Dokter Kecil Award 2016 Diikuti 45 Anak Se-Indonesia

Jakarta, Obsessionnews.com - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Reckitt Benckiser (RB) Indonesia akan menyelenggaraan Dokter Kecil Award 2016 pada 14-17 November 2016 mendatang. Program tahunan yang mengusung tema “Suara Anak Bangsa, Sehatkan Bangsa” ini diikuti oleh oleh 45 anak usia SD dari seluruh Indonesia. Ketua Umum IDI, Prof. Dr. dr. Ilham Oetama Marsis, Sp.OG(K) mengatakan, bahwa penyelenggaraan Dokter Kecil Award merupakan hasil kerjasama antara IDI dan Reckitt Benckiser, langkah positif dalam mewujudkan Indonesia yang sehat. “IDI menyambut baik kerjasama ini dan berharap semakin banyak pihak swasta yang mengikuti jejak Reckit Benckiser untuk turut berperan serta dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia yang lebih baik lagi, khususnya dalam bidang kesehatan,” ujar Ilham dalam keterangan tertulis yang diterima Obsessionnews.com, Kamis (27/10/2016). Tak heran, lanjut Ilham, melalui berbagai kegiatan dalam mengelola kebersihan dan kesehatan yang berada di bawah naungan Misi Hidup Sehat bersama Dettol, kami berupaya untuk terus membantu mewujudkan Indonesia yang sehat. Di antaranya dengan memberikan edukasi kepada anak usia dini akan pentingnya membangun kebiasaan bersih dan sehat. Sementara Ahmad Faraz Shamsi, Marketing Director Reckitt Benckiser Indonesia, menjelaskan, program Dokter Kecil Award ini adalah salah satu program edukasi dan pembinaan kepada anak usia dini. Program tahun ini bertujuan untuk mendorong anak-anak usia SD agar terus membuat perubahan positif dan berkontribusi terhadap lingkungannya, terutama di bidang kesehatan. Peserta Dokter Kecil Award adalah siswa-siswi SD yang telah melalui hasil seleksi di masing-masing daerah, yang kemudian akan dipilih satu anak untuk dinobatkan menjadi Duta Kesehatan Sekolah Indonesia. Selama tiga hari, pada 14-17 November 2016, para finalis Dokter Kecil akan dikarantina untuk diberi pelatihan dan pembinaan mengenai kepemimpinan, pengembangan diri, komunikasi, sosial, budaya serta kesehatan masyarakat. Konsep pelatihan dan pembinaan yang diterapkan bersifat active learning, dimana setiap anak akan mendapatkan pemahaman melalui pengalaman secara langsung yang didapatkan selama masa karantina. (Popi Rahim)





























