Kamis, 27 Januari 22

Refleksi Tujuh Tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo Dalam Pembangunan Industri Manufaktur

Refleksi Tujuh Tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo Dalam Pembangunan Industri Manufaktur
* Industri manufaktur. (Foto: Humas Kemenperin)

Sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, Indonesia dalam empat tahun terakhir telah berhasil meningkatkan nilai ekspor produk hilir rumput laut menjadi sebesar USD 96,2 juta di tahun 2020. Indonesia juga dikenal sebagai pengolah kakao terbesar ketiga dunia. Dengan kapasitas terpasang sekitar 800 ribu ton per tahun, ekspor produk olahan kakao menyentuh angka USD 1,12 milyar pada tahun 2020.

 

Di sektor farmasi dan alat kesehatan, pemerintah tengah memacu penguatan industri farmasi berbasis fitofarmaka, dimana kita sudah mengembangkan dan memproduksi beberapa obat modern asli Indonesia (OMAI) yang telah digunakan di beberapa negara di Eropa.Indonesia juga sudah mampu membuat ventilator dan generator/ konsentrator oksigen dalam negeri. Prototipenya sudah tersedia dan kini tengah menunggu hasil uji klinis untuk bisa diproduksi secara massal. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian juga mendorong pengembangan 79 produk alat kesehatan prioritas, dengan 43 produk di antaranya telah diproduksi di dalam negeri dengan nilai TKDN bervariasi hingga 92,23%.

 

Di sektor industri mineral logam, saat ini telah terbangun industri stainless steel terintegrasi dari hulu yang menghasilkan produk turunan nikel dengan kapasitas 4 juta ton per tahun. Kapasitas produksi ditargetkan pada tahun 2022 mencapai 6 juta ton per tahun. Pemerintah juga telah membangun fasilitas pengolahan bijih bauksit ke alumina dengan kapasitas produksi 3 juta ton per tahun.

 

Peningkatan daya saing dan nilai tambah industri manufaktur juga sangat tergantung pada kemampuan industri dalam merespon tuntutan global. 3 (tiga) tuntutan global dewasa ini antara lain perubahan teknologi, pembangunan industri hijau, dan peningkatan pasar di sektor industri halal. Dalam rangka menjawab tuntutan perubahan teknologi, pada tahun 2018 Pemerintah telah meluncurkan kebijakan Making Indonesia 4.0 sebagai inisiatif untuk percepatan pembangunan industri memasuki era industri 4.0. Penerapan Industri 4.0 akan mendorong revitalisasi sektor manufaktur agar lebih efisien dan menghasilkan produk berkualitas. Kementerian Perindustrian telah membentuk Ekosistem Indonesia 4.0 (SINDI 4.0) yang bertujuan untuk membangun sinergi dan kolaborasi antar pihak guna mempercepat proses transformasi industri 4.0. SINDI 4.0 yang terdiri dari 5 (lima) stakeholder, yaitupemerintah, industri/asosiasi industri, akademisi dan R&D, technology provider, konsultan, dan pelaku keuangan.

 

Berbagai upaya telah dilakukan di antaranya: 1) self assessmentINDI 4.0 pada 775 industri; 2) penghargaan INDI 4.0 kepada 18 industri; 3) penetapan 2 industri sebagai Global Lighthouse Network oleh WEF dan 3 industri sebagai national lighthouse; 4)pendampingan industri 4.0 bagi 45 industri; 5) menghubungkan 13.000 IKM kemarketplace melalui program E-Smart IKM; 6) melatih 760 agen transformasi industri 4.0. Di samping itu, Kementerian Perindustrian juga tengah merampungkan pembangunan Pusat Industri DIgital 4.0 (PIDI 4.0)yang terdiri dari 5 pilar layanan, yaitu: Showcase Center, Capability Center, Ekosistem Industry 4.0, Delivery Center, dan Innovation Center.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.