Gestur Ahok dan Pesan Tak Terucapnya

Gestur Ahok dan Pesan Tak Terucapnya
Jakarta, Obsessionnews.com - Pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute (GFI), Hendrajit, menilai keoptimisan Ahok setelah ditetapkan menjadi tersangka atas kasus dugaan penistaan agama oleh Bareskrim pada Rabu (16/11/2016), tersimpan makna mendalam. “Selain masih optimis, tetapi juga dilihat dari gestur yang tersirat, tetapi menyimpan pesan tak terucap. Mukanya tidak seperti dahulu. Kemarahan, kegalauan menjadi satu. Dia memang harus seperti itu, terkesan tidak ada apa-apa,” ungkap Hendrajit saat dihubungi Obsessionnews.com, Kamis (17/11). [caption id="attachment_31089" align="alignleft" width="300"]Pengkaji geopolitik dan Direktur Global Future Institute, Hendrajit. Pengkaji geopolitik dan Direktur Global Future Institute, Hendrajit.[/caption] Ia pun menilai keoptimisan Ahok tersebut merupakan suatu keharusan, sehingga menimbulkan kesan tidak ada apa-apa. Bahkan sebenarnya, saat ini bukan Ahok yang seharusnya menjadi krusial, akan tetapi di balik semua yang terjadi ada konsorsium politik dan ekonomi yang begitu kuat. “Sebenarnya bukan Ahoknya yang menjadi krusial. Di balik itu ada konsorsium politik dan ekonomi yang begitu kuat. Kalau dia tidak begitu dia pasti akan kena marah, sebab kepentingan konsorsium politik punya mata rantai,” tuturnya. Tak hanya itu terkait ketidakpuasan penetapan Ahok yang hanya menjadi tersangka, Hendrajit mengungkapkan masyarakat, ormas dan aktivis harus memahami situasi politik yang saat ini berbeda dari masa dahulu. “Karena situasi politik saat ini berbeda. Jadi memerlukan waktu yang lebih panjang. Tetapi esensinya ditetapkan Ahok sebagai tersangka karena menyangkut omongan Al-Quran surat Al Maidah ayat 51, semua orang sudah tidak melihat dari segi pilkadanya lagi. Tetapi orang akan berpikir apa tindakan Ahok ke depan dengan dirinya seperti itu?” ungkapnya. Menurut Hendrajit, salah satu cara untuk mengubah Indonesia lebih baik adalah dengan lahirnya sebuah mutasi jiwa dalam sanubari yang berarti lahirnya kesadaran baru, pola pikir baru dan pandangan baru. “Kepemimpinan baru itu lahir bukan hanya orangnya saja, diperlukan sosok mutasi jiwa dalam sanubari yang berarti adanya kesadaran baru, pemikiran baru, dan pola pikir baru, misalnya ‘Oh iya selama ini akar permasalahannya ini toh pantes, ternyata langkah kemarin itu salah’ seperti itu,” tuturnya. Sementara itu  aktivis Perempuan Ratna Sarumpaet mengaku tidak puas penetapan status tersangka pada Ahok. Bahkan Ratna berharap Ahok segera ditahan. “Saya pribadi tidak puas Ahok jadi tersangka, dia harus ditangkap,” ungkap Ratna. Rabu (16/11). Tak hanya Ratna, hal senada juga dikatakan Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumatera Selatan, Joncik Muhammad. ”Umat Islam juga jangan mudah puas, karena bisa saja ini rekayasa. Jangan sampai proses itu hilang di tengah jalan,” paparnya. Ketua Forum Umat Islam (FUI) Sumatera Selatan, Umar Said, menengarai status Ahok menjadi tersangka dikhawatirkan seperti kasus Budi Gunawan. "Kami tidak euforia mendengar kabar itu (Ahok tersangka), kami belum puas. Bisa saja Ahok nanti bebas, kasus ini sama saja kayak kasus Budi Gunawan dulu, sekarang malah jadi Kepala BIN," duganya. Lebih lanjut, Hendrajit juga menilai, sikap Presiden RI Joko Widodo menanggapi kasus Ahok terlihat tidak afirmatif, sehingga terkesan mencurigakan. “Saya menilai Jokowi tidak afirmatif, dukung habis Ahok enggak, tapi arahannya juga tidak jelas dan ini menjadi kecurigaan,” sorotnya.  (Aprilia Rahapit)