Merekam Jejak Ibu Lewat Buku 'Berdakwah'

Obsessionnews.com - Meski diakui sebagai sosok ‘keramat’ bagi putra-putrinya dan berada pada posisi penting dalam daftar manusia yang mulia, namun buku yang mengisahkan tentang ibu masih sulit ditemukan. Sekalipun ada, buku itu umumnya berisi tentang ‘panduan’ atau ‘tips dan trik’ bagaimana menjadi ibu yang paripurna. Di tengah ‘gersangnya’ buku tentang ibu tersebut, buku berjudul “Cinta, Doa, dan Ridha Ibunda” hadir menawarkan nuansa berbeda. Apa bedanya? Buku yang diterbitkan PT Dharmapena Citra Media ini, sesungguhnya, mengulas rekam jejak seorang Umi Nurul Huda yang berusia 80 tahun pada 10 Desember tahun ini. Namun, tak seperti buku ‘true story’ lainnya, buku ini berbalut dakwah islamiyah yang sarat petuah berlandaskan Al-Quran dan Hadits Rasulullah Saw. Umi Nurul Huda yang menjadi tokoh sentral dalam buku ini dikisahkan sebagai seorang ibu yang memberikan model pendidikan unik kepada kedua belas putra-putrinya. Dikatakan unik, karena perempuan kelahiran 10 Desember 1936 silam itu menjadikan keteladanan, dzikir, dan doa dalam proses pendidikan yang diterapkannya. “Semua peristiwa dicermati, lalu dipanjatkan doa permohonan ampunan, keselamatan, dan keberkahan. Dan bagi suami, anak-anak, serta orang-orang yang dicintai Umi akan disebut namanya dalam doa. Satu per satu dihadiahkan Al-Fatihah”. Demikian petikan testimonial yang diungkapkan Rachmi Hisjam, si anak sulung, dalam sebuah segmen buku tersebut. Di buku itu disebutkan jika doa menjadi kekuatan Umi Nurul Huda dan menjadi penyelaras bibir yang hanya bergerak seperlunya. Lainnya, perilaku keteladanan seperti silaturrahim dan sedekah menjadi model yang diikuti putra-putrinya. Memang tak banyak kata dari bibir perempuan kelahiran Makkah Al-Mukarramah itu, tetapi bersama hatinya, desir doa melejit setiap detik.
Ditelisik lebih dalam, buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, kisah seputar kelahiran Umi Nurul Huda dan masa kecilnya di Teteaji, Sidrap, Sulawesi Selatan. Pada segmen ini dikisahkan pula tentang pola pendidikan yang diterima Nurul Huda kecil. Kedua, buku ini memaparkan perjalanan rumah tangga Umi Nurul Huda bersama suaminya, Haji Hisjam Jahja. Diceritakan juga soal pendidikan yang diterapkan sepasang suami-istri ini kepada kedua belas putra-putrinya. Sang suami yang memegang tradisi keislaman kuat, cenderung mendidik putra-putrinya dengan tegas dan ketat. Sebaliknya, Umi Nurul Huda yang sejak kecil mendapat bimbingan dari seorang ulama di Sidrap, mendidik putra-putrinya dengan penuh kelembutan, keteladanan, dzikir, dan doa. Dan ketiga, buku ini berisi kisah tentang Umi Nurul Huda yang harus mendidik dan membesarkan putra-putrinya sendirian ketika ia menjadi single parent karena sang suami meninggal dunia. Di sinilah terlihat jelas betapa cinta, doa, dan keridhaan seorang ibu berlimpah kepada putra-putrinya. Saratnya nilai-nilai keislaman yang membalut buku ‘true story’ ini, boleh jadi, karena sang penulis buku merupakan jebolan pesantren. Meski menggenggam gelar magister Ilmu Komunikasi, namun penulis tak kehilangan arah untuk memadukan alur ‘true story’ dengan dakwah di dalamnya, sekaligus menjadi kekuatan yang membedakannya dengan penulis-penulis buku ‘true story’ lainnya. (Sahrudi)
Ditelisik lebih dalam, buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, kisah seputar kelahiran Umi Nurul Huda dan masa kecilnya di Teteaji, Sidrap, Sulawesi Selatan. Pada segmen ini dikisahkan pula tentang pola pendidikan yang diterima Nurul Huda kecil. Kedua, buku ini memaparkan perjalanan rumah tangga Umi Nurul Huda bersama suaminya, Haji Hisjam Jahja. Diceritakan juga soal pendidikan yang diterapkan sepasang suami-istri ini kepada kedua belas putra-putrinya. Sang suami yang memegang tradisi keislaman kuat, cenderung mendidik putra-putrinya dengan tegas dan ketat. Sebaliknya, Umi Nurul Huda yang sejak kecil mendapat bimbingan dari seorang ulama di Sidrap, mendidik putra-putrinya dengan penuh kelembutan, keteladanan, dzikir, dan doa. Dan ketiga, buku ini berisi kisah tentang Umi Nurul Huda yang harus mendidik dan membesarkan putra-putrinya sendirian ketika ia menjadi single parent karena sang suami meninggal dunia. Di sinilah terlihat jelas betapa cinta, doa, dan keridhaan seorang ibu berlimpah kepada putra-putrinya. Saratnya nilai-nilai keislaman yang membalut buku ‘true story’ ini, boleh jadi, karena sang penulis buku merupakan jebolan pesantren. Meski menggenggam gelar magister Ilmu Komunikasi, namun penulis tak kehilangan arah untuk memadukan alur ‘true story’ dengan dakwah di dalamnya, sekaligus menjadi kekuatan yang membedakannya dengan penulis-penulis buku ‘true story’ lainnya. (Sahrudi) 




























