Revolusioner Kekanak-kanakan

Oleh: Hendrajit *) Di Indonesia ini, banyak orang yang pengen bikin revolusi, tapi dasarnya itu khayalan dan fantasi. Bukan karena kesadaran dan perencanaan atas dasar pemahaman dan pengertian mengenai kondisi objektif yang dihadapi. Menurut saya, lepas dari soal PKI atau bukan, inilah kejahatan politik DN Aidit dan Sam Kamarazuman yang paling serius. Atau kejahatan politik Muso dan Amier Syarifuddin sewaktu memantik peristiwa Madiun 1948. Yang akhirnya bukan saja membakar dirinya sendiri, tapi juga membakar orang orang sekitarnya yang tidak ada sangkut pautnya dengan hajatan mereka. Kalau kita belajar dari kisah sukses revolusi di berbagai negara dan aneka mahzab politik yang mendasariinya, yang menentukan keberhasilan itu bukan karena punya massa. Tapi punya infrastruktur politik resmi ataupun non formal. Di Indonesia ini menggelikan, dan saya kira akan bikin almarhum Hugo Chavez atau almarhum Ayatullah Rohullah Khomeini bisa terheran-heran dan tidak habis pikir. Kalau untuk mengadakan rapat saja, pusing ngumpulin orang sana sini. Terus main klaim sana sini. Jatuh-jatuhnya, kerjaan model begitu bukan kaum revolusioner, tapi kontra revolusioner. Revolusioner kekanak-kanakan. Mending belajar benar-benar dari succes story 411 dan 212. Tanpa pernah membahas ngumpulin orang, nggak pernah bahas berapa yang harus diturunkan. CUkup menyelaraskan tujuan, menyelaraskan rasa, Memadukan derap langkah, dari berbagai simpul jaringan. Menjadi satu alkemi, persenyawaan. Hasilnya, yang menjelma bukan kumpulan massa atau orang berkumpul. Melainkan suatu gelombang. Revolusi akan berhasil kalau mampu menciptakan gelombang. Bukan sekadar buih, yang hanya soal waktu memecah di lepas pantai. Yang model begini, buat saya tidak menarik, karena tidak kreatif. *) Pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute.





























