Waskita Karya, 56 Tahun Membangun Negeri

Waskita Karya, 56 Tahun Membangun Negeri
Sebagai kontraktor BUMN terbesar di Indonesia, PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah menjadi yang terdepan dalam membangun infrastruktur negeri. Dalam dasa warsa terakhir perusahaan yang dipimpin oleh M. Choliq ini dengan konsisten menunjukan kinerja yang positif. Pada Kuartal III 2016, Waskita mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,088 triliun meningkat 171,7% dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp400 miliar. Sejak berdiri tahun 1961 hasil nasionalisasi perusahaan Belanda bernama Volker Aanemings Maatschappij NV, Waskita telah dipercaya untuk membangun proyek-proyek strategis skala Nasional diantaranya;Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang (1985) hingga Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta (2016), Jalan Tol Cipularang, Jawa Barat (2005), Jalan Tol Nusa Dua Tanjung Benoa, Bali (2015), Jembatan Merah putih, Maluku (2016), Jembatan Suramadu, Jawa Timur (2009), Bendungan Jati Gede, Jawa Barat (2015), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (2002), serta proyek prestisius gedung antara lain Wisma BNI 46, Jakarta (1996) dan Hotel Shangri-La, Jakarta (2008). Tahun 2012 Waskita berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan menggalang dana publik sebesar Rp1,2 triliun, dilanjutkan dengan memperkuat struktur permodalan melalui Rights Issue pada 2015 sebesar Rp5,3 triliun yang terdiri dari Rp3,5 triliun Penyertaan Modal Negara dan Rp1,8 triliun dana publik. Kini, Ekuitas Waskita menjadi Rp16,194 triliun dengan total aset perusahaan mencapai Rp50,282 triliun. Menginjak usia 56 tahun, Waskita telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan kompetisi Jasa Kontruksi dengan membentuk divisi-divisi spesialis, antara lain, Divisi I yang berfokus pada proyek infrastruktur dan bangunan sipil. Divisi II yang memiliki keahlian proyek gedung bertingkat dan LRT serta Divisi Regional Barat dan Divisi Regional Timur yang mengerjakan proyek-proyek berdasarkan wilayah geografis. Lebih dari itu, Waskita juga telah melakukan transformasi usaha. Dari yang semula hanya perusahaan jasa konstruksi konvensional, Waskita kini melakukan ekspansi dengan mendirikan anak perusahaan antara lain usaha penyedia beton pracetak melalui PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), pengembang jalan tol melalui PT Waskita Toll Road, bidang realty melalui PT Waskita Karya Realty, dan bidang pembangkitan listrik melalui PT Waskita Karya Energi. Pendirian WSBP tiga tahun lalu, sebagai rencana strategis anak perusahaan mendukung proyek-proyek Waskita khususnya kebutuhan konstruksi jalan tol. Kini WSBP telah memiliki 8 pabrik beton pra cetak (precast plant) dengan kapasitan produksi 2,3 juta ton per tahun. Anak perusahaan Waskita ini juga memiliki 28 pabrik olahan beton (batching plant). Guna memperkuat permodalan, IPO di anak perusahaan ini telah dilakukan pada kuartal III 2016, yang mana WSBP memperoleh dana masyarakat sebesar Rp5,2 triliun. “Untuk pengembangan usahanya dan mendukung bisnis jasa konstruksi induk usaha, Waskita Karya,” ujar Direktur Utama Waskita Karya Choliq. Walaupun relatif sebagai pemain baru, WSBP ditargetkan untuk memposisikan dirinya sebagai perusahaan penyedia beton pracetak terbesar di Indonesia. Sementara itu, anak perusahaan lainnya yakni Waskita Toll Road, saat ini mengusahakan 15 konsesi jalan tol dengan total panjang sekitar 750 Kilometer di Jawa dan Sumatera, antara lain Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Pasuruan-Probolinggo, Pemalang-Batang, Kayu Agung-Palembang-Betung, Solo-Ngawi, Semarang-Batang, dan Medan-Kualanamu-T.Tinggi. Total kebutuhan investasi mencapai Rp91 triliun. “Saat ini kami juga berperan aktif dalam membangun 9 Proyek Strategis Nasional, yakni  Proyek Tol Kanci-Pejagan, Tol Pejagan-Pemalang, Tol Pemalang-Batang, Tol Batang-Semarang, Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, Tol Bakaheuni, Proyek Light Trail Transit (LRT) Palembang, dan Proyek transmisi 500 KVA di Sumatera,” ungkap Choliq. Kinerja anak usaha lain yakni Waskita Karya Realty pun tidak kalah cemerlang, dengan 10 proyek pengembangan prestisius dalam portfolionya diantaranya Yukata Suites, 88 Avenue, Zalakka, dan The Reiz Condo yang berlokasi di daerah strategis Jakarta, Surabaya, Bali, dan Medan. Sebagai langkah awal untuk mulai berkontribusi nyata dalam menyediakan listrik bagi Indonesia, Waskita Karya melalui Waskita Karya Energi mengembangkan usaha mini hydro power plant 2x5 MW di Sangir, Sumatera Barat.  “Waskita Karya Energi ini merupakan anak usaha patungan antara PT Shalawat Power 15%,dan PT Waskita Karya 85%,” tambah Choliq. Dengan transformasi usaha yang telah dilakukan, perusahaan kontraktor pelat merah tersebut mentargetkan laba bersih tahun 2016 antara Rp1,7–1,8 triliun atau meningkat sekitar 70% dari capaian 2015. Bahkan untuk tahun 2017 Waskita kembali mencanangkan pertumbuhan laba bersih antara 40-50% jauh di atas rata-rata industri 15-30%. Milestone kesuksesan Waskita di bawah kepemimpinan Choliq sudah terencana dengan jelas. Choliq memastikan, pada 2018 nanti, perusahaan yang dipimpinnya itu, akan bertransformasi penuh, bukan lagi termasuk perusahaan kontraktor. Menurutnya, dari total asset yang dimiliki Waskita Karya, 70 persennya akan dicatatkan sebagai developer infrastruktur. “Waskita akan membuktikan, bahwa dalam tiga tahun periode 2015-2018 mengalami super growth paling tidak dalam aspek total aset, laba bersih serta kapitalisasi pasar,” tandasnya. Menutup pembicaraan, Choliq mengatakan perusahaan yang mengusung budaya kerja, “IPTEX” (Integrity, Professionalism, Team Work, dan Exellence) ini memiliki tekad untuk terus menjadi perusahaan konstruksi terkemuka. “Menjadi agen pembangunan yang berkontribusi nyata pada pembangunan proyek-proyek infrastruktur khususnya jalan tol di Indonesia,” pungkas Choliq. (Giattri Fachbrilian Putri)