Kamis, 26 Mei 22

Rhenald Kasali Luncurkan Buku Change Leadership Non-Finito

Rhenald Kasali Luncurkan Buku Change Leadership Non-Finito
* (Dari kiri ke kanan): Rhenald Kasali (Rumah Perubahan), Emil Elestianto Dardak (Bupati Trenggalek), Awang Faroek Ishak (Gubernur Kaltim), dan Rudi Ridwan (Mizan) saat peluncuran buku Change Leadership: Non-Finito, Selasa (12/4/2016).

Jakarta, Obsessionnews – Direktur Utama PT Rumah Perubahan, Prof Rhenald Kasali PhD, meluncurkan buku terbarunya ‘Change Leadership: Non-Finito’ di Segara Room, Hotel Dharmawangsa Jakarta, Selasa malam (12/4/2016).

Hadir dalam peluncuran tersebut sejumlah narasumber, diantaranya Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Dr Awang Faroek Ishak, Bupati Trenggalek Prof Emil Elestianto Dardak, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Prof Anwar Nasution PhD, Ketua Program Pascasarjana Ketahanan Nasional UI Prof Dr Wan Usman MSc, dan Ketua KPPU Dr Syarkawi Rauf ME.

Menurut Rhenald, buku yang diterbitkan Mizan tersebut terinspirasi dari pengalamannya mengunjungi kota Florence, Italia, di akhir Juli 2015. Di Florence, Rhenald tertarik dengan patung karya Michael Angelo, The Naked Slave, yang terdiri dari 4 patung setinggi 2,5 meter dan dibuat dalam keadaan belum selesai (non finito).

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak dan Dirut PT Perubahan Rhenald Kasali dalam peluncuran buku Change Leadership: Non-Finito, Selasa (12/4/2016).
Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak dan Dirut PT Perubahan Rhenald Kasali dalam peluncuran buku Change Leadership: Non-Finito, Selasa (12/4/2016).

Rhenald menilai, pekerjaan non finito itu sejatinya bukanlah representasi dari kegagalan. Pasalnya, karya Michael Angelo justru meraih pujian dan bangga untuk memajangnya. Hal itu membuktikan bahwa melakukan upaya perubahan tidak mesti harus selesai (non finito), karena pada realitasnya para pelaku perubahan selalu akan berhadapan dengan ketidakpastian.

“Pemimpin-pemimpin perubahan berkarya dalam ketidakpastian. Banyak hal yang tidak pasti sehingga mereka sulit mewujudkan rencana, visi, dan impian mereka. Padahal, pemimpin perubahan (change leader) adalah pemimpin dengan lompatan visi yang panjang, tetapi masa jabatan mereka tak cukup untuk menyelesaikan visinya,” ujar Rhenald.

Lebih lanjut Rhenald menyebutkan, terlepas dari keberhasilan dan kegagalan pemimpin, perubahan itu selalu diawali oleh sosok. Di antara sosok pemimpin yang diceritakan oleh Rhenald dalam bukunya tersebut adalah Awang Faroek Ishak.

Menurutnya, Gubernur Kaltim tersebut memiliki pandangan visioner dan kerap melakukan lompatan pemikiran yang jauh ke depan. Faktanya, gubernur Kalimantan Timur selama dua periode tersebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi di Kaltim dengan melanjutkan pembangunan jalan tol yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda yang sempat tertunda selama 13 tahun. Bahkan akses pembangunan diperpanjang hingga Bontang, Sangatta, dan Maloy.

“Pak Awang sukses mengajak rakyatnya melakukan tantangan-tantangan adaptif yang disampaikan melalui rembuk rakyat selama beberapa kali. Beliau juga melakukan apa yang secara akademis sering disebut sebagai connecting the dots,” tegas Rhenald.

Sementara itu, Awang Faroek yang mendampingi Rhenald menyebutkan, dirinya telah memberikan banyak beasiswa pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya warganya.

“Saya memiliki program beasiswa untuk 400 ribu anak Kalimantan Timur yang akan terus bergulir hingga tahun 2018. Beasiswa itu berlaku untuk semua tingkatan hingga S3,” jelas Awang.

Dan saat ini, imbuh Awang, dirinya memiliki rencana untuk membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang nantinya akan diisi oleh tenaga-tenaga terpelajar dari masyarakat Kaltim.

Awang mengaku, sepanjang dirinya menjadi kepala daerah, dirinya selalu melakukan perubahan. Hal itu dilakukan, selain ingin menyejahterakan rakyat Kaltim, ia pun tak ingin membodohi rakyat yang telah memilihnya.

“Sebagai pemimpin kalau saya mau hidup enak, mudah. Saya cukup merancang program populis. Pasti rakyat senang. Dan saya tidak pusing. Tapi jika saya melakukan itu, saya akan membodohi mereka yang telah memilih saya sebagai pemimpin. Menghadapi perubahan, jangan melawan hati nurani. Harus dibarengi dengan mental yang kuat. Perubahan itu harus dilakukan berdasarkan empati agar tidak menimbulkan gesekan yang luar biasa.  Saya bersyukur gagasan saya bisa dilanjutkan di era Jokowi,” pungkasnya. (Fath@imam_fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.