Selasa, 2 Maret 21

Reshuffle, Agenda Terselubung?

Reshuffle, Agenda Terselubung?

Jakarta,Obsessionnews – Desakan untuk reshuffle kembali muncul dari sejumlah pihak, bahkan seolah-olah Presiden Jokowi hendak dipaksa untuk merombak personil kebinet sebelum pembacaan pidato kenegaaraan pada 14 Agustus 2015 nanti. Sedangkan kabar yang beredar ada 6 menteri yang akan segera direshuffle dan segera dilantik di Istana negara pada Rabu (12/8/2015) siang pukul 13:00 WIB semakin menguat.

Menurut mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Laode Ida, mestinya Jokowi harusnya tak boleh terpengaruh dengan isu-isu atau desakan reshuffle. Sebab, Laode menilai kalau kondisi sosial politik Indonesia saat ini relatif stabil, sembari sekarang dalam suasana perlu ketenangan merayakan HUT ke-70 kemerdekaan RI. Sedangkan para menteri pun tengah menyiapkan energi untuk bahas Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 setelah nota RAPBN disampaikan ke DPR pada 14 Agustus nanti.

“Maka dalam konteks ini, pemaksaan reshuffle boleh jadi merupakan agenda terselubung dari kelompok kepentingan tertentu untuk ciptakan instabilitas di intern pemerintahan Jokowi-JK. Jika alasannya adalah memburuknya kondisi ekonomi di negeri ini, maka tak bisa langsung memvonis bahwa yang salah adalah para menteri terkait, karen niscaya terkait dengan kondisi ekonomi global. Untuk mengukur kinerja para menteri pun masih belum bisa dilakukan karena mereka baru mulai kerja,” ungkapnya pada Obsessionnews.com, Rabu (12/8/2015).

Perlu dicatat lanjutnya, bahwa salah satu ukuran kinerja yang utama bagi para menteri atau tingkat keterserapan anggaran dikaitkan dengan capaian hasil di lapangan yang bisa ditunjukkan langsung atau dirasakan manfaatnya oleh masuyarakat. Dan itu baru bisa dilakukan setidaknya setelah satu tahun penyelenggaraan program berikut anggarannya. “Kalau sekarang…, lah…yang mana yang bisa diukur. Kan sulit sekali,” pungkasnya.

Selain itu kata Laode, dengan masuknya figur menteri baru juga tidak mudah langsung tancap gas dan lalu menyulap lembaga yang dipimpinnya langsung berkinerja tinggi. “ Itu mustahil. Karena masih harus lakukan berbagai penyesuaian. Sementara bagi para figur menteri yang ada, tinggal memantapkannya. Yang diperlukan adalah mengkoordinasikan para menteri itu sehingga bisa efektif dalam bekerja,” sarannya.

“Maka itulah sebabnya, mengapa seluruh warga bangsa ini menyadari agar membiarkan dulu Jokowi dengan para menterinya untuk bekerja menyelesaikan program-program mereka pada tahun anggaran 2015 ini seraya mempersiapkan program tahun 2016 nanti,” tuturnya.

Adapun nama-nama yang beredar untuk direshuffle dan akan dilantik dalam Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hingga Rabu (12/8/2015). Keenam menteri pengganti itu adalah Kepalala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan yang akan menggantikan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno. Lalu, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution akan menjabat sebagai Menko Perekonomian menggantikan Sofyan Djalil. Kemudian, mantan Menko Perekonomian pada era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli, akan menjadi Menko Kemaritiman menggantikan Indroyono Soesilo.

Mantan pejabat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Thomas Lembong, akan menjabat sebagai  Menteri Perdagangan menggantikan Rachmat Gobel. Nama lainnya yang disebut-sebut adalah elite politik dari PDI Perjuanagn, Pramono Anung, yang akan menggantikan Andi Widjajanto sebagai Sekretaris Kabinet. Dan terakgir, Sofyan Djalil akan menggantikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago. Lima dari keenam menteri yang akan diganti semalam telah dipanggil Presiden dan Wakil Presiden pada pukul 19.00 WIB, atau 30 menit seusai pertemuan antara Jokowi dan JK di Istana Merdeka, Jakarta. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.