Anton Medan: Waspadai! Kasus Ahok Ada yang Menggoreng

Anton Medan: Waspadai! Kasus Ahok Ada yang Menggoreng
Jakarta, Obsessionnews.com - Berjiwa besar menerima kritik, berhati sejuk, kasih sayang, mengagungkan dan mengharumkan Islam yang rahmatan lil alamin. Ini telah mempengaruhi cara berpikir dan perasaan warga negara Indonesia. “Demi Allah, orang Indonesia mewujudkan Islam rahmatan lil alamin dengan kemanusiaan, persatuan dan keadilan sosial yang dikelola dengan mengutamakan musyawarah,” kata Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Anton Medan kepada Obsessionnews.com di Jakarta, Senin (21/11/2016). Yang berarti, lanjut Anton, hakekat kebesaran yang besar adalah menghormati yang kecil, apa pun itu. Namun, bagaimana dengan perkembangan kasus Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhir-akhir ini? “Itulah, saya enggak habis pikir, kenapa bisa jadi seperti itu, pasti ada yang menggorengnya,” ucap pria asal Medan ini. Sayangnya, pria yang akrab disapa Bang Anton ini tidak mau menjelaskan secara rinci makna kata "menggoreng". Tetapi bisa ditafsirkan sebagai upaya mengolah isu sebagai sajian informasi bagi khalayak sesuai selera. “Fatwa itu bukan hukum tetapi pendapat, dan pendapat bisa tidak harus seperti itu," ungkapnya. Menurutnya, kalau dikatakan Ahok setidak-tidaknya menista ulama, namun banyak ulama yang tidak merasa ternista selain sebagai kritik biasa-biasa saja. “Saya heran tujuh putaran, mengapa bukan lemah lembut yang ditampilkan, melainkan malah seolah-olah bengis dan beringas yang ditonjolkan. Padahal Islam itu sangat mulia,” jelasnya. Apakah sesungguhnya di balik semua itu kalau bukan isu agama yang sejati? “Saya melihat lebih cenderung pada segi sosio-antropologis dan sosio-politis,” sahut Anton. Anton memandang masih banyak orang yang belum siap dengan gerakan pemberantasan korupsi secara bersungguh-sungguh yang dipelopori oleh pimpinan daerah, dan yang kedua ada kepentingan politik setarian. Diingatkannya, agar penggoreng kasus Ahok untuk kepentingan politik, waspadalah terhadap pihak-pihak yang menaburkan racun kerusuhan dan anti-Pancasila. "Hati-hati, tanggung jawab terhadap keselamatan bangsa dan negara tak bisa dilepaskan," katanya. Dirinya menekankan, sebagai warga negara kita harus mendukung dan membela pemerintahan yang sah secara konstitusional. "Tentunya dari ancaman pemakzulan atau apa pun istilahnya,” pungkas mantan preman yang telah insyaf ini. (Popi Rahim)