Sabtu, 29 Januari 22

Refleksi Tujuh Tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo Dalam Pembangunan Industri Manufaktur

Refleksi Tujuh Tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo Dalam Pembangunan Industri Manufaktur
* Industri manufaktur. (Foto: Humas Kemenperin)

Kontribusi ekspor sektor industri manufaktur pada tahun pertama pemerintahan Jokowi jilid II (tahun 2020) justru naik menjadi sebesar USD131,1 Miliar di tengah himpitan pandemi Covid-19. Nilai ekspor manufaktur ini merepresentasikan 80,3 persen ekspor nasional tahun 2020 dan menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar USD21,7 Miliar. Surplus neraca perdagangan sendiri terus berlanjut hingga bulan September 2021 sebesar USD4,37 Miliar yang merupakan surplus selama 17 bulan secara berturut-turut sejak bulan Mei 2020. Pada periode Januari-Agustus 2021, nilai ekspor sektor manufaktur telah mencapai sekitar USD115,13 Miliar.

 

Capaian sektor industri manufaktur di bidang investasi dan ekspor mengiringi kontribusi sektor industri manufaktur terhadap penerimaan negara dan kontribusi terhadap pembentukan PDB Nasional yang terus meningkat dan merupakan tertinggi dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya. Pajak sektor industri pengolahan secara rerata berkontribusi sebesar 28 persen sepanjang tahun 2014 hingga 2020. Sementara penerimaan cukai sektor industri menyumbang 95 persen dari total penerimaan cukai nasional. Adapun laju pertumbuhan PDB manufaktur pada periode 2015-2019 secara konsisten berada di kisaran mendekati angka 5 persen per tahun.Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional pada tahun 2015 menyentuh nilai Rp2.100 Triliun dan terus naik ke Rp2.783 Triliun di tahun 2019.

 

Pada periode kedua pemerintahan, kontribusi sektor manufaktur sedikit turun ke angka Rp2.760 Triliun di tahun 2020 akibat dampak pandemi Covid-19 yang tidak saja menerpa Indonesia tetapi juga seluruh negara di dunia. Akibat tekanan pandemi, sektor industri manufaktur tumbuh minus 2.52 persen di tahun 2020. Ini merupakan kali kedua dalam sejarah sektor industri manufaktur Indonesia mengalami pertumbuhan negatif setelah sempat minus 11,5 persen akibat krisis 1997. Pertumbuhan sektor industri manufaktur kembali bergairah pada tahun 2021, dengan peningkatan angka pertumbuhan yang signifikan di Triwulan II sebesar 6,91 persen (yoy), sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang juga bangkit sebesar 7,07 persen (yoy).

 

Dinamika serupa juga terjadi pada Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia. Di awal periode pertama pemerintahan Jokowi, PMI manufaktur Indonesia berada di bawah 50 poin sepanjang tahun 2015 yang menunjukkan kurang bergairahnya aktivitas di sektor industri sebagai dampak dari tertekannya kinerja ekspor akibat kondisi ekonomi global. Namun, pada tahun-tahun berikutnya kebijakan ekonomi pemerintah mampu membuat PMI Manukfatur Indonesia terus bergerak hingga menyentuh level ekspansif (di atas 50 poin). Rata-rata nilai PMI Manufaktur Indonesia berada di angka 50,08 pada tahun 2017 dan meningkat ke angka 50,9 pada tahun 2018. Namun, perang dagang AS-Tiongkok yang berlanjut dengan pandemi Covid-19 pada kurun waktu 2019-2020 menekan PMI Manufaktur ke level 49,7 di tahun 2019 dan secara dalam ke level terendah pada April 2020 dengan angka 27,5 ketika PSBB jilid I diterapkan di ibu kota yang membuat operasional dan kegiatan industri nyaris lumpuh.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.