Sabtu, 24 Oktober 20

Rezim China Pisahkan Anak-anak Muslim dari Keluarga

Rezim China Pisahkan Anak-anak Muslim dari Keluarga
* Foto anak-anak muslim di Xinjiang, China. (BBC)

Rezim pemerintah China dengan sengaja memisahkan anak-anak Muslim di wilayah Xinjiang dari keluarga, agama, dan bahasa mereka, menurut penelitian baru.

Ketika ratusan ribu orang dewasa ditahan di kamp-kamp raksasa, pada saat bersamaan berlangsung proyek besar-besran untuk membangun sekolah-sekolah asrama.

Berdasarkan dokumen yang terbuka untuk publik, dan didukung oleh puluhan wawancara dengan keluarga di luar negeri, BBC telah mengumpulkan beberapa bukti yang paling komprehensif hingga saat ini tentang apa yang terjadi pada anak-anak di wilayah tersebut.

Catatan menunjukkan bahwa di satu perkampungan saja, lebih dari 400 anak kehilangan bukan hanya satu tetapi kedua orang tua mereka karena suatu bentuk pengasingan, baik di kamp atau di penjara.

Penilaian formal dilakukan untuk menentukan apakah anak-anak tersebut membutuhkan “perawatan terpusat”.

Bersamaan dengan upaya untuk mengubah identitas orang dewasa di Xinjiang, bukti menunjukkan bahwa ada upaya paralel untuk secara sistematis memisahkan anak-anak dari akarnya.

Karena pengawasan dan kontrol pemerintah yang ketat di Xinjiang, tempat jurnalis asing diikuti 24 jam sehari, mustahil untuk mengumpulkan testimoni di sana. Tapi mereka bisa ditemukan di Turki.

Di sebuah aula besar di Istanbul, puluhan orang mengantre untuk menceritakan kisah mereka, banyak dari mereka menggenggam foto anak-anak, semuanya kini hilang di kampung halaman mereka di Xinjiang.

“Saya tidak tahu siapa yang sekarang mengurus mereka,” kata seorang ibu, sambil menunjuk foto tiga anak perempuannya, “tidak ada kontak sama sekali.”

Seorang ibu yang lain, memeluk foto tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan, menyeka air matanya. “Saya dengar mereka telah dibawa ke panti asuhan,” ujarnya seperti dilansir BBC News Indonesia, Jumat (5/7).

Dalam 54 wawancara yang terpisah, dalam testimoni yang sarat dengan kecemasan dan kesedihan, orang tua dan kakek-nenek mengungkapkan detail tentang hilangnya lebih dari 90 anak di Xinjiang.

Mereka semua Uighur — bagian dari kelompok etnis terbesar dan mayoritas Muslim di Xinjiang yang telah sejak lama memiliki kaitan bahasa dan keyakinan dengan Turki.

Ribuan orang telah datang ke Turki untuk sekolah atau berbisnis, mengunjungi keluarga, atau menyelamatkan diri dari limit kelahiran China dan penindasan berbasis agama yang kian meningkat.

Tapi dalam tiga tahun terakhir, mereka mendapati diri mereka terperangkap setelah China mulai menahan ratusan ribu orang Uighur dan minoritas lainnya di kamp-kamp raksasa.

Otoritas China mengatakan orang-orang Uighur itu dididik di “pusat pelatihan vokasi” untuk melawan ekstremisme agama. Tapi bukti menunjukkan bahwa banyak yang ditahan hanya karena mengekspresikan keyakinan mereka – berdoa atau mengenakan kerudung – atau karena memiliki koneksi ke tempat-tempat di luar negeri seperti Turki.

Bagi para orang Uighur, pulang kampung berarti hampir pasti bakal ikut ditahan. Kontak telepon pun telah terputus — bahkan berbicara dengan kerabat di luar negeri sekarang terlalu berbahaya bagi mereka Xinjiang.
Seorang ayah yang istrinya ditahan di kampung halaman mengatakan kepada saya bahwa ia khawatir beberapa dari delapan anaknya sekarang berada dalam perawatan pemerintah China. “Saya rasa mereka sudah dibawa ke kamp-kamp pendidikan anak,” katanya.

Penelitian baru yang dilakukan atas permintaan BBC menyoroti apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak ini dan ribuan lainnya.

Dr Adrian Zenz adalah peneliti Jerman yang secara luas diakui sebagai orang yang mengungkap fakta seutuhnya tentang penahanan massal orang-orang dewasa Muslim China di Xinjiang. (*/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.