Belanja di Warung Tetangga, Lawan Kapitalisme Supermarket dengan Dua Cara Ini

Oleh: Iswandi Syahputra*) Pengetahuan pertama yang harus dimiliki rakyat sebagai konsumen tentang hubungan mereka dengan supermarket sebagai produsen adalah bahwa posisi mereka berdua setara. Tidak ada hirarki, dominasi atau siapa yang paling berkuasa di antara konsumen dan produsen. Sekali lagi, keduanya setara. Tapi itu hanya terjadi pada masa lalu…. Saat ini kesetaraan itu diporakporandakan oleh makhluk ekonomi bernama kapitalisme. Dahulu, saat orang butuh baju, maka berdirilah pabrik pakaian. Saat orang butuh makan, berdirilah rumah makan, dst. Setelah kapitalisme masuk, orang menjadi hilang kesadaran tidak tahu mengapa dia butuh pakai baju dan mengapa dia butuh makan. Sebab baju bukan lagi soal pakaian, tapi soal merk. Makan bukan lagi soal lapar, tapi soal gengsi dan gaya hidup. Konsumsi menjadi tidak terkendali, dan produksi makin mendominasi. Hingga hubungan setara keduanya bubar berantakan. Berbelanja di supermarket merupakan jalan pintas menuju rusaknya harmoni antara konsumen dan produsen. Berbeda jika berbelanja di warung. Tanpa disadari, dengan berbelanja di warung, hasrat konsumsi ditekan karena ketersediaan barang hanya sesuai kebutuhan. Mungkin masa kecil kita mengalami hal serupa pada tahun 80-an. Era dimana emak-emak bisa bebas pakai daster keluar rumah belanja ikan asin 1 ons, tapi ngobrolnya bisa berjam-jam. Suatu era saat saya masih kecil bahkan bisa membeli garam atau kecap dengan ukuran sendok makan. “Kak, beli garam 3 sendok” atau “Wak, beli kecap 5 sendok” merupakan ucapan yang sangat lazim saat itu. Hal tersebut saya alami ketika belanja di warung saat gerai Supermarket belum mengendap, merayap dan mematikan warung-warung kampung. Pada beberapa momen, jika sama sekali tidak punya uang, di warung kita bisa berhutang. Di warung pula kita bisa bicara tentang harga cabai keriting, kol gepeng atau jengkol. Rakyat demikian peduli dengan harga kebutuhan pokok mereka. Tidak jarang pula warung menjadi ajang transaksi informasi kampung. Antar rakyat semakin lebih dekat, erat penuh keramahan. Bandingkan dengan gerai Nganu Mart, keramahan yang disajikan penuh kepalsuan, sepalsu dandanan yang kadang berlebihan. “Selamat datang di Nganumart, selamat berbelanja“, setelah itu mata dan selera kita ‘dipaksa’ membeli apa yang tidak kita butuhkan. Pembeli juga tidak bisa bertanya seputar kehidupan kasir, mengajaknya mengobrol apalagi untuk merayunya agar bisa berhutang. Solidaritas warga kampung dalam relasi penjual dan pembeli rusak oleh senyum dan keramahan palsu dari bibir penuh gincu. Mereka para konsumen itu ingin menentang, tapi tak kuasa karena melalui berbagai sarana kebutuhan, selera dan hasrat konsumsi mereka sudah dibentuk dan di kondisikan dengan slogan “Belanja di Nganumart lebih murah dan lebih mudah“. Namun, beberapa rakyat terdidik memang ada yang menentang dengan memasang spanduk, “Warga Menolak Kehadiran Nganumart”. Sebenarnya hanya dengan spanduk, mereka juga takut. Mengapa takut, karena pada dasarnya ini melanggar prinsip ekonomi kerakyatan berbasis koperasi desa. Dalam konteks ini, spirit aksi 212 seperti air bah yang tumpah. Semangatnya mengalir kemana-mana. Semangat untuk mengambil kendali otonomi manusia sebagai subjek ekonomi (khalifah fil aldry). Manusia bukan objek, tapi subjek konsumsi atas kebutuhannya sendiri. Bagi saya, inilah manifestasi jihad ekonomi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ini sebuah perjuangan besar melawan arus utama jaringan Nganumart. Berat? Jelas! Bernafas juga berat bagi yang sesak nafas. Tapi atas ijin Allah SWT, bernafas menjadi ringan bukan? Tidak ada yang berat jika kita selalu di sisi Allah SWT. Bagi sebagian orang berpandangan hal ini berat karena sektor hulu semua produksi kebutuhan pokok dikendalikan penuh oleh kapitalisme global. Kemudian mewujud sebagai holding raksasa yang menyiapkan semua kebutuhan hingga yang tidak dibutuhkan manusia. Dari sabun, pasta gigi, shampoo, minyak rambut, parfum dst hingga larut malam bedak tepung pemutih wajah yang dipoles emak-emak hanya karena ingin dilihat lebih muda, disediakan oleh kapitalisme melalui berbagai holding raksasa. Bagaimana menghadapinya? Janganlah mengaku umat Muhammad SAW, jika menghadapi kapitalisme saja nyalimu menciut, keberanianmu mengkerut. Ingat pondasi awalnya, konsumen dan produsen dalam kedudukan setara. Perjuangan bisa dilakukan dengan dua tahap : Pindahkan kolamnya, aliran airnya akan ikut berpindah. Pindahkan konsumennya, maka arus atau distribusi barang dan kebutuhan juga berpindah. Jika konsumen berpindah belanja ke warung tetangga atau ke warung 212, maka aliran barang juga akan berpindah. Sebab, kapitalisme juga butuh konsumen. Pemilik Nganumart ini juga manusia, tidak bisa hidup sendiri.Pindahkan mata airnya. Sambil memindahkan kolam, ciptakan mata air baru. Mata air yang memproduksi segala kebutuhan manusia. Kalau ilmunya sama, sekolahanya sama, gurunya sama, bukunya sama tidak mungkin tidak bisa. Keberhasilan tahap pertama dan kedua hanya ditentukan oleh satu hal saja, SOLIDITAS dan varian pengertian lainnya seperti persatuan, kekompakan, kebersamaan dan perasaan saudara sebagai satu ummah. Hanya dengan persatuan, apapun bisa disingkirkan. Pendek kata, RAKYAT BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN! *) Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.





























