Sajak Untuk Gus Dur, Santri Sejati

Jakarta, Obsessionnews.com - Hari Santri Nasional telah lama menjadi obsesi umat Islam. Namun, baru di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hal itu terwujud. Tahun 2015 Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober adalah Hari Santri Nasional. Berbicara tentang Hari Santri Nasional rasanya kurang afdol jika tidak menyinggung sosok Presiden keempat KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Dia menduduki kursi Presiden pada periode 1999-2001. Sejatinya Gus Dur berkuasa hingga 2004. Namun akibat pergolakan politik ia dilengserkan dari jabatannya oleh MPR pada Juli 2001. Gus Dur cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari. Gus Dur menjadi santri di pesantren, dan juga pernah menimba ilmu di Irak. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini dikenal figur yang gencar menyuarakan toleransi umat beragama di Indonesia. Tanggal 30 Desember 2009 Gus Dur meninggal dunia karena sakit dalam usia 69 tahun. Gus Dur memiliki kenangan tersendiri di hati pengamat politik dari Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam. Sebelumnya Hikam adalah peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kemudian ia diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Ketika Gus Dur lengser pada 2001, Hikam pun terpental dari kabinet. Hikam menyebut Gus Dur Santri sejati. Menurut Hikam, jalan hidup Gus Dur adalah jalan seorang santri.Tak pernah berhenti mengikuti jalan Nabi. Untuk memperingati Hari Santri Nasional Hikam menulis sebuah puisi berjudul "Sajak Untuk Gus Dur, Santri Sejati" yang dimuat di blog The Hikam Forum, Minggu (23/10/2016). Berikut ini kutipan puisi karya Hikam: SAJAK UNTUK GUS DUR, SANTRI SEJATI (Memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016) Oleh: Muhammad AS Hikam (Arif RH)
I
Gerimis pagi membawa anganku padamu, Gus
Rindu bercampur duka yang tak mau putus
Walau aku selalu berjanji berusaha tulus
Walau doaku untukmu tak pernah hapus
Yang kini di alam nan kudus
Izinkan aku mengenangmu di hari Santri
Kerna engkau adalah santri sejati
Kerna engkau adalah sejatinya
Hidupmu dan perjuanganmu melampaui kepentingan
Tetapi engkau persembahkan ‘tuk Ibu Pertiwi
Jalan hidupmu adalah jalan seorang santri
Tak pernah berhenti mengikuti jalan Nabi
Mencari ilmu menjelajah negeri-negeri
Membawa pencerahan bagi anak bangsa yang berbagai
Demi masyarakat damai dan harmoni
Perjalanan hidupmu tak pernah mudah
Bahkan ada yang bilang engkau kalah
Dijatuhkan dari kekuasaan, meninggalkan Istana megah
Dikhianati, dimusuhi, dibohongi, dan difitnah
Bahkan dituduh kafir pun engkau pernah
Tapi engkau adalah santri sejati
Jalan hidupmu kau pasrahkan kehendak Sang Robbi
Kemenangan dan kekalahan hanyalah kategori
Yang datang dan pergi, dari yang suka dan benci
Bukan kenyataan dan kebenaran hakiki
Kepergianmu yang terlampau segera
Malah bukti perjuanganmu tak sia-sia
Kata-katamu kini adalah oase bagi kafilah yang dahaga
Sumber inspirasi dan imajinasi tak lapuk oleh masa
Memicu rindu padamu ketika negeri ini terancam petaka
II
Sepeninggalmu, Gus, negeri ini goncang
Sementara ummat Islam kian suka cari menang
Dalih mayoritas dan kekuatan pedang
Merasa paling didzolimi, lalu meradang
Mengajak bertarung, memekikkan seruan perang
Penguasa seringkali tampil gamang
Sedang kekerasan dan keberingasan terang benderang
Mereka takut dan dituding sebagai penentang
Pidato-pidato dan khotbah-khotbah meradang
Mengajak, menyeru, dan mendorong perang
Seperti dhawuh Hujjatul Islam Imam Ghozali
“Kekufuran di dunia ini terjadi
Kerna prilaku yang berkarakter jahili”
Keberagamaan tampil sangar dan ngeri
Meninggalkan sifat “Rahman dan Rahim” Ilahi
Fatwa agama menjadi bagian integral politisasi
Agamawan menjadi peneguh dan pembela politisi
Mereka turun berunjuk rasa dan berorasi
Membakar kemarahan dan kebencian tanpa henti
Membawa ummat mereka bercerai berai
Kekerasan dan paksaan menjadi alat penyelesaian
Bukan dialog dan mencari titi-titik kesepahaman
Hukum dipakai jika ia akan menguntungkan
Tapi dicampakkan jika ia dianggap merugikan
Apapun akan ditopang dalil jika sesuai kepentingan
III
Gus, jika aku kini rindu dan duka
Bukan karena aku sedang putus asa
Tetapi rindu keteguhanmu menyongsong derita
Dan duka kerna negeri ini seolah tanpa penjaga
Ratusan juta manusia seperti tak berdaya
Menghadapi kekuatan destruktif bersimaharaja
Gus, hari ini adalah hari Santri Nasional
Kutahu engkau tak minta untuk dikenal
Perjalanan hidupmu, cermin nan kekal
bagi para ‘Santri sejati’ ia adalah bekal
Bagi ‘sejatinya santri’ , engkau sosok ideal
Gus, perjuangan mencapai cita-citamu masih panjang
Halangan dan rintangan masih malang melintang
Ada saatnya lelah, was was, dan gamang
Perjuanganmu menjadi pengingat dan perlambang
Agar semangat tak lekas lekang.
(Pamulang, Hari Santri Nasional 2016)





























