Sabtu, 26 September 20

Ribuan Warga Perancis Lakukan Demo Anti Trump

Ribuan Warga Perancis Lakukan Demo Anti Trump
* Para pengujuk rasa di Paris memprotes kebijakan-kebijakan Trump dan meneriakkan dukungan atas hak-hak perempuan dan kelompok minoritas.

Paris – Ribuan warga Perancis turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi untuk memprotes kebijakan-kebijakan Donald Trump, Presiden baru Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir ParsToday, kantor berita IRNA (22/1) melaporkan, dalam demonstrasi yang digelar Sabtu (20/1), di beberapa kota Perancis termasuk Paris tersebut. Para pengujuk rasa memprotes kebijakan-kebijakan Trump dan meneriakkan dukungan atas hak-hak perempuan dan kelompok minoritas.

Di Paris saja jumlah demonstran yang memprotes kebijakan-kebijakan kontroversial Donald Trump mencapai 7.000 orang.

Sebelumnya, Presiden Perancis, Francois Hollande juga memprotes kebijakan-kebijakan Trump dan menyebutnya bisa mengancam lapangan pekerjaan dan ekonomi.

Donald Trump, yang dilantik secara resmi sebagai Presiden ke-45 Amerika pada 20 Januari 2017 itu, di masa kampanyenya dan setelah memenangkan pilpres di negara itu, kerap mengeluarkan statemen-statemen kontroversial yang memicu kekhawatiran pihak-pihak dalam dan luar negeri Amerika.

Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump adalah sosok yang penuh kontroversial dan benar-benar berbeda dengan para pendahulunya. Perbedaan ini tidak hanya dalam program kerja dan slogan, tapi dalam karakter personal dan perilaku nyentriknya.

Dengan alasan ini, sulit untuk menganalisa dan memprediksi kebijakan domestik dan luar negeri Amerika Serikat pada masa pemerintahan Trump. Ia adalah presiden pertama dalam sejarah Amerika yang menang pemilu karena menjual populisme, bukan semata-mata karena program dan strategi.

Secara umum dapat dikatakan, kebijakan yang diimpikan Trump benar-benar tidak sejalan dengan pemikiran kubu neo-konservatif dan bahkan bisa dibilang bertentangan dengan kelompok ini.

Program dan kebijakan yang ditawarkan Trump selama masa kampanye lebih dekat ke arah nasionalisme agresif dan populis yang kasar, di mana tidak punya sejarah panjang di kancah kebijakan domestik Amerika terutama pasca Perang Dunia II. Pendekatan ini tidak begitu sejalan dengan ekonomi neo-liberal dan global Amerika serta kebijakan hegemoni negara itu.

AS saat ini menganut prinsip ekonomi liberal dan neo-liberal seperti, perdagangan bebas, privatisasi ekonomi dan kapitalis, penghapusan sekat-sekat perdagangan, dan terlibat aktif dalam perdagangan global. Jadi, rencana Trump membangun tembok pembatas di perbatasan AS dengan Meksiko secara prinsip bertentangan dengan sistem liberalisme mereka. Begitu juga dengan kebijakan proteksionis Trump yang ingin mencegah masuknya produk-produk dari Cina dan negara-negara lain.

Tentu akan muncul penentangan besar-besaran oleh para pebisnis jika rencana tersebut jadi diterapkan oleh presiden baru AS ini.

Tekad Trump untuk mengembalikan investasi dan perusahaan dari Cina dan negara-negara Asia Timur secara praktis akan gagal, karena perusahaan perusahaan swasta memiliki kebebasan penuh dan terbebas dari intervensi pemerintah dalam sistem perekonomian AS.

Dia juga akan menemui tantangan berat untuk mengurangi angka pengangguran di dalam negeri. Jumlah pengangguran di AS terus naik dan hanya mencatat sedikit kemajuan di pasar tenaga kerja selama empat dekade terakhir. Jumlah orang-orang yang menggunakan asuransi pengangguran di AS juga naik dan fenomena ini akan membebani anggaran pemerintah serta menciptakan kerugian di sektor ekonomi dan sosial.

Kebijakan proteksionis Trump akan membuat Amerika terpinggirkan dalam perdagangan internasional. Kelesuan dalam perdagangan dapat memperlemah ekonomi Amerika.

Di sektor kebijakan dalam negeri, AS sekarang menghadapi ketegangan sosial dan politik yang mungkin terbesar dalam sejarahnya. Sikap rasis Trump terhadap minoritas etnis dan agama telah memperlebar gesekan sosial di masyarakat dan jika sikap ini terus dipertahankan, Trump berpotensi menghadapi krisis legitimasi di tengah penentangnya.

Slogan-slogan kampanye Trump secara serius telah memperkuat gesekan di masyarakat Amerika. Jika ia tidak mengubah pendekatannya dan memperhatikan realitas multikulturalisme di negara Paman Sam, pemerintahan Trump kemungkinan akan menemui banyak kendala dan harus bersiap untuk sebuah pertarungan yang berat dalam pemilu mendatang. (*/Red)

Baca Juga: Tolak Pelantikan Trump, Jutaan Wanita di Dunia Turun ke Jalan

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.