Selasa, 22 September 20

Refly Harun: Hari Lahir Pancasila 18 Agustus 1945

Refly Harun: Hari Lahir Pancasila 18 Agustus 1945
* Ahli hukum tata negara Refly Harun. (Foto: Twitter @ReflyHZ)

Jakarta, Obsessionnews.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2016 menetapkan 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Namun, ahli hukum tata negara Refly Harun tak sepakat dengan keputusan pemerintah tersebut. Refly berpendapat Pancasila lahir pada 18 Agustus 1945 ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan UUD 1945.

Melalui kicauan di akun Twitternya, @ReflyHZ, Sabtu (2/6/2018), Refly menuding menjadikan Pancasila lahir 1 Juni cuma merujuk satu tokoh dan mengabaikan peran tokoh lain.

Bg sy, Pancasila itu lahir tgl 18 Agt 1945 ktk PPKI mngesahkn UUD 1945. Mnjdkn Pancasila lahir 1 Juni cuma merujuk satu tokoh dan mengexclude peran tokoh lain, trmsk Hatta yg mnghilngkn 7 kata dlm Piagam Jakarta. Pancasila itu sinkretisme pikiran para pendiri bangsa. Pndpt Anda?” tulisnya.

 

Baca Juga:

Soekarno Motor Penggali Pancasila

Pancasila Jimat Persatuan Indonesia

Tafsir Pancasila Zaman Now

Adhyaksa Dault: Pramuka Manusia Pancasila

Yudi Latief: Pemahaman Pancasila Semakin Luntur

Pancasila ‘‘Dibina’, Neolib Dipelihara

 

Kelahiran Hari Pancasila diperingati pada 1 Juni. Berita tentang Pancasila sejak kemarin hingga Sabtu (2/6/2018) masih bertahan menjadi trending topic di media sosial Twitter. Pantauan Obsessionnews.com di Twitter wilayah Indonesia hari ini hingga pukul 9.45  WIB berita tentang Pancasila berada di peringkat teratas di antara 10 trending topic. Dan terdapat ribu 94, 4 ribu tweet tentang Pancasila.

Dikutip Obsessionnews.com dari Wikipedia, menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPKI, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945).Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: “Perwakilan Rakyat”).

Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya “Pancasila“. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasardengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. SoekarnoMohammad Hatta, Mr. AA MaramisAbikoesno Tjokrosoejoso,Abdul Kahar MuzakirAgus SalimAchmad SoebardjoWahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. [1]

Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.” (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.