Selasa, 6 Desember 22

Retaknya Dwi Tunggal Ahok-Djarot

Retaknya Dwi Tunggal Ahok-Djarot
* Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat. (Foto: MI)

Jakarta, Obsessionnews – Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Jokowi di Istana negara, Senin, 19 November 2014. Ahok sebelumnya menduduki kursi Wakil Gubernur (Wagub) DKI. Ia kemudian naik kelas menjadi Gubernur, menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 2014.

Kursi Wagub yang ditinggalkan Ahok kemudian diisi oleh Djarot Saiful Hidayat, Ketua Bidang Keanggotan dan Organisasi PDI-P. Djarot salah satu nama yang disorkan Ahok kepada Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Ahok melantik Djarot pada Desember 2014.

Ahok merasa cocok bekerja sama dengan Djarot. Oleh karena itu, Ahok ingin kembali berduet dengan mantan Wali Kota Blitar tersebut pada Pilkada DKI 2017 melalui jalur independen. Namun, Ahok bertepuk sebelah tangan. Menurut pengakuan Ahok, PDI-P mau mendukung dirinya, tapi tidak mau mendukung relawan Teman Ahok. Ini artinya PDI-P menginginkan Ahok maju lewat jalur partai jika mau menggandeng Djarot.

Ahok yang tak menjadi kader partai manapun setelah angkat kaki dari Partai Gerindra pada tahun 2014, akhirnya memutuskan tetap maju lewat jalur independen. Ia menggaet Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Heru Budi Hartono sebagai wakilnya di Pilkada DKI 2017. Duet Ahok-Heru yang diusung relawan Teman Ahok dideklarasikan pada Senin (7/3/2016). Untuk maju lewat jalur independen Ahok-Heru membutuhkan dukungan sejuta KTP. Gerakan penggalangan sejuta KTP dilakukan oleh Teman Ahok sejak Jumat (11/3).

Setelah Ahok resmi mendeklarasikan maju lewat jalur independen, dwi tunggal Ahok-Djarot mulai retak. Djarot yang selama ini terkesan cenderung menyetujui semua ide Ahok, kini mulai berani menyentil Ahok. Djarot mau tidak mau mengikuti haluan partainya yang berseberangan dengan Ahok.

“Saran saya, sebaiknya (Teman Ahok) cari (tempat) yang lain yang lebih netral, jangan dipakai untuk politik, tetapi secara aturan boleh. Kenapa sih, memang enggak ada yang lain?” kata Djarot.

Saran Djarot itu ditanggapi Ahok dengan emosional. “Kalau Pak Djarot merasa ini etika yang dilanggar, kalau gitu Pak Djarot suruh kantor PAC PDI-P pindah dulu, dong, kalau soal etika. Etika kan soal perasaan kan. Kalau aturan, enggak ada yang dilanggar,” kata Ahok.

Serangan lain yang dilontarkan Djarot adalah soal reklamasi Teluk Jakarta. Ahok menilai reklamasi diperlukan. Namun, Djarot berpandangan berbeda. Ia menilai reklamasi bisa merusak lingkungan dan ekosistem.

Tampaknya serangan Djarot terhadap Ahok itu dilakukan untuk mendongkrak popularitasnya. Sebab, Djarot termasuk salah satu kandidat cagub yang akan diusung PDI-P pada Pilkada DKI 2017. (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Habiburokhman Pertanyakan Apa Benar Semua KTP Dukung Ahok?

Kesal Mulut Kotor Ahok, Imam Supriadi Tantang Berduel Sampai Mampus!

Kalau Diledekin Melulu, Habiburokhman Terjun Beneran dari Monas

Beredar Meme ‘Saksikan Habiburokhman Show’

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.