Prof. Anter Venus: Kepemimpinan Berbasis Nilai dan Transformasi Kampus Beradab

Prof. Anter Venus: Kepemimpinan Berbasis Nilai dan Transformasi Kampus Beradab
Prof. Anter Venus (Foto Dok. Ali Usman)

Obsessionnews.com Tidak semua pemimpin merasa perlu tampil sebagai pusat perhatian. Sebagian memilih berjalan di antara orang-orang yang dipimpinnya, mendengar dengan saksama, mengamati hal-hal kecil, dan memastikan nilai hidup benar-benar bekerja dalam keseharian. Di sanalah Prof. Dr. Anter Venus menempatkan dirinya. Dalam perbincangan panjang bersama redaksi di Kampus UPNVJ Pondok Labu Jakarta pada Selasa (30/12/2025) penghujung tahun, ia tidak berbicara tentang kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab;bukan tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang makna kepemimpinan sebagai jalan pengabdian.

Bagi Anter Venus, menjadi pemimpin bukanlah cita-cita yang direncanakan sejak awal. Ia mengakui bahwa sepanjang hidupnya ia lebih banyak dibentuk oleh dunia akademik dan organisasi. Sejak muda, ruang-ruang diskusi, buku, dan kegiatan kemahasiswaan menjadi tempatnya bertumbuh. Ia terbiasa berpikir, berdebat, dan mempertanyakan banyak hal. Namun ketika amanah kepemimpinan datang, ia menerimanya bukan dengan euforia, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa jabatan adalah ujian nilai.

“Kalau niatnya tidak baik, kepemimpinan itu akan jadi berbahaya,”ujarnya pelan, namun tegas. Kalimat itu bukan sekadar refleksi, melainkan prinsip hidup. Ia percaya bahwa kepemimpinan yang baik selalu berangkat dari niat baik dan niat itu harus terus dijaga, bahkan ketika keputusan menjadi sulit dan tidak populer.

Gaya kepemimpinan Anter Venus kerap disebut berbeda. Ia tidak nyaman memimpin dari balik meja. Ia memilih leading by example dan walking around leadership. Setiap hari ia berkeliling kampus, memperhatikan detail yang bagi sebagian orang tampak sepele: garis parkir yang tidak lurus, stiker yang miring, tempat sampah yang kotor, atau keran air yang dibiarkan terbuka. Baginya, detail-detail kecil itu adalah cermin cara berpikir.

“Kalau kita abai pada hal kecil, jangan berharap bisa mengelola hal besar dengan baik,”katanya. Dari kebiasaan sederhana itulah ia menanamkan rasa urgensi dan tanggung jawab kolektif. Kampus, menurutnya, adalah rumah bersama. Semua orang harus merasa memiliki, bukan sekadar menjalankan tugas formal.

Dalam memimpin, ia membedakan dengan jelas antara responsibility dan accountability. Tanggung jawab bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, melainkan memastikan hasil terbaik bagi institusi. Ia ingin setiap orang di kampus memahami bahwa kualitas bukan urusan individu semata, tetapi cerminan martabat lembaga. Budaya kerja yang profesional, terukur, dan akuntabel adalah fondasi yang terus ia dorong.

Transformasi institusi, baginya, tidak pernah berhenti pada perubahan struktur atau status. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah budaya. Mengubah cara berpikir jauh lebih sulit dibandingkan mengganti papan nama. Karena itu, ia menempatkan sumber daya manusia sebagai pusat transformasi. Kampus harus menjadi ruang berpikir, bukan ruang gosip. Tempat orang berbicara dengan data, bukan prasangka.

Pendekatan ini perlahan menunjukkan hasil. Di tengah tuntutan Indikator Kinerja Utama (IKU) bagi perguruan tinggi negeri berstatus BLU, institusi yang dipimpinnya berhasil meraih peringkat kedua secara nasional di 2025 ini. Namun Anter Venus menolak melihat capaian itu sebagai tujuan akhir. Baginya, IKU hanyalah alat ukur, bukan makna kepemimpinan itu sendiri.

Yang lebih penting adalah memastikan kampus tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan nilai. Internasionalisasi, akreditasi global, dan kolaborasi lintas negara ia dorong bukan demi gengsi, melainkan sebagai proses pembelajaran. Ia mengakui bahwa langkah-langkah itu tidak mudah, terutama bagi perguruan tinggi yang relatif muda. Namun dengan belajar, berkolaborasi, dan berani mencoba, hal yang semula terasa mustahil perlahan menjadi nyata.

Di luar capaian formal, visi terbesarnya adalah menjadikan kampus sebagai pusat peradaban. Kampus harus bersih, tertib, aman, dan manusiawi. Setiap sudutnya menjadi ruang belajar. Bahkan saat seseorang masuk ke toilet, kantin, atau ruang terbuka, ia tetap bisa belajar tentang nilai, kesehatan, dan tanggung jawab sosial. Pendidikan karakter, menurutnya, tidak cukup diajarkan lewat kurikulum. Ia harus dihidupi.

Dalam konteks itulah konsep bela negara ia maknai secara lebih luas. Bela negara bukan soal angkat senjata, melainkan soal ketahanan berpikir. Di era banjir informasi dan disinformasi, pertahanan terkuat sebuah bangsa adalah nalar kritis warganya. Kampus memegang peran strategis untuk membentuk manusia yang mampu berpikir jernih, tidak mudah terprovokasi, dan berani membela kebenaran dengan argumen.

Ia mencontohkan pengalamannya di luar negeri, di mana ketertiban dan kejujuran bukan diajarkan lewat ceramah panjang, melainkan lewat praktik sehari-hari. Dari situ ia belajar bahwa karakter dibentuk oleh lingkungan. Karena itu, ia berupaya menciptakan enriched environment atau lingkungan yang mendidik tanpa menggurui.

Ketika ditanya tentang mimpi pribadinya, Anter Venus tidak menyebut target muluk. Ia hanya ingin kampus menjadi tempat orang-orang beradab berkumpul. Tempat orang berpikir sebelum berbicara, bekerja dengan alasan yang jelas, dan menghargai sesama manusia. Kampus yang membuat siapa pun yang masuk ke dalamnya merasa sedang berada di ruang yang bermartabat.

Dalam perbincangan itu, satu hal terasa kuat: kepemimpinan bagi Anter Venus bukan tentang menjadi yang paling hebat, tetapi tentang membuat orang lain tumbuh. Ia tidak ingin dikenang sebagai pemimpin yang keras atau populer, melainkan sebagai seseorang yang menjaga nilai dan menyalakannya dalam tindakan sehari-hari.

Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang seorang rektor. Ini adalah cerita tentang bagaimana kepemimpinan bisa dijalani dengan kesederhanaan, keteguhan nilai, dan keberanian untuk memperbaiki hal kecil demi perubahan besar. Sebuah pengingat bahwa kampus dan bangsa akan selalu punya harapan selama masih ada pemimpin yang bersedia berjalan, melihat, mendengar, dan memberi teladan. (Ali)