Medsos dan Perkembangan Sosial-Politik Nasional

Oleh: Hendrajit *) Meski tidak secara terang-terangan menyinggung soal medsos dengan segala dampaknya, namun sangat terlihat jelas betapa tulisan Bre Redana di Kompas hari ini, Minggu (18/12/2016) menyorot beberapa fenomena medsos yang membawa dampak pada perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Kalau mau dipadatkan ada beberapa poin yang saya catat di sini. Pertama, ada semacam kecenderugnan perilaku masyarakat berkecenderungan pro massa atau crowd lebih menonjol daripada menegaskan individualitas dirinya. Kedua, perilaku masyarakat sebagai pengguna informasi lebih menekankan prinsip: Apa yang terlihat jelas itulah kebenaran. Ketiga, adanya medsos ruang prvasi/pribadi seperti dulu orang bikin catatan harian, sekarang garis batas antara yang privat dan yang publik buyar. Karena ada kecenderungan perilaku masyarakat pengguna medsos untuk membocorkan aspek-aspek privasi dirinya kepada publik dengan senang hati. Membaca sketsa sosial Mas Bre, ada beberapa segi yang saya sependapat. Namun saya pun mendapat kesan kuat dari tulisannya, Mas Bre sangat mengkhwatirkan sesuatu yang tak terucap dan tersurat dalam tulisannya, sehingga mengabaikan segi positif dari kemunculan medsos sebagai fenomena media baru dalam masyarakat. Bre mengabaikan satu hal, yang seharusnya dia sebagai wartawan senior sangat peka melihat tren baru di dunia media massa. Bahwa saat ini warga masyarakat, lepas bagaimanapun kualitasnya, punya peluang penuh untuk menjadi penyiar berita. Melalui medsos, warga masyarakat bisa bikin berita, bisa bikin analisis dan ulasan berita. Bahkan warga masyarakat bisa melakukan investigasi untuk mewartakan apa yang sesungguhnya terjadi di balik sebuah peristiwa atau kejadian. Melalui kutipan Althusser, Bre hendak menggiring pembaca bahwa apa yang kamu lihat secara nyata belakangan ini, belum tentu merupakan kebenaran. Pertanyaan menggelitik buat Bre, bagaimana kalau kejadiannnya adalah sebaliknya? Bahwa yang belakangan ini mencuat ke permukaan begitu nyata, merupakan hasil karya orang orang yang mampu melihat dan membaca hal hal yang tersirat dan tidak kasat mata, sehingga kemudian terdorong untuk menjadikan hal itu menjadi suatu kenyataan? Di sini Bre kelihatan bukan saja tidak objektif, tapi kehilangan perspektif. Dalam tulisannya Bre coba menyamarkan kegelisahannya yang tak tersurat melalui tulisannya dengan mengutip ungkapan seorang pakar sosial Althusser, bahwa apa yang jelas seringkali dimaknai sebagai kebenaran. Konteks dari ungkapan Althusser maupun ketika Bre memaknai ungkapan tersebut, memang bisa bermacam-macam. Namun sulit kiranya dibantah bahwa ungkapan Althusser yang dikutip Bre Redana tiada lain merupakan reaksi dirinya atas berbagai perkembangan sosial-politik nasional antara akhir November dan awal Desember lalu. Alhasil, pandangannya yang pesimistis sebagai akibat maraknya peran medsos dewasa ini, sejatinya hanya "bungkus" dari kegelisahannya sendiri, yang mungkin juga kegelisahan kolektif komunitas jurnalis di harian Kompas. Sehingga dalam memandang fenomena medsos maupun perilaku masyarakat dalam mengakses informasi, Bre pada perkembangannya berkesimpulan telah terjadi degradasi penurunan kualitas baik dalam materi-materi informasi yang diakses masyarakat, maupun kualitas masyarakat dalam mengakses informasi tersebut. Apakah memang fenomena sekarang sudah sedemikian dangkal sebagaimana sketsa sosial yang coba dipotres Bre Redana? Saya justru menangkap sinyal tersirat dari tulisan Bre. Bahwa dalam bawah sadarnya, Bre seakan mewakili kegelisahan sekelompok elite intelektual di lingkaran Kompas, yang merasa adanya fenomena medsos mereka tidak lagi menjadi kelompok eksklusif seperti dahulu kala. Tanpa dia sadari, Bre berpandangan bahwa buku buku atau karya karya tulis yang tidak lahir atau muncul melalui restu otoritas penerbitan seperti Kompas Group atau Gramedia, berarti diragukan reputasi dan kredibilitasnya sebagai penulis buku atau karya tulis dari jenis tulisan tertentu. Hanya karena pada kenyataannya sekarang buku buku baru yang bermutu tinggi yang lahir dari para penulis baru, bisa muncul melalui berbagai pusat-pusat kreatifitas di luar orbit pengaruh penerbit-penerbit buku besar atau atas restu dari media-media arus utama. Padahal menurut saya,. justru melalui fenomena medsos inilah, para penulis berbakat, para peneliti yang sudah bertahun-tahun begelut pada beberapa bidang tertentu, namun tidak dikenal luas reputasi dan kredibilitasnya, mendapatkan outlet atau sarana untuk memperkenalkan diri ke hadapan publik dan khalayak ramai. Dengan kata lain, mungkin Bre benar bahwa ada beberapa anomali dan penyimpangan perilaku di sebagian masyarakat akibat maraknya Medsos. Namun ada banyak lapisan masyarakat lain, yang justru kehadiran medsos menjadi sebuah berkah, yang mana dirinya selain dapat sarana untuk mengekspresikan diri dan bahkan memperkenalkan diri kepada publik. Yang tak kalah penting, berpotensi untuk menciptakan "arus baru" mengimbangi arus utama yang selama ini, komunitas Kompas di mana Bre dibesarkan, termasuk di dalamnya. Inikah kekhawatiran terselubung Bre Redana di balik tulisannya yang seperti biasa sangat kultural, namun kali ini sangat sarat dimensi politisnya itu? *) Pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute.





























