Budidaya Ikan Cupang Terancam, KKP Tingkatkan Keuntungan

Karawang, Obsessionnews.com - Alih fungsi lahan tengah mengancam keberlanjutan usaha budidaya ikan cupang di Kampung Sukamanah, Desa Cikampek Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Lahan yang semula disewa dan digunakan untuk budidaya, kini menjadi perumahan penduduk dan lainnya. Alhasil, lahan-lahan budidaya ikan cupang turut semakin menyempit. Kolam-kolam budidaya semakin sedikit, volume produksi-pun jadi berfluktuatif. Jangankan menggenjot volume produksi yang selalu divonis kurang setiap bulannya, pembudidaya bahkan seringkali dipaksa berlapang dada karena lahan garapan yang disewanya akan dijual atau dibangun rumah oleh pemiliknya. Seperti halnya yang dialami Bang Jek dari Paguyuban Sukma Mina Bersama (SMB). Menurutnya, enam bulan lalu beliau memiliki hampir 100 buah kolam. Namun saat ini yang tersisa hanya sekitar 60-an saja, karena lahan yang disewa akan segera dijual oleh pemiliknya. Hal serupa juga banyak dialami pembudidaya lainnya, bahkan dari kelompok berbeda, Paguyuban Putera Siliwangi (PS). Budidaya ikan cupang Budidaya ikan cupang di Kampung Sukamanah telah menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat. Berdasarkan data yang tercatat di kedua paguyuban (SMB dan PS), setidaknya terdapat 76 pembudidaya yang terlibat dalam usaha ini. Total produksi ikan cupang dari Paguyuban Sukma Mina Bersama dan Putera Siliwangi-pun bisa mencapai lebih dari 400.000 ekor setiap bulannya. Menurut laporan Tim Balitbangdias tahun 2013, seorang pembudidaya ikan cupang Sukamanah bisa memperoleh pendapatan hingga Rp.16 juta perbulan. Bandingkan dengan UMR karyawan di Karawang yang hanya sebesar Rp. 3,35 juta. Di sisi lain, besarnya potensi budidaya ikan cupang ini ternyata belum diimbangi oleh penguasaan teknologi dengan baik. Budidaya ikan cupang di Kampung Sukamanah masih dilakukan secara konvensional. Seolah menomorduakan aspek kualitas, target produksi lebih diarahkan untuk memperoleh ikan dalam jumlah sebanyak-banyaknya, cepat besar, serta memiliki proporsi jantan yang tinggi. Kegiatan budidaya sendiri dilakukan menggunakan kolam-kolam plastik berukuran 200 x 150 x 40 cm3 dengan ketinggian air 20 cm. Tanpa akuarium pemeliharaan larva, aerasi, resirkulasi, atau bahkan berbagai teknologi canggih lainnya, ikan cupang ditebar langsung ke kolam saat larva berumur empat hari setelah penetasan. Kepadatan larva setiap kolam-pun masih tergolong rendah, berkisar 2-3 ekor/liter. Atau kurang lebih setara 1.200-1.800 ekor dalam setiap kolamnya. Untuk mendapatkan ikan hingga ukuran jual (satu siklus panen), minimal diperlukan waktu sekitar 2,5-3 bulan. Dengan tingginya permintaan ikan cupang, jumlah produksi di atas masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang ada. Melalui teknik konvensional di atas, upaya peningkatan produksi hanya dapat dipecahkan dengan cara perluasan lahan budidaya (ekstensifikasi). Dengan lahan yang semakin terbatas, langka, dan mahal, upaya tersebut hanyalah sebatas angan yang sulit direalisasikan pembudidaya. Permasalahan-permasalahan di atas harus segera ditindaklanjuti, kebijakan harus diambil dengan cepat dan tepat, serta teknik budidaya di level pembudidaya harus dikembangkan Salah satu solusi terhadap permasalahan tersebut, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (Balitbangdias) bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Karawang berupaya melakukan peningkatan produksi ikan cupang di kelompok pembudidaya (paguyuban) Sukamanah. Bertempat di Paguyuban Sukma Mina Bersama dan Putera Siliwangi, optimalisasi pemanfaatan lahan melalui peningkatan padat penebaran dan ketinggian air diharapkan dapat mengatasi keterbatasan produksi sebagai dampak turunan dari penyempitan lahan. "Selama bulan Maret hingga September 2016, berbagai kegiatan telah kami lakukan. Inisiasi, sosialisasi, persiapan sarana budidaya, hingga aplikasi teknik budidaya," ucap Dr. Idil Ardi selaku Kepala Balitbangdias dalam keterangan persnya. Dimana lanjutnya, berbagai perlakuan kepadatan 2, 4, bahkan 6 ekor/liter pada ketinggian air 20, 30, dan 40 cm-pun telah diujicobakan untuk mengetahui teknik optimal produksi massal ikan cupang di Sukamanah. Berdasarkan ujicoba yang dilakukan, perlakuan padat penebaran larva 4 ekor/liter pada ketinggian air 20 cm menunjukkan performa terbaik. Dibandingkan teknik yang umum diaplikasikan masyarakat (2 ekor/liter, ketinggian air 20 cm), perlakuan tersebut mampu memberikan total penjualan per kolam hingga mencapai Rp. 493.233 dengan jumlah panen ikan cupang sebanyak 1.156 ekor. Sedangkan budidaya masyarakat sendiri hanya berkisar Rp. 349.297 dan jumlah ikan panen sebanyak 712 ekor saja untuk setiap kolamnya. "Dengan kemudahan dalam aplikasi, teknik yang kami terapkan di Kampung Sukamanah diharapkan dapat membantu pembudidaya ikan cupang," ujarnya. Dari hasil yang diperoleh, terjadi peningkatan sebesar 41% pada pendapatan pembudidaya dan 62% dari jumlah ikan yang dipanen per kolam. Selain padat penebaran dan ketinggian air, untuk mempercepat siklus panen, juga dilakukan aplikasi lainnya berupa pemberian pakan yang telah diperkaya hormon pertumbuhan. (Popi Rahim)





























