Sabtu, 1 Oktober 22

Revisi UU Penyiaran Harus Pertegas Larang Iklan Rokok

Jakarta, Obsessionnews.com – Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (KNRP) meminta Komisi I DPR RI di dalam melakukan revisi UU Penyiaran harus lebih memprioritaskan pada pelarangan iklan rokok. Salah satu alasannya karena media penyiaran adalah yang paling masif berpengaruh kepada anak-anak muda.

“Oleh sebab itu, larangan iklan rokok yang pertama itu di media penyiaran,” kata anggota koalisi Nina Mutmainnah Armando dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (3/7/2017).

Nina mengatakan pemberlakukan iklan rokok di Indonesia masih dalam pembatasan sebagaimana diatur dalam UU Penyiaran, sedangkan lebih dari 144 negara telah menghapus iklan rokok dari media penyiaran, demi melindungi anak-anak dan remaja dari paparan produk adiktif.

“Kalau kita punya niat baik harusnya tidak ada lagi iklan rokok di media penyiaran. Karena media penyiaran salah satu iklan rokok yang dilarang di banyak negara,” kata Nina.

Dalam draft RUU Penyiaran, Komisi 1 DPR RI memuat larangan iklan rokok, akan tetapi oleh Badan Legislasi (Baleg) justru larangan tersebut dihapus dan ironisnya Komisi 1 menyetujui rekomendasi Baleg. Nina melihat ada kesewenangan yang dilakukan Baleg karena bertindak seolah-olah seperti regulator.

“Kami tidak mau pengulangan itu terjadi. Dengan alasan apapun Komisi 1 seharusnya tidak menerima rekomendasi Baleg, tetapi tetap pada keputusannya dengan melarang iklan rokok,” pungkasnya.

Hendriyani, perwakilan dari Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), mengatakan iklan merupakan materi yang harus diwaspadai oleh anak. Daya persuasi iklan dapat cukup kuat mempengaruhi anak yang belum tumbuh daya kritisnya dalam mengkonsumsi isi siaran, tidak terkecuali iklan rokok.

Dalam kajian media dan anak, rokok umumnya dikelompokkan bersama-sama dengan konten alkohol dan narkoba serta masuk dalam kelompok isi media yang menimbulkan efek negatif atau antisoasial. Karena itu, menurut dia, iklan rokok dalam draft RUU penyiaran patut dipermasalahkan.

Dengan membuang larangan iklan rokok dari ketentuan pada draft RUU penyiaran, Hendriyani menilai Baleg sama sekali tidak memiliki kemauan baik untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak dan remaja, yang menjadi sasaran utama iklan dan promosi rokok selama ini.

Terlebih lagi menurut dia, Baleg membuat Indonesia menjadi negara yang tidak peduli pada kesehatan masyarakatnya dan hanya memikirkan kepentingan industri rokok yang akan terus beriklan dan mempromosikan rokok untuk mencari kaum muda sebagai perokok pengganti. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.