Kamis, 21 Oktober 21

Ridwan Hisjam Dorong BUMN Harus Bisa Bangun Smelter untuk Hilirisasi Tambang Mineral

Ridwan Hisjam Dorong BUMN Harus Bisa Bangun Smelter untuk Hilirisasi Tambang Mineral
* Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam. (Foto: dok. pribadi)

Gresik, Obsessionnews.com – Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam terus mendorong agar pemerintah bisa membangun pabrik smelter yang dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk kepentingan hilirisasi tambang mineral. Ia menyebut percepatan pembangunan smelter atau proses peleburan hasil tambang adalah kebutuhan sebuah negara yang harus terealisasikan.

Baca juga:

Banyak Bencana, Ridwan Hisjam Sudah Ingatkan Pentingnya UU Geologi

Ridwan Hisjam Minta 100 Persen Saham PGN Dibeli Pertamina

Pasalnya smelter hasil tambang berfungsi meningkatkan kandungan logam seperti timah, nikel, tembaga, emas, dan perak hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk akhir. Dengan begitu nilai jual hasil tambang akan lebih tinggi dibanding tambang mentah.

Ridwan mengungkapkan, Indonesia belum mempunyai pabrik smelter yang bisa digunakan untuk peleburan tambang. Pabrik smelter milik Freeport yang dibangun di Gresik, Jawa Timur, sampai saat ini tahapannya baru enam persen. Indonesia memiliki saham 51 persen atas kepemilikan Freeport.

“Kalau saya melihat UU Minerba sejak pertama dibuat sampai ada berapa kali perubahan sampai terakhir di 2020 ini yang baru disahkan, rupanya para perusahaan tambang ini susah membuat pabrik smelter karena nilanya sangat besar,” ujar Ridwan saat melakukan kujungan kerja Komisi VII DPR ke PT Smelting, di Gresik, perusahaan smelter yang sahamnya mayoritas dimiliki Jepang, Kamis (28/1/2021).

Ridwan menuturkan, pendirian smelter Freeport Indonesia di Gresik untuk 2 juta ton saja harus membutuhkan Rp53 triliun. Nilai yang sangat besar, sehingga sulit bagi para perusahaan tambang untuk bisa membangun smelter. Meski begitu Ridwan yakin pemerintah Indonesia mampu mendirikan smelter yang dikelola BUMN.

“Saya sudah beberapa kali mengatakan smelter ini harus dimiliki atau dibuat oleh BUMN. Karena ini tidak mungkin dibebankan oleh perusahaan tambang. Perusahaan tambang tidak mau menanggung itu karena nilainya besar,” jelasnya.

Ia menambahkan, Indonesia harus mampu membangun smelter yang besar untuk pengelolaan hasil tambang di Gresik.

“Nanti semua perusahaan tambang yang ada di Papua, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku semua diarahkan ke sini. Smelter ini jadi milik bersama, milik BUMN. Ini baru penyelesaian,” tandasnya.

Menurutnya, selama ini hasil tambang yang diangkut dari bumi Nusantara dibawa ke luar untuk dikelola kembali menjadi bahan jadi. Posisi ini sangat merugikan Indonesia, karena tanpa smelter maka tambang yang belum dikelola akan dijual lebih murah. Kalaupun Indonesia mau beli produk yang sudah jadi harganya menjadi lebih tinggi.

“Jadi smelter ini penting dalam rangka meningkatkan nilai dari hasil tambang itu sendiri. Jangan kita jual murah, lalu beli lagi menjadi mahal karena kita tidak punya pabrik untuk mengelola hasil tambang menjadi lebih bernilai,” terangnya.

Politisi senior Partai Golkar ini melihat memang selama ini ada kesan bahwa pembangunan smelter seolah-olah dipersulit. Seperti ada permainan antara pengambil kebijakan dengan para pengusaha kelas kakap ini, sehingga Indonesia tidak punya kemandirian untuk mengelola hasil tambang sendiri.

“Kalau kita mau serius untuk melakukan hilirisasi atau peningkatan hasil tambang dengan membuat smelter, saya yakin Rp53 triliun BUMN kita sangat mampu,” tegasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.