Kinerja Ahok Kurang Memuaskan Masyarakat DKI

Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Politik/Pemerintahan Network for South East Asian Studies (NSEAS ) Sejumlah lembaga survei melaksanakan pengumpulan data tentang persepsi masyarakat DKI Jakarta tentang kinerja Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Hasilnya beragam. Beberapa lembaga survei menilai kinerja Ahok sebagai buruk. Selama enam bulan memimpin DKI, Ahok tampaknya dinilai kurang memuaskan bagi masyarakat Jakarta. Hal tersebut sebagaimana survey dirilis oleh Litbang Kompas (Kompas 20 Mei 2015). Litbang Kompas melakukan survei terhadap 600 responden (17 tahun ke atas) yang tersebar di DKI Jakarta. Hasil survei menunjukkan, secara garis besar warga DKI hanya memberikan Ahok nilai 6,54 atas kondisi masyarakat Jakarta selama dipimpin oleh Ahok. Warga DKI hanya memberikan 6,62 atas kinerja Ahok. Ketidakpuasan atas kinerja Ahok paling rendah pada soal keamanan, yakni berada di angak 5,68. Selama Ahok memimpin DKI, dirinya dinilai tidak mampu menyelesaikan persoalan pembegalan. Bahkan, dinyatakan, 4 dari 5 warga DKI menyatakan dirinya merasa tidak aman tinggal di Jakarta. Selain itu, warga DKI pun merasakan sulitnya mengakses perumahan murah di Jakarta. Harga dan pajak rumah yang cenderung terus menaik tidak sebanding dengan daya beli sebagain besar masyarakat, sehingga masyarakat hanya memberikan nilai 5,96, jauh dari penilaian baik untuk seorang Gubernur DKI. Dari tingkat perbaikan kinerja Ahok, warga DKI pun menganggap perbaikan ekonomi adalah sesuatu masih jauh dari harapan. Hanya 51, 2 persen masyarakat masih menganggap Ahok bisa memulihkan kondisi perekonomian warga Jakarta. Artinya, jika ada 10 warga DKI hanya separuh dari mereka masih percaya pada Ahok. Buruknya kinerja Ahok juga dapat ditemukan melalui hasil survei yang dilakukan Periskop Data pimpinan Muhammad Yusuf Kosim. Survei Periskop Data dilaksanakan pada 1-7 Juni 2015. Survei ini dilakukan secara langsung melalui wawancara tatap muka. Metode digunakan adalah multistage random sampling. Sampel pada survei ini adalah penduduk Indonesia usia 17 tahun atau lebih atau yang sudah menikah. Pelaksanaan survei dilakukan di seluruh wilayah DKI. Jumlah sampel diambil 500 responden. Adapun margin of error survei 4,4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil survei menunjukkan, publik tidak puas dengan kinerja Ahok dan wakilnya, Djarot Saiful Hidayat, di bidang perumahan rakyat, kemacetan, dan banjir. Selanjutnya, kinerja buruk Ahok ini dijadikan alasan bagi penentangnya agar rakyat DKI menolak pencalonanan dirinya dalam Pilgub 2017. Penolakan pencalonanan Ahok bukan atas dasar sentimen kesukuan, etnis maupun agama. Salah satu penolakan muncul melalui petisi, yang menekankan Ahok wajib ditolak karena: Pertama, tidak menunjukkan prestasi signifikan selama menjabat Wagub maupun Gubernur. Kedua, berdasarkan temuan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang menyebutkan indikasi penyahgunaan wewenang dan penyimpangan APBD DKI Jakarta yang dilakukan Ahok. Ketiga, perampasan hak warga dan masyarakat di antaranya hak mencari nafkah bagi pedagang kaki lima dan atau hak pengendara kendaraan roda dua yang dilarang melewati beberapa jalan protokol. Keempat, pengingkaran janji-janji kampanye. Contohnya terhadap warga bantaran Kali Ciliwung. Pemimpin yang tidak amanah, kerap ingkar janji, sering membuat kegaduhan, dan melempar tanggung jawab, masalah dan kesalahan adalah satu indikasi menunjukan tidak pantasnya ia sebagai seorang pemimpin. Kelima, Ahok kerap kali tidak menunjukkan etika, moral dan sopan santun dalam berbicara. Hal ini dapat menjadi contoh buruk bagi anak-anak maupun generasi penerus bangsa. Keenam, Ahok terbukti dan kerap kali melukai hati warga masyarakat terutama hati dan perasaan umat Islam Jakarta. Hal ini tentu bisa berakibat buruk terhadap persatuan kesatuan dan kebhinnekaan, tak hanya pada ruang lingkup DKI Jakarta saja, namun dapat berimbas kepada NKRI secara luas. Sementara itu survei Populasi Centre menunjukkan tingkat kepuasan warga DKI Jakarta atas kinerja Ahok mengalami kemerosotan selama Septemer 2016. Sebelumnya, Agustus, tingkat kepuasan kinerja Ahok di posisi 84,7 persen, September menurun menjadi 81,4 persen. Lembaga survei PolMark Research Centre (PRC) melakukan tiga kali survei (Februari, Juli dan Oktober 2016). Hasil survei PRC menunjukkan kemerosotan tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja Ahok. Pada survei Juli dari 42,7 persen mantap memilih Ahok mencapai hanya 28,7 persen. Dalam survei Oktober terkait kepuasan kinerja Ahok sebesar 61,8 persen. Angka tersebut menunjukkan kemerosotan 8 persen dari tingkat kepuasan sebesar 69,8 persen pada survei Juli lalu. Survei ini dilakukan terhadap 1.190 responden warga Jakarta berhak memilih dengan margin of error servei kurang lebih 2,9 persen, tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil survei Konsultan Citra Indonesia atau LSI (LSI-Network), Maret 2016 menyebutkan tingkat kepuasan terhadap Ahok 77,6 persen. (*)





























