Bangun-bangun… Kerja-kerja…, Jangan Mimpi Indah Mas Jokowi !

Jakarta, Obsessionnews.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) telah mengatakan pertumbuhan ekonomi pada 2017 bisa mencapai 5,2 persen, atau lebih tinggi dari proyeksi 5,1 persen, dengan memperkuat sumber pertumbuhan dalam negeri. "Kalau domestik demand lebih bagus dan kuat, 5,2 persen sesuatu yang mungkin achievable bisa dicapai," kata SMI menanggapi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017 dari Bank Dunia sebesar 5,2 persen di Jakarta, Rabu lalu. Menanggapi pernyataan Sri Mulyani itu, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono menyatakan dirinya pesimis SMI mampu mencapai pertumbuhan 5,2 persen di 2017. “Kalau saya sih prediksi di bawah 5 persen. SMI mimpi kali ya, sehingga dia optimis pertumbuhan di atas 5 persen. Pasalnya, situasi ekonomi dunia dan ekonomi nasional serta kebijakan paket ekonomi Presiden Joko Widodo masih belum memperlihatkan hasil, sehingga tidak memungkinkan untuk mencapai pertumbuhan diatas 5 persen,” kata Arief Poyuono, Jumat (24/3/2017). Menurut tokoh buruh ini, tidak ada yang jalan dan kebijakan yang bisa menarik investor untuk mau lebih berinvestasi di Indonesia. “Kalau mau jujur analisa JP Morgan yang memberikan penilaian terhadap nilai imbal balik investasi di Indonesia pada status under weight sudah sangat benar dan mencerminkan kalau investasi di Indonesia tidak akan banyak memberikan keuntungan di tahun 2017. “Kalau stuasinya seperti ini bagaimana ekonomi akan tumbuh di atas 5 persen Apalagi 5,7 % sd 6 persen menurut Joko Widodo mimpi kali ye...,” sindir Arief Poyuono yang juga Aktivis garis keras. “Belum lagi situasi perekonomian China yang paling banyak menyerap produk produk tambang dan CPO Indonesia dalam keadaan backward economic growth. Atau mengalami balik Ke arah penurunan pertumbuhan ekonomi sehingga ekspor Indonesia akan turun dan akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi akibat lesunya ekspor Indonesia,” tambahnya. [caption id="attachment_54829" align="aligncenter" width="640"]
Arief Poyuono, Aktivis garis keras[/caption] Memburuknya perekonomian China di tahun 2017, lanjut Arief, contoh paling konkrit serbuan tenaga kerja asing asal China ke Indonesia dalam jumlah jutaan. “Nah bagaimana kue pertumbuhan ekonomi China bisa berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur Pentolan Gerindra ini. Arief memaparkan, saat China ekonominya bertumbuh di 8-9 persen saja tahun tahun yang lalu pertumbuhan Indonesia Indonesia paling top di 6% - 6,5 % nah sekarang pertumbuhan Ekonomi China cuma di prediksi 6,2 persen ,bagaimana 5,2 persen Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih sangat tergantung kondisi global, utamanya pertumbuhan negeri tirai bamboo itu. “Belum lagi kebijakan Ekonomi Amerika serikat dibawah president Donald Trump yang akan memanggil balik investor Amerika untuk ke menanamkan modal di negrinya sendiri .serta kenaikan suku bunga The Fed yang pasti akan berpengaruh dengan pertumbuhan Ekonomi indonesia ,apalagi Indonesia dianggap bukan tempat yang menarik untuk investasi Amerika akibat masalah Freeport yang diperlakukan dengan tidak baik,” jelasnya.
Di sisi lain, lanjut Arief, daya beli masyarakat yang makin anjlok akibat pendapatan masyarakat yang turun draktis , akibat harga BBM dan harga pangan yang mahal, juga menjadi sebab banyaknya pabrik-pabrik dan sektor usaha UKM berguguran. “Nah gimana ekonomi tumbuh diatas 5 persen seperti kata Sri Mulyani,” ungkap wakil Perabowo ini. Ia pun mempertanyakan pernyataan Sri Mulyani mengatakan sumber pertumbuhan ekonomi pada 2017 tersebut masih berasal dari konsumsi rumah tangga, investasi maupun pengeluaran pemerintah, yang selama ini menjadi pendukung kinerja perekonomian nasional. "Kalau inflasi dan confidence terjaga kita bisa berharap konsumsi tumbuh lima persen dan investasi kita berharap di kisaran enam persen. Kalau itu dilakukan dengan pengeluaran pemerintah yang lebih baik, maka tercipta momentum bagus," ujarnya. Selain itu, Sri Mulyani memastikan pemerintah akan melaksanakan berbagai kebijakan dan instrumen secara konsisten agar momentum pertumbuhan ekonomi tersebut dapat terealisasi. (Red) [caption id="attachment_180293" align="aligncenter" width="640"]
Prabowo Subianto dan Arief Poyuono.[/caption]
Arief Poyuono, Aktivis garis keras[/caption] Memburuknya perekonomian China di tahun 2017, lanjut Arief, contoh paling konkrit serbuan tenaga kerja asing asal China ke Indonesia dalam jumlah jutaan. “Nah bagaimana kue pertumbuhan ekonomi China bisa berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur Pentolan Gerindra ini. Arief memaparkan, saat China ekonominya bertumbuh di 8-9 persen saja tahun tahun yang lalu pertumbuhan Indonesia Indonesia paling top di 6% - 6,5 % nah sekarang pertumbuhan Ekonomi China cuma di prediksi 6,2 persen ,bagaimana 5,2 persen Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih sangat tergantung kondisi global, utamanya pertumbuhan negeri tirai bamboo itu. “Belum lagi kebijakan Ekonomi Amerika serikat dibawah president Donald Trump yang akan memanggil balik investor Amerika untuk ke menanamkan modal di negrinya sendiri .serta kenaikan suku bunga The Fed yang pasti akan berpengaruh dengan pertumbuhan Ekonomi indonesia ,apalagi Indonesia dianggap bukan tempat yang menarik untuk investasi Amerika akibat masalah Freeport yang diperlakukan dengan tidak baik,” jelasnya.
Di sisi lain, lanjut Arief, daya beli masyarakat yang makin anjlok akibat pendapatan masyarakat yang turun draktis , akibat harga BBM dan harga pangan yang mahal, juga menjadi sebab banyaknya pabrik-pabrik dan sektor usaha UKM berguguran. “Nah gimana ekonomi tumbuh diatas 5 persen seperti kata Sri Mulyani,” ungkap wakil Perabowo ini. Ia pun mempertanyakan pernyataan Sri Mulyani mengatakan sumber pertumbuhan ekonomi pada 2017 tersebut masih berasal dari konsumsi rumah tangga, investasi maupun pengeluaran pemerintah, yang selama ini menjadi pendukung kinerja perekonomian nasional. "Kalau inflasi dan confidence terjaga kita bisa berharap konsumsi tumbuh lima persen dan investasi kita berharap di kisaran enam persen. Kalau itu dilakukan dengan pengeluaran pemerintah yang lebih baik, maka tercipta momentum bagus," ujarnya. Selain itu, Sri Mulyani memastikan pemerintah akan melaksanakan berbagai kebijakan dan instrumen secara konsisten agar momentum pertumbuhan ekonomi tersebut dapat terealisasi. (Red) [caption id="attachment_180293" align="aligncenter" width="640"]
Prabowo Subianto dan Arief Poyuono.[/caption] 




























