Neraca Dagang RI Juli 2025 Cetak Surplus Lagi, Bukti Ekonomi Masih Tangguh

Obsessionnews.com –Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan ketahanannya. Pada Juli 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD 4,17 miliar, sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang berada di angka USD 4,10 miliar. Surplus ini menandai capaian penting karena menegaskan tren positif yang telah berlangsung selama 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Jika ditarik lebih panjang, sejak awal tahun hingga Juli 2025, surplus kumulatif Indonesia sudah mencapai USD 23,65 miliar. Angka ini melonjak jauh dibanding periode yang sama tahun 2024 yang hanya sebesar USD 16,25 miliar. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti nyata bahwa fondasi ekspor nasional semakin solid di tengah tekanan ekonomi global.
“Surplus yang konsisten adalah sinyal kuat bahwa daya saing industri nasional, terutama sektor nonmigas, masih bisa diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Ini adalah modal penting bagi Indonesia untuk terus melaju,”ujar Mendag.
Dari sisi ekspor, kinerja Indonesia patut diapresiasi. Total ekspor Januari–Juli 2025 menembus USD 160,16 miliar, naik 8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh hampir 10 persen menjadi USD 152,20 miliar.
Industri pengolahan masih mendominasi kontribusi ekspor dengan porsi lebih dari 80 persen. Namun yang cukup mengejutkan, sektor pertanian mencatat kenaikan paling signifikan, yakni 43,62 persen. Lonjakan ini terutama disumbang komoditas kopi, kelapa, dan buah pinang yang semakin diminati pasar internasional.
Tak hanya itu, sejumlah komoditas nonmigas menunjukkan pertumbuhan fantastis. Ekspor kakao dan produk olahannya melesat lebih dari 100 persen. Kopi, teh, dan rempah naik hampir 70 persen. Produk aluminium juga meningkat tajam, hingga 68 persen. Ketiga kelompok komoditas ini memperlihatkan betapa produk unggulan Indonesia mampu bersaing di pasar global yang kian ketat.
Dari sisi pasar, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi mitra dagang utama dengan total nilai ekspor mencapai USD 63,22 miliar atau sekitar 41,5 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Namun yang menarik, sejumlah negara nontradisional justru mencatat lonjakan permintaan paling tinggi.
Ekspor ke Swiss tumbuh lebih dari 147 persen, disusul Mesir hampir 50 persen, Thailand 40 persen, Bangladesh 39 persen, dan Brasil 37 persen. Dari perspektif kawasan, ekspor ke Asia Tengah mencatatkan kenaikan terbesar, mencapai 81 persen, diikuti Afrika Barat dan Afrika Timur yang masing-masing tumbuh lebih dari 50 persen. Fakta ini menunjukkan strategi diversifikasi pasar Indonesia mulai membuahkan hasil.
Khusus pada Juli 2025, ekspor Indonesia mencapai USD 24,75 miliar, naik 5,6 persen dibanding Juni 2025. Jika dibandingkan dengan Juli tahun lalu, pertumbuhannya mencapai hampir 10 persen. Lonjakan ini terutama ditopang oleh peningkatan ekspor mesin dan peralatan mekanis, produk kakao, serta kayu dan produk turunannya.
Sementara itu, impor Indonesia pada Januari–Juli 2025 tercatat USD 136,51 miliar, naik tipis sekitar 3,4 persen dibanding periode yang sama 2024. Peningkatan terbesar terjadi pada barang modal yang melonjak lebih dari 20 persen. Barang-barang seperti CPU, mobil listrik, peralatan navigasi kapal, perangkat penerima sinyal, hingga ponsel pintar semakin banyak masuk, menandakan adanya ekspansi industri dalam negeri.
Barang baku atau penolong tetap mendominasi struktur impor dengan porsi 71 persen. Namun, impor barang konsumsi justru turun sekitar 2,5 persen. Penurunan terjadi pada beberapa produk sehari-hari, antara lain bahan bakar diesel, pendingin ruangan, bawang putih, krimer non-susu, hingga buah pir. Kondisi ini memberi ruang lebih luas bagi produk lokal untuk mengisi kebutuhan domestik.
Beberapa komoditas nonmigas yang impornya melonjak adalah kakao dan olahannya, logam mulia dan perhiasan, serta garam dan batu semen. Negara asal impor masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat dengan kontribusi gabungan lebih dari 50 persen. Menariknya, impor dari Ekuador, Uni Emirat Arab, dan Kanada mencatat lonjakan paling tajam.
Khusus periode Juli 2025, impor Indonesia mencapai USD 20,58 miliar, naik 6,4 persen dibanding Juni, tetapi turun hampir 6 persen dibanding Juli 2024. Nilai ini terdiri atas impor migas sebesar USD 2,51 miliar dan nonmigas sebesar USD 18,06 miliar.
Bagi pemerintah, keberlanjutan tren surplus perdagangan adalah faktor penting yang menopang stabilitas ekonomi nasional. Surplus ini menambah cadangan devisa, memperkuat nilai tukar, dan memberi ruang bagi kebijakan fiskal serta moneter untuk lebih fleksibel.
Menteri Perdagangan optimistis tren ini bisa berlanjut hingga akhir 2025. “Selama industri dalam negeri terus didorong, pasar ekspor diperluas, dan produk lokal semakin kompetitif, kita bisa menjaga momentum ini. Surplus perdagangan adalah penopang penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional,”tegasnya.
Namun demikian, pemerintah juga diingatkan untuk tetap waspada. Pasar global tengah menghadapi banyak ketidakpastian, mulai dari perlambatan ekonomi Tiongkok, proteksionisme di Eropa dan Amerika, hingga fluktuasi harga energi dan pangan. Dalam kondisi seperti ini, menjaga daya saing produk nasional, memperkuat hilirisasi, dan memperluas pasar nontradisional menjadi kunci keberlanjutan surplus perdagangan.
Surplus perdagangan Indonesia bukan sekadar pencapaian jangka pendek. Lebih dari itu, ia menjadi cermin daya tahan ekonomi sekaligus peluang besar untuk memperkuat kemandirian. Pada akhirnya, yang merasakan dampaknya bukan hanya pelaku ekspor, tetapi juga masyarakat luas melalui stabilitas harga, peningkatan lapangan kerja, hingga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. (Ali)





























