Cimplo dan Tradisi yang Masih Bertahan

Cimplo dan Tradisi yang Masih Bertahan
Jakarta, Obsessionnews.com - Meski tak lagi berada di bulan Shafar, kami beruntung masih menjumpai Cimplo di Desa Susukanlebak, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon. Pagi ini, Ahad (4/12/2016), Cimplo menjadi menu sarapan kami. Panganan putih seperti surabi kecil itu benar-benar menggoda selera. Dengan sekali cocol ke dalam kuah dari gula merah campur kelapa itu, Cimplo pun segera melesat cepat di tenggorokan. "Wah, enak sekali nih. Kita beruntung masih bisa menikmati Cimplo," kata Esa, pemuda desa setempat yang menemani Obsessionnews.com berkeliling Kota Wali, Cirebon. Ya, kami memang beruntung. Padahal biasanya, Cimplo hanya bisa ditemukan di Cirebon dan Indramayu saat bulan Shafar. Mungkin karena bulan ke-2 kalender hijriyah itu belum berlalu jauh, Cimplo masih banyak dijajakan para penjualnya. Cimplo dan Rebo Wakasan Cimplo merupakan penganan khas nan unik yang terbuat dari tepung terigu dengan proses pembuatan layaknya serabi. Umumnya, Cimplo dicocol ke dalam kuah khas berasal dari gula aren dan parutan kelapa. Cimplo menjadi unik dan khas karena jenis kuliner ini hanya dapat ditemui setahun sekali di bulan Shafar. Cimplo digunakan sebagai simbol untuk membuang bala yang konon banyak diturunkan Tuhan pada bulan tersebut. Tradisi membuang bala ini mengalami puncaknya pada hari Rabu terakhir di Bulan Shafar, yang dikenal dengan istilah Rebo Wakasan. Tradisi Rebo Wakasan itu muncul berdasarkan pemahaman para kyai setempat terhadap Kitab Kanzun Najah was Suruur fil Adiyah allati Tasyrahush Shuduur karangan Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah. Konon, disebutkan dalam kitab itu bahwa pada hari itu (Rebo Wakasan) akan turun 320.000 bala, musibah, ataupun bencana. Sehingga dikatakan bahwa hari itu merupakan hari yang paling berat sepanjang tahun. Ketika Rebo Wakasan ini biasanya masyarakat membawa air dan berkumpul di tajug (mushalla) untuk membacakan doa-doa tertentu. Tradisi Rebo Wakasan biasa dilakukan antara Maghrib dan Isya. Adapun air yang telah dibacakan doa-doa dari jamaah yang hadir kemudian dibawa pulang untuk diminum masing-masing jamaah dan keluarganya. Keberuntungan kami melahap Cimplo menegaskan fakta bahwa panganan ini masih tetap bertahan di tengah gempuran budaya modern. Semoga saja seterusnya demikian. Cimplo tetap ada di tengah tradisi yang terus bertahan. (Fath)