Benarkah Solo Jadi Wilayah Al-Kaco?

Oleh: Muhammad AS Hikam *) Kunjungan saya ke Kota Solo kali ini punya kenangan khas. Soalnya saya mendapat istilah baru dari sopir taksi yang saya gunakan selama saya jalan ke Ngawi, Magetan, Sarangan, Tawangmangu, dan Solo, yaitu kelompok AL-KACO, singkatan dari ALiran KAthok COngkrang alias Aliran Celana Cingkrang. Ketika saya tanya kenapa kok disebut kaco, jawab pak sopir begini,"Orang-orang itu tidak mau bergaul kecuali dengan sesama kelompoknya. Orang tua sendiri pun kalau tidak ikut kelompok itu, gak diajak gaul." Pak sopir melanjutkan,"Saya ini ya Islam, tapi jangankan sama keluarga, lha wong dengan non Muslim saja saya harus bisa srawung (bergaul, Red.) dengan baik." Makanya bagi pak sopir, ajaran seperti itu kaco jika dilihat dari perspektif kehidupan manusia, apalagi orang Islam. Anehnya, wilayah Solo dan bahkan sampai daerah Tawangmangu, kata pak sopir, kini dipenuhi para pendukung Al-Kaco tersebut. Bahkan di Kota Bengawan itu markas Al-Kaco sangat besar, katanya. Saya tidak sempat tanya di mana itu. Saya hanya bisa mesem saja dengan penuturan pak sopir taksi yang sangat terang benderang itu. Aliran fundamentalis dan garis keras memang sangat marak di kota yang konon merupakan pusat budaya Jawa yg halus, ramah, toleran, dan mengutamakan harmoni alias keselarasan itu. Mengapa kini radikalisme dan intoleransi bisa hadir dan malah bisa berkembang di sana? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang... *) Pengamat politik dari Universitas Presiden.





























