Pendidikan Vokasi Berpeluang Besar Hadapi MEA

Malang - Obsessionnews.com - Di sela-sela kunjungan kerja di daerah asal pemilihannya, Malang Raya, Anggota Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam menghadiri acara wisuda ke-6 Politeknik Malang di Hotel Santika, Sabtu (29/10/2016). Acara ini juga dihadiri mantan Wali Kota Malang Peni Suparto dan segenap sivitas akademik. Dalam kesempatan tersebut, Ridwan Hisjam menyampaikan peran pendidikan vokasi dalam menghadapi MEA. Ia mengawalinya dengan mengatakan bahwa tujuan pendidikan nasional antara lain menciptakan peserta didik menjadi manusia yang berilmu, cakap, kreatif dan mandiri dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. "Kalimat inilah saya kira yang memiliki pesan dan mandat perlunya pendidikan vokasi dalam sistem pendidikan nasional," ujar Ridwan yang juga Mantan Pimpinan DPRD Jawa Timur. Ridwan mengatakan, pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana. Ia melihat pendidikan tinggi di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, Kelompok pendidikan akademik yang dalam proses pendidikan dan pengajarannya memiliki fokus dalam penguasaan ilmu pengetahuan bagi para lulusannya. "Kedua, adalah kelompok pendidikan vokasi lebih menitikberatkan pengajaran dan proses pendidikannya pada persiapan lulusan agar dapat mengaplikasikan keahliannya," terangnya. Menurut Ridwan, Politeknik sendiri merupakan perguruan tinggi yang menerapkan sistem pendidikan vokasi. Artinya lebih pada penyiapan alumni untuk langsung menerapkan keahliannya. Sebab itu, lulusanya diharapkan bisa bersaing menghadapi MEA. "MEA merupakan Integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN yang tujuannya untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota-anggota di dalamnya," terangnya.
Terlebih Ridwan menyebut Politeknik Malang merupakan perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur setelah Surabaya. Dengan begitu, secara tidak langsung perguruan ini punya modal dan peluang untuk menciptakan lulusan yang siap menghadapi MEA di era globalisasi ini. "Dengan adanya MEA kesempatan kerja yang luas dengan berbagai kebutuhan dan keahlian yang beraneka ragam, serta akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah, bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu," jelasnya. Namun demikian untuk tingkat dunia, tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana peningkatan pendidikan nasional agar sumber daya manusia Indonesia mampu bersaing. Pasalnya, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih kalang saing dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. "Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN," jelasnya. Guna menciptakan daya saing itu, Ridwan menilai pendidikan vokasi profesi harus terus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga menghasilkan tenaga kerja yang lebih siap untuk dunia kerja dan bisa menjawab gap rendahnya tenaga kerja lulusan perguruan tinggi. "Dalam konteks ini, politeknik kota Malang harus melakukan pembinaan kepada pendidikan vokasi yang ada di bawah politekni yaitu SMK dan akademi komunitas," jelasnya. Terakhir Ridwan, menyampaikan bahwa tantangan kedepan akan semakin berat, pengetahuan dan gelar sarjana saja tidak cukup. Pengetahuan dan gelar sarjana harus diiringi dengan kemampuan dan kompetensi. MEA merupakan peluang sekaligus tantangan. Oleh karena itu, segera berbenah diri untuk melihat peluang dan tantangan tersebut. (Albar)
Terlebih Ridwan menyebut Politeknik Malang merupakan perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur setelah Surabaya. Dengan begitu, secara tidak langsung perguruan ini punya modal dan peluang untuk menciptakan lulusan yang siap menghadapi MEA di era globalisasi ini. "Dengan adanya MEA kesempatan kerja yang luas dengan berbagai kebutuhan dan keahlian yang beraneka ragam, serta akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah, bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu," jelasnya. Namun demikian untuk tingkat dunia, tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana peningkatan pendidikan nasional agar sumber daya manusia Indonesia mampu bersaing. Pasalnya, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih kalang saing dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. "Indonesia berada pada peringkat keempat di ASEAN," jelasnya. Guna menciptakan daya saing itu, Ridwan menilai pendidikan vokasi profesi harus terus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga menghasilkan tenaga kerja yang lebih siap untuk dunia kerja dan bisa menjawab gap rendahnya tenaga kerja lulusan perguruan tinggi. "Dalam konteks ini, politeknik kota Malang harus melakukan pembinaan kepada pendidikan vokasi yang ada di bawah politekni yaitu SMK dan akademi komunitas," jelasnya. Terakhir Ridwan, menyampaikan bahwa tantangan kedepan akan semakin berat, pengetahuan dan gelar sarjana saja tidak cukup. Pengetahuan dan gelar sarjana harus diiringi dengan kemampuan dan kompetensi. MEA merupakan peluang sekaligus tantangan. Oleh karena itu, segera berbenah diri untuk melihat peluang dan tantangan tersebut. (Albar) 




























