Parade Patung Kuda, Apakah Demo Tandingan?

Parade Patung Kuda, Apakah Demo Tandingan?
Jakarta, Obsessionnews.com –  Masih teringat dibenak kita aksi ratusan ribu jiwa masyarakat memadati jalur jalan protokol di Jakarta Pusat pada 4 November 2016 lalu. Demonstrasi damai yang datang dari berbagai provinsi menuntut gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) segera diproses hukum. Peristiwa tersebut bermula akibat Ahok menyebut ayat suci umat Islam. Sehingga kini mantan Bupati Belitung menghadapi hukum dengan dugaan penistaan agama. Tentu saja, aksi damai dalam parade Parade Bhinneka Tunggal Ika yang melibatkan ribuan orang, Sabtu pagi (19/11/2016), di Bundaran Patung Kuda, Jakarta Pusat, menimbulkan berbagai macam asumsi. Terkaitkah dengan demo 4 November lalu? Atau apakah demo ini berbayar bagi sukarelawan? “Tidak ada kaitannya dengan 4 November,” kata salah satu penyelenggara Budiman Sujatmiko kepada wartawan. Mereka mengakui parade kali ini dalam mendukung hari Bhinneka Tunggal Ika untuk menyelamatkan Undang-Undang Dasar 45 dan Pancasila. Merasakan perbedaan sebagai kekuatan bangsa. Tak ingin menjadikan perbedaan agama dan suku sebagai masalah yang sangat krusial. Karena demokrasi tak memiliki kaitan dengan semua itu. Kemeriahan arak-arakan terlihat dari permainan reog Ponorogo dan barongsai. Sesuai tema mengusung perdamaian. Bagitu juga soal bayaran. Mereka yang mengikuti parade ini menyatakan tak menerima sumbangan agar tertarik mengikuti parade ini. Namun, ditengah riuhnya peserta, dimana juga bendera raksasa dikibarkan, ada segelintir masyarakat yang kecewa dengan parade tersebut. Seperti ada yang dijanjikan  untuk mengikuti acara istighosah di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan. Kenyataan mereka digiring mengikuti parade tersebut dengan hati yang kecewa. Bukannya terdengar alunan merdunya quran, namun alunan musik yang bagi dirinya tak memiliki nilai. (Popi Rahim)