Album 'Solitude' Gerald Situmorang dan Ruang Musiknya yang Telah Tiada

Jakarta, Obsessionnews.com - Senar gitar nilon dipetik demi petik hingga menjadi sebuah alunan instrumen indah didengar. Riuhan tepuk tangan pun langsung menyelimuti ruangan Ruci Art Space, Jakarta, Selasa (25/10/2016), ketika ia menutup petikannya dengan lembut. Album fisik “Solitude” berhasil diluncurkan oleh si pemilik nama Gerald Situmorang, merilis selama tiga hari di lokasi tersebut. Ia telah menyita ratusan penggemarnya untuk turut hadir melihatnya bermain gitar. Album solitude ini menjadi kebanggaan bagi Gesit, sapaan akrabnya. Pasalnya, ia berkolaborasi dengan musisi lain, di antaranya Tohpati, Erwin Gutawa, Indra Lesmana, Riza Arshad, Aksan Sjuman, Barry Likumahuwa, dan Raisa. Akhirnya keinginan menciptakan album solo berduet dengan alat musik gitarnya ini terwujud. Album ini menjadi kenangan terindah yang didedikasikan untuk ruang bermusiknya yang telah tiada. Pasalnya, ruang musik yang berada di rumah salah satu sahabatnya, Marco Steffiano (drummer Barasuara), akan pindah rumah. [caption id="attachment_161174" align="alignnone" width="640"]
Ruang musik Gerald Situmorang.[/caption] “Proyek musik ini tercetus ketika saya mengetahui jika saya akan kehilangan sebuah tempat yang begitu memiliki pengaruh besar untuk saya pribadi. Sebuah studio yang memberikan banyak inspirasi saya dalam bermusik di rumah salah satu sahabat saya, Marco Steffiano yang akan pindah rumah. Kurang lebih semua proyek musik yang saya jalankan lahir dari ruangan itu. Dan entah mengapa aura, reverb dan sound yang dihasilkan ruangan itu selalu membuat saya pribadi merasa ada keunikan tersendiri,” ujar musisi yang juga tercatat sebagai pemain bass Barasuara Band ini. [caption id="attachment_161085" align="alignnone" width="640"]
Para penggemar serius mendengarkan alunan musik karya Gerald Situmorang.[/caption] Bersama Denis Satria, rekaman tersebut dibuat secara detail dengan tema yang sudah ditentukan. Dalam proses pembuatannya ketika masih ada yang mengganjal, Gesit kembali merekam dengan konsentrasi penuh untuk menemukan satu lagu yang utuh dan sempurna didengar. “Tidak hanya dalam proses aransemennya saja, proses rekaman juga cukup ketat dan menguras pikiran serta tenaga. Itu karena seluruh materi di album “Solitude” bagi saya pribadi sangat personal, maka saya harus bisa memberikan energi itu ke dalam setiap lagu. Semuanya memiliki latar yang berbeda namun tetap bisa diartikan sesuai mereka yang mendengarkan,” ungkap Gerald lagi. Dalam dalam showcase “Nights of Solitude” ini Gerald menampilkan instalasi dari interpretasi albumnya yang sangat personal. Gesit telah sukses mengajak para penonton yang hadir merasakan ruangan yang penuh ikatan emosional, mengingatkan pada karir bermusiknya melalui instalasi dan diorama. [caption id="attachment_161086" align="alignnone" width="480"]
Tampilan album solo Gerald Situmorang.[/caption] Album ini juga disuguhkan berkat kerja samanya bersama seniman, Risa Kumala Sita juga dukungan dari RUCI. Respons positif juga datang dari audiens di mana tiket tiga hari pertunjukan yang berlangsung habis terjual beberapa hari sebelumnya. Ambisi Gesit dalam bermusik ternyata memiliki impian yang luar biasa, ia menargetkan impiannya untuk dapat berkeliling dunia membawakan hasil karyanya. “Ambisi dan harapan bisa berkarier lebih baik dalam bermusik, dan bisa berkeliling dunia membawa karya ciptaan,” tuturnya. Awal perjalanan Gesit berkarier di musik sejak usia 13 tahun. Menggali ilmu dengan Armstong Pitoi dari New breeze selama tiga tahun, termasuk Nikita Dompas yang menjadi gurunya selama setahun untuk mendalami music jazz. Lahir di Jakarta pada 31 Mei 1989, ia terus menggali ilmu bermusiknya dengan mengambil sesi privat di Institut Musik Daya dengan Dion Janapria selama satu semester. Berpartisipasi di "Serambi Jazz Workshop" bersama Florian Ross, Henning Sieverts, Wolfgang Haffner, dan Kai Bruckner, Gesit juga mengambil Masterclass dengan Indra Lesmana. [caption id="attachment_161090" align="aligncenter" width="640"]
Gerald Situmorang beraksi di tengah penonton.[/caption]
Pendalamannya terhadap dunia seni musik sejak kecil ini, membawanya mendapatkan berbagai penghargaan. Untuk pertama kalinya pada gelaran ‘eX Jazz Battle 2009 bersama BAG Trio, dan menerima penghargaan khusus "Excellent Duo in Jazz" dengan Gerald & Ryan di Kompetisi JGTC ke-31, menerima penghargaan "Best Newcomer Artist" dengan Hemiola Quartet dari Jazz Goes To Campus ke-36, festival jazz tertua di Indonesia. Tak hanya itu, prestasi yang didapatkannya mengajaknya berpartisipasi dalam banyak festival paling bergengsi di Indonesia. Seperti Jazz Goes To Campus, Java Jazz Festival, JakJazz Festival, ASEAN Festival Jazz, Java Soulnation, PL Fair dan banyak lagi. Dia juga berpartisipasi dalam World Youth Jazz Fest 2014 di Malaysia. Pada 31 Januari 2010 ia merilis album debutnya bersama Sketsa "Childhood’s Dream". Album tersebut dinominasikan dalam ajang Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2010 dalam kategori "Favorite Jazz Song" juga dinominasikan untuk AMI Awards (Anugerah Musik Indonesia) 2011 untuk kategori Jazz atau Instrumentalia Jazz, artis penampil solo, duo atau group terbaik. Gerald sukses merilis album dengan Hemiola Quartet "Oddventure" pada 22 November 2012, album kedua Sketsa, “Different Seasons” di 22 Mei 2013, diproduseri oleh Tohpati dan dengan Monita Tahalea & The Nightingales "Songs of Praise" pada 21 Agustus 2013 yang diproduseri oleh Indra Lesmana. Album "Time is the Answer" yang dirilis bersama trio-nya, (7 Juni 2014) dinominasikan untuk 2014 Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) dalam kategori "Best Jazz Track" dan duduk di "Indonesia Top 10 Album" selama 5 bulan dalam Rolling Stone Magazine Indonesia (September 2014 - Januari 2015). Gesit sebelumnya telah bergabung dengan Barasuara band pada tahun 2012, ia memainkan bass dan merilis album "Taifun” pada tanggal 22 Oktober 2015. Rolling Stone Indonesia menempatkan album tersebut di nomor dua dalam daftar "20 Best Album Indonesia 2015" dan juga didaulat oleh CNN Indonesia sebagai "10 Best Indonesian Album of 2015". Bersama Barasuara, ia menerima "Best Live Act" dari Rolling Stone Indonesia Editors' Choice Awards 2016 dan dinominasikan untuk "Breakthrough Artist of the Year" dan "Best Album of the Year" dari Indonesian Choice Awards 2016. Pada Desember 2015, Gerald juga sukses memproduseri album “Dandelion”, album kedua dari Monita Tahalea. Diskografi : - Sketsa - "Childhood’s Dream" (2010) - Hemiola Quartet - "Oddventure" (2012) - Sketsa - "Different Seasons" (2013) - Monita Tahalea & the Nightingales - "Song of Praise" (2013) - Gerald Situmorang Trio - "Time is the Answer" (2014) - BARASUARA - "Taifun" (2015) - Gerald Situmorang - "Solitude" (2016). (Aprilia Rahapit)
Ruang musik Gerald Situmorang.[/caption] “Proyek musik ini tercetus ketika saya mengetahui jika saya akan kehilangan sebuah tempat yang begitu memiliki pengaruh besar untuk saya pribadi. Sebuah studio yang memberikan banyak inspirasi saya dalam bermusik di rumah salah satu sahabat saya, Marco Steffiano yang akan pindah rumah. Kurang lebih semua proyek musik yang saya jalankan lahir dari ruangan itu. Dan entah mengapa aura, reverb dan sound yang dihasilkan ruangan itu selalu membuat saya pribadi merasa ada keunikan tersendiri,” ujar musisi yang juga tercatat sebagai pemain bass Barasuara Band ini. [caption id="attachment_161085" align="alignnone" width="640"]
Para penggemar serius mendengarkan alunan musik karya Gerald Situmorang.[/caption] Bersama Denis Satria, rekaman tersebut dibuat secara detail dengan tema yang sudah ditentukan. Dalam proses pembuatannya ketika masih ada yang mengganjal, Gesit kembali merekam dengan konsentrasi penuh untuk menemukan satu lagu yang utuh dan sempurna didengar. “Tidak hanya dalam proses aransemennya saja, proses rekaman juga cukup ketat dan menguras pikiran serta tenaga. Itu karena seluruh materi di album “Solitude” bagi saya pribadi sangat personal, maka saya harus bisa memberikan energi itu ke dalam setiap lagu. Semuanya memiliki latar yang berbeda namun tetap bisa diartikan sesuai mereka yang mendengarkan,” ungkap Gerald lagi. Dalam dalam showcase “Nights of Solitude” ini Gerald menampilkan instalasi dari interpretasi albumnya yang sangat personal. Gesit telah sukses mengajak para penonton yang hadir merasakan ruangan yang penuh ikatan emosional, mengingatkan pada karir bermusiknya melalui instalasi dan diorama. [caption id="attachment_161086" align="alignnone" width="480"]
Tampilan album solo Gerald Situmorang.[/caption] Album ini juga disuguhkan berkat kerja samanya bersama seniman, Risa Kumala Sita juga dukungan dari RUCI. Respons positif juga datang dari audiens di mana tiket tiga hari pertunjukan yang berlangsung habis terjual beberapa hari sebelumnya. Ambisi Gesit dalam bermusik ternyata memiliki impian yang luar biasa, ia menargetkan impiannya untuk dapat berkeliling dunia membawakan hasil karyanya. “Ambisi dan harapan bisa berkarier lebih baik dalam bermusik, dan bisa berkeliling dunia membawa karya ciptaan,” tuturnya. Awal perjalanan Gesit berkarier di musik sejak usia 13 tahun. Menggali ilmu dengan Armstong Pitoi dari New breeze selama tiga tahun, termasuk Nikita Dompas yang menjadi gurunya selama setahun untuk mendalami music jazz. Lahir di Jakarta pada 31 Mei 1989, ia terus menggali ilmu bermusiknya dengan mengambil sesi privat di Institut Musik Daya dengan Dion Janapria selama satu semester. Berpartisipasi di "Serambi Jazz Workshop" bersama Florian Ross, Henning Sieverts, Wolfgang Haffner, dan Kai Bruckner, Gesit juga mengambil Masterclass dengan Indra Lesmana. [caption id="attachment_161090" align="aligncenter" width="640"]
Gerald Situmorang beraksi di tengah penonton.[/caption]
Pendalamannya terhadap dunia seni musik sejak kecil ini, membawanya mendapatkan berbagai penghargaan. Untuk pertama kalinya pada gelaran ‘eX Jazz Battle 2009 bersama BAG Trio, dan menerima penghargaan khusus "Excellent Duo in Jazz" dengan Gerald & Ryan di Kompetisi JGTC ke-31, menerima penghargaan "Best Newcomer Artist" dengan Hemiola Quartet dari Jazz Goes To Campus ke-36, festival jazz tertua di Indonesia. Tak hanya itu, prestasi yang didapatkannya mengajaknya berpartisipasi dalam banyak festival paling bergengsi di Indonesia. Seperti Jazz Goes To Campus, Java Jazz Festival, JakJazz Festival, ASEAN Festival Jazz, Java Soulnation, PL Fair dan banyak lagi. Dia juga berpartisipasi dalam World Youth Jazz Fest 2014 di Malaysia. Pada 31 Januari 2010 ia merilis album debutnya bersama Sketsa "Childhood’s Dream". Album tersebut dinominasikan dalam ajang Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2010 dalam kategori "Favorite Jazz Song" juga dinominasikan untuk AMI Awards (Anugerah Musik Indonesia) 2011 untuk kategori Jazz atau Instrumentalia Jazz, artis penampil solo, duo atau group terbaik. Gerald sukses merilis album dengan Hemiola Quartet "Oddventure" pada 22 November 2012, album kedua Sketsa, “Different Seasons” di 22 Mei 2013, diproduseri oleh Tohpati dan dengan Monita Tahalea & The Nightingales "Songs of Praise" pada 21 Agustus 2013 yang diproduseri oleh Indra Lesmana. Album "Time is the Answer" yang dirilis bersama trio-nya, (7 Juni 2014) dinominasikan untuk 2014 Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) dalam kategori "Best Jazz Track" dan duduk di "Indonesia Top 10 Album" selama 5 bulan dalam Rolling Stone Magazine Indonesia (September 2014 - Januari 2015). Gesit sebelumnya telah bergabung dengan Barasuara band pada tahun 2012, ia memainkan bass dan merilis album "Taifun” pada tanggal 22 Oktober 2015. Rolling Stone Indonesia menempatkan album tersebut di nomor dua dalam daftar "20 Best Album Indonesia 2015" dan juga didaulat oleh CNN Indonesia sebagai "10 Best Indonesian Album of 2015". Bersama Barasuara, ia menerima "Best Live Act" dari Rolling Stone Indonesia Editors' Choice Awards 2016 dan dinominasikan untuk "Breakthrough Artist of the Year" dan "Best Album of the Year" dari Indonesian Choice Awards 2016. Pada Desember 2015, Gerald juga sukses memproduseri album “Dandelion”, album kedua dari Monita Tahalea. Diskografi : - Sketsa - "Childhood’s Dream" (2010) - Hemiola Quartet - "Oddventure" (2012) - Sketsa - "Different Seasons" (2013) - Monita Tahalea & the Nightingales - "Song of Praise" (2013) - Gerald Situmorang Trio - "Time is the Answer" (2014) - BARASUARA - "Taifun" (2015) - Gerald Situmorang - "Solitude" (2016). (Aprilia Rahapit) 




























