Rabu, 12 Agustus 20

Rezim Myanmar Bebaskan Dua Wartawan dari Penjara

Rezim Myanmar Bebaskan Dua Wartawan dari Penjara
* Wa Lone dan Kya Soe Oo dihukum berdasarkan Undang-Undang Kerahasiaan Resmi dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada September lalu. (BBC)

Dua wartawan kantor berita Reuters yang dipenjara di Myanmar karena laporan mereka tentang krisis Rohingya, ternyata baru dibebaskan oleh rezim Myanmar setelah 500 hari mendekam dalam penjara.

Wa Lone, 33 tahun, dan Kyaw Soe Oo, 29 tahun, dibebaskan setelah ada amnesti dari Presiden Myanmar. Mereka sebelumnya menghabiskan lebih dari 500 hari di penjara di pinggiran Kota Yangon. Dua wartawan itu ditahan karena menyelidiki pembunuhan ribuan muslim Rohingya di negara mayoritas Budha tersebut.

Anehnya, kedua wartawan yang mestinya dilindungi kekebasan pers tersebut malah dihukum berdasarkan Undang-Undang Kerahasiaan Resmi dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada September lalu.

Pemenjaraan atas dua jurnalis itu dianggap sebagai serangan terhadap kebebasan pers dan menimbulkan pertanyaan tentang praktik demokrasi Myanmar.

Saat dia meninggalkan penjara, Wa Lone mengatakan kepada wartawan BBC Nick Beake bahwa dia tidak akan pernah berhenti menjadi jurnalis.

“Saya sangat senang dan gembira melihat keluarga dan kolega saya. Saya tidak sabar untuk segera ke ruangan redaksi (newsroom) saya,” katanya kepada wartawan, seperti dilansir BBC Indonesia, Selasa (7/5/2019).

Keduanya memiliki keluarga dengan anak yang masih kecil. Istri Wa Lone, Pan Ei Mon, baru mengetahui bahwa dia hamil setelah suaminya ditangkap. Wa Lone hanya melihat putrinya beberapa kali selama kunjungannya ke penjara.

Mereka dibebaskan bersama dengan ribuan tahanan lainnya sebagai bagian dari amnesti massal yang terjadi setiap tahun saat Tahun baru Myanmar.

Pemimpin Redaksi kantor berita Reuters mengatakan dua jurnalis itu – yang bulan lalu memenangkan Hadiah Pulitzer yang bergengsi atas laporan mereka – telah menjadi “simbol” kebebasan pers.

“Kami sangat senang Myanmar telah membebaskan wartawan pemberani kami,” kata Stephen J Adler dalam sebuah pernyataan.

Para pria Rohingya ini yang menjadi subyek liputan dua wartawan Reuters tersebut. (BBC)

Ada skenario kacau ketika para jurnalis itu dibebaskan. Mereka dipenjara karena laporan hasil liputan mereka. Masalah ini menjadi bersifat pribadi bagi banyak wartawan Burma. Mereka khawatir mereka juga bisa berakhir di penjara jika pihak berwenang tidak menyukai apa yang mereka tulis.

Kedua jurnalis Reuters itu kini mungkin sudah bebas, tetapi pemerintah Aung San Suu Kyi telah mengawasi mereka selama mendekam di penjara selama 18 bulan.

Saat itu, pihak berwenang menangkap banyak jurnalis dan aktivis yang dituduh menimbulkan kekhawatiran serius tentang arah masa depan negara itu.

Apa yang mereka selidiki?
Dua jurnalis itu adalah warga negara Myanmar yang bekerja untuk kantor berita internasional, Reuters. Mereka mengumpulkan bukti-bukti tentang dugaan eksekusi 10 pria Rohingya oleh Tentara Myanmar di Desa Inn Din di Rakhine utara pada September 2007.

Mereka ditangkap sebelum laporan jurnalistik mereka dipublikasikan, setelah menerima beberapa dokumen oleh dua anggota polisi yang mereka temui di sebuah restoran. Seorang saksi polisi memberikan kesaksian selama persidangan bahwa pertemuan di restoran itu adalah persiapan untuk menjebak para jurnalis.

Laporan akhir – kolaborasi dengan wartawan lain – dianggap luar biasa, karena mengumpulkan kesaksian dari berbagai pihak, termasuk sejumlah warga desa Buddha yang mengaku membunuh Muslim Rohingya dan membakar rumah mereka.

Laporan dari polisi juga secara langsung menyebut dugaan keterlibatan aparat militer. Otoritas Militer sebelumnya telah merilis penyelidikannya sendiri terhadap tuduhan kekerasan di Rakhine, dan menolak tuduhan melakukan kesalahan, walau ada banyak kesaksian dari para pengungsi Rohingya yang menggambarkan adanya kekejaman.

Sebelumnya, kantor berita Reuters membeberkan informasi terkait investigasi tentang dugaan pembunuhan massal terhadap Muslim Rohingya oleh tentara dan penduduk desa di Myanmar, yang disebut menjadi alasan penahanan kedua wartawannya.

Dikatakan oleh Reuters bahwa kedua wartawannya, Wa Lone dan Kyaw Seo Oo, menemukan bukti-bukti pembunuhan tanpa alasan yang sah terhadap 10 Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine tahun lalu.

Dua di antara 10 pria itu, kata Reuters, dibacok hingga meninggal dunia oleh warga setempat yang beragama Buddha, sedangkan sisanya ditembak oleh tentara.

Wa Lone dan Kyaw Seo Oo kini berada dalam tahanan dan menunggu persidangan dengan tuduhan melanggar Akta Rahasia Resmi.

Upaya untuk mengungkap dugaan pembunuhan itu diharapkan dapat menunjukkan bahwa kedua wartawan tersebut bertindak untuk kepentingan publik. (BBC/RED)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.