Ahok Tak Mampu Atasi Merosotnya Pertumbuhan Ekonomi DKI

Jakarta, Obsessionnews.com– Ketika membacakan nota keberatan di sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (13/12/2016), terdakwa penista agama, Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menuduh oknum-oknum elite politik menggunakan ayat-ayat Al-Quran karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Menurut Ahok, mereka berusaha berlindung di balik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya. Klaim Ahok ini seakan-akan selama ini menjadi Gubernur DKI punya visi, misi dan program telah berhasil dia laksanakan. Seakan-akan juga dia berhasil dan berprestasi sebagai gubernur, sedangkan paraa elite politik lain tidak. Bahkan dia mengklaim memiliki integritas yang g dapat diartikan ia manusia jujur dan bersih sebagai Gubernur DKI. Namun, betulkah Ahok berhasil melaksanakan visi, misi dan program? Pertanyaan ini langsung dijawab tidak oleh Prof Muchtar Effendi Harahap, Ketua Yayasan Network for South East Asian Studies (NSEAS). “Satu bukti Ahok tidak berhasil dan berprestasi, yakni urusan pemerintahan bidang pertumbuhan ekonomi. Ahok jelas tidak mampu dan gagal capai target diharapkan, bahkan lebih buruk ketimbang capaian Gubernur sebelumnya Fauzi Bowo alias Foke,” kata Muchtar dalam keterangan tertulis yang diterima Obsessionnews.com, Rabu (21/12). Menurut Muchtar, Ahok punya visi, misi, program dan punya integritas/kejujuran, sementara pihak elite lain tidak, hanyalah klaim kosong semata. Muchtar mengungkapkan, suatu daerah dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika terjadi peningkatan pendapatan riil. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi . Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. “Bagi DKI, pertumbuhan ekonomi merupakan indikator “keberhasilan” atau “kegagalan” suatu gubernur dalam melaksanakan pembangunan ekonomi,” tandasnya. Janji Kampanye Saat Jokowi dan Ahok kampanye Pilkada DKI 2012 berjanji menargetkan pertumbuhan ekonomi DKI mencapai 7 %. Janji target 7 % pertumbuhan ekonomi ini sungguh digembar-gemborkan kepada calon pemilih. Angka 7 % ini tidak tinggi, masih satu digit. Ahok yang menjadi Gubernur DKI pada 19 November 2014, menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden, ternyata gagal melaksanakan program pertumbuhan ekonomi dengan target 7 %. Data, fakta dan angka berbicara, pertumbuhan ekonomi terus merosot, hanya mampu mencapai jauh di bawah 6 %! Jika dibandingkan era gubernur sebelumnya, Foke, pencapaian Ahok masih di bawah Foke. Era Foke pertumbuhan ekonomi relatif tinggi. Yakni 6,44 % (2007), 6,22 % (2008), 5,1 (2009), 6,50 (2010), 6,77 % (2011), dan 6,53 % (2012). Rata-rata capaian pertumbuhan ekonomi era Foke di atas 6 %. Sedangkan Ahok hanya mampu capai di bawah 6 %. Yakni 6,11 % (2013), 5,9 % (2014), 5,88 % (2015), dan 5,62 % , dan 2016 masih di bawah 6 %. Hanya 2013, Ahok bisa capai di atas 6 %. Itupun sisa hasil kerja Foke pada 2012. “Intinya, pertumbuhan ekonomi era Ahok terus merosot. Dapat dinilai, Ahok mengalami kegagalan mengurus pertumbuhan ekonomi DKI baik dibandingkan janji kampanye, target akan dicapai di dalam Perda No. 2 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta 2013-2017, dan juga perbandingan dengan Foke,” ujar Muchtar. Khusus target capaian pertumbuhan di dalam Perda No. 2 Tahun 2012, Yakni 6,90 % (2013), 7,00 % (2014), 7,10% (2015), 7,20 % (2016), dan 7,30 % (2017). Sebelumnya, tahun 2012 era Foke pertumbuhan ekonomi mencapai 6,53 %. “Kesimpulannya, Ahok tak mampu mengatasi terus merosotnya pertumbuhan ekonomi. Data, fakta dan angka capaian pertumbuhan ekonomi ini membuktikan Ahok gagal melaksanakan visi, misi dan program. Apa yang dia banggakan dirinya dibanding elite politik dalam nota keberatan sungguh tak sesuai dengan realitas objektif,” tutur Muchtar. (arh)





























