinasnya, Jalan Denpasar, Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2017).

Jakarta, Obsessionnews.com – Pertemuan antara Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dengan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menjadi momen berharga bagi kedua tokoh. Sebab, persahabatan mereka ternyata sudah terjalin sejak 1998.

Habib Rizieq diterima dengan hangat oleh Wiranto di rumah dinasnya, Jalan Denpasar Nomor C3/9, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2017) sore. Sembari menikmati teh hangat dan kue kering, kedua tokoh ini terlihat sangat akrab, seolah keluar dari kesan bahwa pemerintah selama ini memusuhi ulama dan umat Islam.

Apa yang dibicarakan oleh kedua tokoh ini memang tidak lepas dari hubungan ulama dan pemerintah. Pasca meledaknya kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, disertai dengan gerakan jutaan massa ‎dari umat muslim menuntut penegakan hukum.

Wiranto sangat memahami ‎sikap tokoh ulama terhadap pemerintah Indonesia hanya sebagian ungkapan ada keinginan umat Islam untuk bersatu mewujudkan cita-cita nasional. ‎”Tapi banyak yang memberikan satu pemahaman yang salah, sehingga ada miskomunikasi antara pemerintah dengan para tokoh agama ini,” ujar Wiranto.

Demikian juga Wiranto meyakinkan kepada ulama‎ bahwa hukum di Indonesia akan ditegakkan dengan adil, tidak direkayasa dan tidak dibuat-buat. Karena saat ini pemerintah sedang membangun kebaikan untuk masyarakat dalam ketertiban dan keamanan. ‎”Hukum akan ditegakkan secara proporsional,” katanya.

Rizieq sendiri menyatakan dirinya senang bisa bertemu kembali dengan Wiranto setelah sekian lamanya. Menurutnya,  pertemuan ini banyak memberikan manfaat bagi umat Islam dan Indonesia. “Makanya kalau belakangan komunikasi tersumbat dan terjadi kesalahpahaman, saya lihat pertemuan ini luar biasa, bisa mencairkan kebekuan,” katanya.

Dia menegaskan FPI memiliki komitmen yang kuat tentang kebangsaan dan kenegaraan bersama umat muslim yang lain. ‎ “Kami terkejut FPI disebut anti Pancasila, anti kebangsaan, dan sebagainya. Tetapi Pak Wiranto melihat pandangan kami tentang NRI tidak pernah berubah. Mudah-mudahan komunikasi ini semakin baik agar tidak terjadi lagi misunderstanding,” katanya.

FPI didirikan pada 17 Agustus 1998 di ‎halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah habaib, ulama, mubaligh dan aktivis muslim, serta disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabe‎k. Habib Rizieq adalah imam besarnya.

‎Pendirian organisasi ini hanya empat bulan setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, karena pada saat pemerintahan Orde Baru Soeharto tidak mentoleransi tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun. 1998 menjadi massa kelam Indonesia, di mana terjadi kerusuhan besar-besaran dari mahasiswa dan masyarakat melawan Soeharto.

Pada periode 1998-1999 Wiranto menjabat sebagai Panglima ABRI . Jadi wajar bila Wiranto dan Rizieq kenal sejak lama. Tahun 1998 Rizieq menjadi pelopor dan penggagas berdirinya FPI, sementara Wiranto kerap berhadapan dengan ulama dan tokoh masyarakat. ‎

‎Kedatangan Rizieq ke rumah Wiranto tidak sendirian. Ia ditemani oleh Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bachtiar Nasir. Selain berbicara mengenai komitmen kebangsaan, mereka juga membicarakan mengenai rencana aksi damai 11 Februari. Wiranto mempersilakan GNPF MUI  untuk menggelar aksi. ‎

“Kami dari pemerintah yang berhubungan dengan politik, hukum dan keamanan, silakan saja kalau ada aktivitas tapi jangan sampai ada pelanggaran hukum. Ikuti aturan yang ada,” katanya.

Demi memastikan bahwa aksi tidak ditunggangi oleh kepentingan politik mana pun. Rizieq mengatakan, lokasi aksi akan dipindah dari Monas ke Masjid Istiqlal. ‎ “Para ulama, tokoh ulama yang ikuti aksi itu akhirnya bersepakat untuk memindahkan lokasi aksi yang semula dari monas ke HI menjadi dzikir dan tausiyah nasional yang dilaksanakan di masjid Istiqlal,” jelasnya. ‎

Sementara itu Bachtiar Nasir mengatakan, tidak akan ada aksi long march pada tanggal 11 Februari. “Tidak akan ada long march. Jika ada maka itu di luar agenda GNPF dan kita menyerahkan itu pada aparat,” katanya.‎‎ (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.