Catatan Kecil dari Romo Mudji

Obsessionnews.com - Oleh : F. Noor (Dosen Kajian Film, Televisi, dan Media, UPN Veteran Jakarta)
Catatan ini saya tulis setelah berita duka itu tiba: “Romo Mudji baru saja dipanggil Tuhan”. Kali ini, makna “dipanggil Tuhan” tidak hanya berarti pulang ke pelukan abadi Sang Keindahan, melainkan memberi perasaan ditinggalkan yang luar biasa, seperti perasaan kosong mendadak yang membuat tubuh seolah kehilangan gravitasinya ketika merenungkan peran beliau yang lembut namun luas dalam membuka medan pengetahuan yang penuh makna.
Selama ini, Romo Mudji begitu saya biasa memanggilnya, selalu menularkan ide dan gagasan yang memperluas cakrawala pengetahuan. Betapa berharga adanya seseorang yang kepadanya dapat berdialog, tempat pertanyaan-pertanyaan dapat diajukan dengan bebas, dan jawaban pun mengalir dengan luas dan mencerahkan.
Namun, saya mengenalnya bukan hanya berziarah melalui teks-teksnya. Pada masa saya menempuh studi doktoral di ISI Surakarta, Romo Mudji menjadi pembimbing disertasi saya, seorang pendamping yang membiarkan pertanyaan-pertanyaan estetis dan etis digali dalam keheningan, membimbing dengan riang dan hangat, membuka pemahaman pada setiap argumen, bagaikan sketsa yang hidup yang menari di antara ruang yang terucap dan yang tak terucapkan.
Dialog yang Humanis
Pada suatu sore, angin lembut mengiringi diskusi hangat di sudut Kamar Tamu 1 Kanisius. Romo Mudji duduk di kursi kayu jati tua, matanya yang tenang menatap lembaran-lembaran disertasi. Ia tersenyum tipis, senyum yang selalu menyimpan rahasia kebijaksanaan lalu berkata dengan suara yang pelan namun tegas, seolah setiap kata adalah undangan untuk menari bersama makna.
“Saya usulkan, Bung,”katanya sambil condong sedikit ke depan, “Anda lihat dulu worldview-nya. Di balik lapisan-lapisan itu, interest akan terlihat jelas kepentingan yang sesungguhnya. Apakah ia humanis, yang memuliakan manusia, ataukah dehumanis, yang merendahkan martabat kehidupan? Estetika itu akhirnya tafsiran makna keindahan dalam mempermuliakan dan merawat kehidupan. Masukkan saja soal value di tengah-tengah interest-interest yang saling berebut ruang itu. Inilah, saya kira, kepentingan Bung dalam menjawab disertasi ini: di mana letak value-nya? Interest yang mendasarinya berada di mana? Saya ingin Anda tetap konsisten terus dengan pendekatan ini apakah induktif, deduktif, antropologis atau gabungan semuanya, sebagaimana kehidupan sendiri tak pernah memilih satu sisi saja. Sebab, ketika estetika memasuki ranah kehidupan;ia mempermuliakan dan merawat kehidupan itu sendiri. Maka, di mana kontribusi humanisnya dalam karya ini? Di mana ia menyentuh hati nurani manusia sehingga dunia ini menjadi lebih layak dihuni?”
Saya terdiam sejenak, merasakan bobot kata-kata itu meresap seperti hujan gerimis di tanah gersang. Di luar jendela, pepohonan tampak bergoyang pelan, seolah turut merenungi peratanyaan itu.
Begitulah Romo Mudji, bahkan di usia lanjut, beliau tetap seperti mercusuar yang tak pernah redup, terus menerangi posisi estetika sebagai penjaga peradaban agar tetap manusiawi, “post-estetis”-nya yang khas serta ajaran tentang “suchness”apa adanya mengingatkan bahwa kehidupan yang dihayati tidak hanya dijalani dengan otak, tetapi perlu dirawat dengan “hati”demi menjaga kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk zaman.
Dengan perasaan kehilangan, kini saya kenang: sosok laki-laki lanjut usia berambut putih panjang yang mengenakan kaos merah bertuliskan “jurnalisme arkeolog”, kenangan abadi saya akan Romo Mudji.
Sugeng tindak, Romo. Sampai jumpa!





























