Jumat, 12 Agustus 22

Rencananya Polri Akan Lucu Sampai Kapan?

Rencananya Polri Akan Lucu Sampai Kapan?

Oleh: Teuku Gandawan, Direktur Strategi Indonesia

 

Sindikat Saracen ditangkap oleh Polri setelah setahun melakukan mapping? Setahun berlalu dengan pernyataan bahwa ada ratusan akun dan pemesan konten SARA. Lalu kenapa hanya bisa menangkap tiga orang tersangka dan salah satunya ditampilkan berjilbab pula? Mau menstigmakan lagi bahwa pelakunya kelompok Islam? Semoga para pelaku dan para penangkap bukan para penjual agama. Janggal rasanya kerja setahun penuh data, hanya bisa berujung demikian.

Apakah Polri ini memang harus sering lucu seperti polisi dalam film Chips ala Warkop Prambors? Demo damai Aksi Bela Islam dihambat, demo bela Ahok rusuh di LP Cipinang dibiarkan hingga dini hari. Demo tertib ala FPI diributkan , demo rusuh ala GMBI dibiarkan. Novel disiram air keras dianggap cuma gara-gara isterinya jual jilbab dan berselisih urusan.

Firza Husein yang punya foto bugil, Habib Rizieq yang dituduh mesum dan dipaksa menjadi tersangka. Koruptor kabur tidak dilaporkan ke interpol, Habib Rizieq jelas ke Saudi malah lapor interpol. Al Khattat dituduh makar tanpa bukti, sampai sakit-sakitan di tahanan. Pelaku penusukan brutal Hermansyah tertangkap malah diajak makan, ngopi dan merokok bersama.

Ada Aksi Bela Islam yang menggugat penistaan yang terang benderang yang dilakukan Ahok, malah Kapolri jadi jubirnya dan susah payah mejelaskan kata “dipakai”. Lalu para ustadz penggerak aksi dituduh money laundering. Entah duit siapa yang dicuci, entah apa urusannya dengan aksi, namun buku bank dana aksi malah disita polisi dan tak kunjung dikembalikan. Sementara tuduhan kepada para ustadz tak pernah dicabut.

Bukannya mengimbau semua pihak agar tak saling hujat, Polri malah ikutan mendukung video yang bercerita ambulan dihentikan pengajian entah di kampung mana. Ada pula rumah sakit yang tak punya unit gawat darurat yang siap menelantarkan pasien agar cuma bisa menunjukkan ada umat Islam yang enggan mengalah antri.

Eko Patrio bilang kasus bom diungkap polisi cuma pengalihan isu, Eko dipanggil polisi. Laiskodat memfitnah umat Islam dan 4 partai politik serta menyerukan pembunuhan, Polri bilang dia punya hak imunitas. Lalu hilang ke mana hak imunitas Eko?

Kebodohan demi kebodohan terus dilakoni dan dipertontonkan ke publik. Memangnya aparat itu harus mati akal dan kelihatan bodoh ya? Setahu rakyat, Polri itu digaji rakyat untuk menegakkan keadilan. Memang gajinya tidak besar, tapi bukan berarti kalau gajinya kecil terus harus kelihatan bodoh, bukan?

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.