Selasa, 20 Agustus 19

Resti Nendia Berbisnis dengan ‘Hati’

Resti Nendia Berbisnis dengan ‘Hati’
* Owner Nendia Primarasa Resti Nendia. (Foto: Fikar Azmy)

“Kami memang berharap ingin membahagiakan semua orang termasuk pengantin dan para tamu undangan.”

Bisnis kuliner tradisional dan penyedia jasa pernikahan bernama Nendia Primarasa yang ditekuni perempuan asal Minangkabau ini tak disangka berawal dari ketidaksengajaan. Resti Nendia diminta tolong oleh teman baiknya yang kebetulan hendak menikah mengurus berbagai keperluan seputar wedding termasuk urusan catering maupun dekorasi.

“Sebelumnya saya memang menyukai pekerjaan wedding organizer. Karena pernikahan sahabat berjalan sukses, kemudian ‘menular’ ke teman yang lain maupun saudara-saudara saya. Bisnis ini pun saya seriusi dengan sungguh-sungguh. Dari pertama bediri sejak 15 tahun lalu kami berusaha memberikan pelayanan lengkap dengan harga ekonomis, agar lebih menarik perhatian,” ujar ibu tiga anak ini yang menjalankan bisnisnya dibantu suami tercinta Heru Pujihartono.

Dia menangani usaha katering dan sang suami melengkapinya dengan paket pernikahan yang masih ada sentuhan kultur budaya, karena kecintaannya kepada Bumi Pertiwi. Meskipun dia sewaktu kuliah mengambil jurusan akuntansi, naluri bisnisnya sudah ada sejak SMP suka berjualan dan banyak pembelinya.

Tak heran hingga sekarang jasanya sudah diterima ribuan pengantin dan banyak selebriti papan atas Indonesia mengungkapkan kepuasannya terhadap pelayanan catering dan wedding service Nendia Primarasa.

“Makanan yang dikeluarkan saat ada acara pernikahan selalu ada inovasi menu-menu baru sebagai kejutan yang cita rasanya harus dapat diterima lidah klien-klien. Bisa saja ada menu sama dengan perusahaan lain, tapi kekuatan rasa berbeda, itulah kelebihannya. Sementara dari sisi wedding service untuk dekorasi harus mengikuti perkembangan tren disesuaikan keinginan klien,” lanjutnya.

Meskipun Nendia Primarasa fokus utamanya di urusan katering, ketika ada permintaan dekorasi dan music akan selalu dilayani dengan profesional dan sebaik-baiknya.

Begitupun untuk pesanan acara tujuh bulanan, sunatan, konser musik, perayaan ulang tahun perusahaan, dan lainnya, Nendia Primarasa tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang meminta pertolongan jasa mereka. Memang kalau dilihat-lihat sepertinya menjalankan bisnis ini mudah, terbukti dengan munculnya banyak orang membuka usaha yang sama. Tapi, biasanya saat sudah menjalani tak sedikit yang berhenti di tengah jalan.

Resti menerangkan,“Dalam bisnis katering yang tersulit adalah saat pertama kali kita diberi kepercayaan. Lalu, bagaimana menjaga konsistensi servis dan kualitas yang terbaik sampai pelanggan merasa puas. Bagi saya dan tim hal-hal tersebut sangatlah penting untuk masa depan bisnis kami.”

Perempuan kelahiran 18 Juli 1976 ini percaya bahwa setiap usaha tidaklah selalu berjalan mulus. Ada saat masa pengembangan bisnis, permintaan meningkat lalu melesu, dan naik kembali. Belum lagi dalam proses merintis bisnis dia hamil dan harus istirahat berbulan-bulan. Lalu, anak-anak mesti diurus sementara roda bisnis harus tetap berputar terus melaju.

Resti pun bersyukur selalu bisa berhasil melewati berbagai masa kritis dan beragam. Termasuk saat dulu kantornya masih berupa rumah, dia terlalu sibuk mencari klien, sehingga lupa harus memperhatikan perbaikan tempat karyawan bekerja.

Tak hanya memikirkan bidang sales, dia pun segera turun tangan sampai akhirnya bangunan yang layak untuk kantor pun terwujud. Selain itu, urusan training dia benahi, mengingat orang-orang yang bekerja di tempatnya ada juga yang mulai dari nol, seperti bagian administrasi ataupun marketing.

Alhamdulillah, anak-anak saya sejak kecil menurut semua, ketika diajari tidak boleh menangis sewaktu ibunya bekerja. Baru sekarang ketika mulai agak besar mereka menuntut perhatian lebih dan saat libur saya ajak ikut ke kantor. Ternyata mereka senang-senang saja, bahkan anak pertama yang laki-laki saya masukkan ke dalam tim digital, tertarik juga membantu pekerjaan di kantor,” sambungnya seraya tersenyum.

Itulah sebabnya, tahun ini dia mau kuliah di Inggris mengambil jurusan bisnis. Jadi, perkembangan zaman harus diikuti antara lain dengan memiliki tim sendiri untuk digital marketing. Apalagi, di zaman sekarang yang hendak melangsungkan pernikahan banyak dari kalangan anak milenial.

“Kami memang berharap ingin membahagiakan semua orang termasuk pengantin dan para tamu undangan. Itulah sebabnya, Nendia Primarasa memiliki tagline Tradisi Membahagiakan. Tim yang saya rekrut harus memiliki passion di bidang ini agar bisa bekerja dengan ‘hati’. Ujungnya pekerjaan seberat apa pun jadi lebih ringan dan memudahkan team work bekerja maksimal, sehingga semua orang merasa puas dan bahagia,” papar peraih The Best Enterpreneur Woman of the Year, Business Challenge Award 2017 ini menutup pembicaraan. (Nur A/Elly)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession Edisi Agustus 2019 dengan tema “17 Perempuan Tangguh 2019”

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.