Perlu Manusia Unggul Bangun Pertanian dan Sejahterakan Petani

Jakarta, Obsessionnews.com – Ternyata, terlihat begitu pentingnya kehadiran manusia unggul untuk membangun pertanian dan mensejahterakan petani. Hal ini ditemukan pihak Komunitas Usaha Pertanian Sentra Usaha Tani dan Agribisnis Nusantara (KUP SUTA Nusantara) saat turun langsung ke lapangan dalam kegiatan sehari-hari. "Berapa pun dana triliunan dibagikan, dan berapa pun tehnologi canggihnya alat dan mesin diberikan, dan berapa pun luas lahan baru yang buka serta berapa pun jumlah petani yang turun ke ladang. Selama itu tidak mampu menciptakan sistem regenerasi sumber daya manusia di lingkungan pertanian maka ketahanan dan kedaulatan pangan hanya akan menjadi slogan semata dan Petani tetap menjadi masyarakat miskin," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat KUP SUTA Nusantara, Dadung Hari Setyo, Jumat (7/10/2016).
Menurut Dadung, ulasan ini merupakan hasil dari masukan para anggota KUP SUTA Nusantara dari berbagai daerah untuk yang dirangkum menjadi sebuah pandangan dan memperkuat konsep program yang lebih baik. Berikut ulasan tersebut: Rapuhnya Regenerasi Petani di Masyarakat Telah menjadi keprihatinan semua pihak bahwa sepuluh tahun lbh dan sampai saat ini mayoritas petani adalah mereka orang tua yg umurnya 45 tahun keatas dengan lahan yg terbatas dan alat pertanian seadanya. Sehingga hasil bekerjanyapun tidak dapat mencukupi dan mensejahterakan kluarganya. Sementara disisi lain pemuda anak petani lebih suka bekerja di kota sebagai tenaga kerja industri atau jasa lainnya di banding harus bekerja sebagai petani seperti orang tuanya. Sehingga lebih lanjut di desa sepi dengan potensi tenaga muda dan yang banyak adalah para orang tua sebagai petani dan anak-anak di bawah usia kerja. Kondisi seperti inilah yang terjadi di banyak daerah dan pinggiran kota. Lebih prihatin lagi seiring dengan waktu tanah pertaniannya mereka semakin lama semakin susut selain faktor ekologis lingkungan yang semakin rusak karena banyak alih fungsi lahan yang tidak terkontrol dan menurunnya hasil produksi panen menambah rasa putus asa para petani untuk menjual tanah ke orang lain yg ingin berivestasi tanah. Dan kini lahan pertanian didesa telah menjadi daya tarik orang kota untuk berinvestasi, kosekuensi slnjutnya akan terjadi petani yang dulunya memiliki tanah akan menjadi buruh tani di bekas tanahnya sendiri. Janganlah petani tersebut memikirkan untuk mempertahankan eksistensinya apalagi untuk bersaing tentu jauh dari sebuah harapan. Selanjutnya bagaimana mereka harus dituntut untuk berperan dalam ketahanan dan kedaulatan pangan? Tentu sulit diharapkan juga bila regenerasi petani rapuh dan tidak berjalan sesuai dg perkembangan kemajuan pembangunan pertanian!! Barangkali ini yang sebagian besar terjadi di daerah dan kondisi kita ini yang banyak kami temukan dan diinfokan oleh jaringan KUP SUTA Nusantara di beberapa daerah khususnya Jabar, Banten, Jatim, Jateng, Yogya, Sumsel, Lampung, NTB, dan beberapa wilayah di Sulawesi, dan sebagainya.
Perlu Komitmen Pemerintah Wujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional Pada prinsipnya banyak pihak sangat bangga dengan komitmen pemerintah dlm mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan, walaupun pola dilakukan masih cenderung masih sporadis. Hal harus disadari bahwa tenaga pelaksana program ketahanan dan kedaulatan pangan di daerah secara struktural sangat terbatas, baik secara kuantitas atau jumlah tenaga pelaksana spt PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) di satu wilayah kecamatan saja belum cukup untuk bisa menggerak atau memobilisasi petani di desa yang jumlahnya puluhan ribu orang dan puluhan ribu hektar lahan pertanian. Artinya tenaga pelaksana secara struktural belum mewadahi untuk sebuah program yang masif guna dijalankan dan memenuhi target. Selain itu secara kualitas tenaga pelaksana program tersebut belum ter up grade sesuai dengan target yang diinginkan. Syukur Alhamdulillah partisipasi para pelopor dan tokoh dilingkungan pertanian sangat antusias menyambut program ketahanan dan kedaulatan pangan tersebut, terlebih lagi besarnya dukungan TNI untuk mengawal dan membantu kesuksesan program tersebut. Walaupun demikian perjalanan pelaksanaan program ketahanan dan kedaulatan pangan harus tetap serius di lakukan monitoring fan supervising dg baik, sembari secara bertahap di lakukan perbaikan pola pelaksanaannya. Salah satu kelemahan dalam setiap kinerja program pemerintah biasa adalah melupakan kesulitan dikala ada kemudahan dan berebut prestasi krn ego sektoral, yg akhirnya program yg awalnya berjalan baik terpaksa berhenti ditengah jalan karena banyak over lapping dan over locking pelaksanaan dilapangan, persaingan tidak sehat pasti akan terjadi.
Peran Kementrian Pertanian sebagai leading sektor harus mampu menjadi komando yg berwibawa, harus mampu menata secara tehnis operasional secra kordinatif kondusif dan integratif dan tegas dlm melakukan evaluasi dan supervisi. Akan sulit bila komanda program ketahanan dan kedaulatan pangan kordinasinya ada dua matahari kebijakan. Dalam aspek partisipasi peyani dlm program ini sebaik kata-kata bantuan sosial atau bansos diubah menjadi bantuan partisipasi kepada petani, sangat melemahkan sekali kata-kata bansos atau bantuan sosial seperti menempatkan petani sebagai pekerja sosial pangan saja akan lebih elok bila diubah bantuan partidipasi kepa oetani yg peduli dengan program keyahan dan kedaultan pangan. Ketika petani tsb kurang partisipatif sepertinya tidak perlu dibantu karena percuma membantu petani bila hasilnya tidak nampak dalam program keyahan dan kedaulatan pangan. Dan agar petani tsb punya pontensi partisipatif maka perlu di bekali tentang pengetahuan program ketahan dan kedaulatan pangan serta di bekali pula keterampilan-keterampilan baru untuk memajukan pola kerja mereka agar hasil produksi panen the best selalu terbaik, bukan hanya sekedarnya. Bila hanya tidak dilakulan maka biaya yg besar, alat dan mesin yg cangih serta jutaan petani yg bekerja akan sulit di prediksi bahwa program keyahan dan kedaulatan pangan akan sukses terwujud.
Jadikan Petani sebagai Manusia Unggul Kini, perlu menjadikan petani yang sukses dalam mewujudkan program ketahanan dan kedaulatan pangan. Selama ini, petani sering terlupakan, banyak orang sering melupakan jasa nya petani dan petanipun tidak tidak memiliki gelar atas jasanya. Sampai sekarang petani bukan menjadi status profesi yg di apresiasi secara keilmuam maupun ketrampilan yang diutamakan, dibanding perbengkelan (montir) dan buruh pabrik. Oleh karena itulah perlu kerangka komitmen pemerintah untuk membina, mengembangkan serta meningkatkan potensi profesi petani yg lebih baik dan memuliakan kehidupan petani dengan sistem jaminan kesejahteraan petani dan keluarganya, seperti sekolah dan kuliah beasiswa untuk pendidikan dan keyrampilan di bidang pertanian, bantuan partisipasi yg bersifat langsung serta jaminan hari tua sejenis pensiun dsbnya. Hal tersebut diatas penting untuk diwujudkan krn petani punya tugas yg sangat mulai dan sangat berat, tugas mulia petani selalu bekerja tanpa lelah untuk menghasilkan pangan bagi masyarakat dan menyukseskan tugas pemerintah di sisi lain berat karena petani dlm unit produksi pangan sll berada di lahan berkerja di teriknya panas matahari dan kadang di detasnya hujan dan memperoleh keuntungan yg paling minim di banding dg para pedagang dan pengusaha pangan yg membeli hasil panennya para petani. Kemuliaan dan kerja keras petani inilah yg seharus menjadi fokus perhatian untuk ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilanya agar para petani memiliki keunggulan. Dari perpektif itulah Kami KUP SUTA Nusantara merasa tertantang untuk berpikir keras dan mengkaji secara mendalam untuk membuat pola dan tahapan pendidikan dan pelatihan MANUSI UNGGUL untuk menciptakan regenerasi dan jenjang kopetensi petani yg potensial, handal berkekuatan kerja yg progresif dan berdaya saing sesuai perkembangan dan kemajuan jaman.
KUP SUTA Nusantara bersyukur karena hal itu sudah diawali sejak 3 tahun lalu di lapangan spt di klurahan sei seluncah dan skitarnya di kecamatan kalidoni kota palembng sumsel petani binaan kita mampu membuat sentra budi daya padi dan produksi beras dg luas area 1500 ha lebih yg juga dibantu oleh Kodam Sriwijaya, setra Budi Daya Bawang di Desa Cimenyan Kec Cimenyan Kab Bandung Jabar seluas 500 hektar yang disupport oleh Kodam Siliwangi dan masih banyak sentra dalam skala yang lebih kecil dan yang baru dimulai. Berdasarkan dari permasalah dan partisipasi program ketahanan dan kedaulatan pangan serta pengalaman oruentasi lapangan slma 3 tahun lebih itulah semakin menguatkan tekant kami KUP SUTA Nusantara bahwa manusia unggul itu adalah petani, petani yg berhati mulia dan bekerja keras, petani yg berpengetahuan dan berketrampilan sesuai dg perkembangan dan kemajuan jaman itulah kemudian kita sebut petani yang selalu berkemampuan untuk mencapai the best movement dan the best moment. Oleh karena itu, Dadung berharap, di awal tahun 2017 pihaknya dapat menemukan pola manajemen lapangan untuk membuat sistem strategi implementasi pelaksanaan program dan usaha di bidang pertanian yang lebih konferhensif, integreted sustainable dan univesal, serta meningkatkan perluasan kerjasama dengan semua pihak khususnya komponen kepemudaan di desa seperti karang taruna dan pendidikan seperti pramuka. “Terlebih khusus lagi adalah mengajak para pemuka atau tokoh agama serta adat budaya untuk bersama memberikan support kepada petani untuk menjadi manusia unggul yang sebenarnya. Sehingga pertanian tidak dipandang lagu sebagai dunia yang sempit dan terpencil dari pandangan kita semua,” tutup Ketua Umum KUP SUTA Nusantara. (Red) 
Menurut Dadung, ulasan ini merupakan hasil dari masukan para anggota KUP SUTA Nusantara dari berbagai daerah untuk yang dirangkum menjadi sebuah pandangan dan memperkuat konsep program yang lebih baik. Berikut ulasan tersebut: Rapuhnya Regenerasi Petani di Masyarakat Telah menjadi keprihatinan semua pihak bahwa sepuluh tahun lbh dan sampai saat ini mayoritas petani adalah mereka orang tua yg umurnya 45 tahun keatas dengan lahan yg terbatas dan alat pertanian seadanya. Sehingga hasil bekerjanyapun tidak dapat mencukupi dan mensejahterakan kluarganya. Sementara disisi lain pemuda anak petani lebih suka bekerja di kota sebagai tenaga kerja industri atau jasa lainnya di banding harus bekerja sebagai petani seperti orang tuanya. Sehingga lebih lanjut di desa sepi dengan potensi tenaga muda dan yang banyak adalah para orang tua sebagai petani dan anak-anak di bawah usia kerja. Kondisi seperti inilah yang terjadi di banyak daerah dan pinggiran kota. Lebih prihatin lagi seiring dengan waktu tanah pertaniannya mereka semakin lama semakin susut selain faktor ekologis lingkungan yang semakin rusak karena banyak alih fungsi lahan yang tidak terkontrol dan menurunnya hasil produksi panen menambah rasa putus asa para petani untuk menjual tanah ke orang lain yg ingin berivestasi tanah. Dan kini lahan pertanian didesa telah menjadi daya tarik orang kota untuk berinvestasi, kosekuensi slnjutnya akan terjadi petani yang dulunya memiliki tanah akan menjadi buruh tani di bekas tanahnya sendiri. Janganlah petani tersebut memikirkan untuk mempertahankan eksistensinya apalagi untuk bersaing tentu jauh dari sebuah harapan. Selanjutnya bagaimana mereka harus dituntut untuk berperan dalam ketahanan dan kedaulatan pangan? Tentu sulit diharapkan juga bila regenerasi petani rapuh dan tidak berjalan sesuai dg perkembangan kemajuan pembangunan pertanian!! Barangkali ini yang sebagian besar terjadi di daerah dan kondisi kita ini yang banyak kami temukan dan diinfokan oleh jaringan KUP SUTA Nusantara di beberapa daerah khususnya Jabar, Banten, Jatim, Jateng, Yogya, Sumsel, Lampung, NTB, dan beberapa wilayah di Sulawesi, dan sebagainya.
Perlu Komitmen Pemerintah Wujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional Pada prinsipnya banyak pihak sangat bangga dengan komitmen pemerintah dlm mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan, walaupun pola dilakukan masih cenderung masih sporadis. Hal harus disadari bahwa tenaga pelaksana program ketahanan dan kedaulatan pangan di daerah secara struktural sangat terbatas, baik secara kuantitas atau jumlah tenaga pelaksana spt PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) di satu wilayah kecamatan saja belum cukup untuk bisa menggerak atau memobilisasi petani di desa yang jumlahnya puluhan ribu orang dan puluhan ribu hektar lahan pertanian. Artinya tenaga pelaksana secara struktural belum mewadahi untuk sebuah program yang masif guna dijalankan dan memenuhi target. Selain itu secara kualitas tenaga pelaksana program tersebut belum ter up grade sesuai dengan target yang diinginkan. Syukur Alhamdulillah partisipasi para pelopor dan tokoh dilingkungan pertanian sangat antusias menyambut program ketahanan dan kedaulatan pangan tersebut, terlebih lagi besarnya dukungan TNI untuk mengawal dan membantu kesuksesan program tersebut. Walaupun demikian perjalanan pelaksanaan program ketahanan dan kedaulatan pangan harus tetap serius di lakukan monitoring fan supervising dg baik, sembari secara bertahap di lakukan perbaikan pola pelaksanaannya. Salah satu kelemahan dalam setiap kinerja program pemerintah biasa adalah melupakan kesulitan dikala ada kemudahan dan berebut prestasi krn ego sektoral, yg akhirnya program yg awalnya berjalan baik terpaksa berhenti ditengah jalan karena banyak over lapping dan over locking pelaksanaan dilapangan, persaingan tidak sehat pasti akan terjadi.
Peran Kementrian Pertanian sebagai leading sektor harus mampu menjadi komando yg berwibawa, harus mampu menata secara tehnis operasional secra kordinatif kondusif dan integratif dan tegas dlm melakukan evaluasi dan supervisi. Akan sulit bila komanda program ketahanan dan kedaulatan pangan kordinasinya ada dua matahari kebijakan. Dalam aspek partisipasi peyani dlm program ini sebaik kata-kata bantuan sosial atau bansos diubah menjadi bantuan partisipasi kepada petani, sangat melemahkan sekali kata-kata bansos atau bantuan sosial seperti menempatkan petani sebagai pekerja sosial pangan saja akan lebih elok bila diubah bantuan partidipasi kepa oetani yg peduli dengan program keyahan dan kedaultan pangan. Ketika petani tsb kurang partisipatif sepertinya tidak perlu dibantu karena percuma membantu petani bila hasilnya tidak nampak dalam program keyahan dan kedaulatan pangan. Dan agar petani tsb punya pontensi partisipatif maka perlu di bekali tentang pengetahuan program ketahan dan kedaulatan pangan serta di bekali pula keterampilan-keterampilan baru untuk memajukan pola kerja mereka agar hasil produksi panen the best selalu terbaik, bukan hanya sekedarnya. Bila hanya tidak dilakulan maka biaya yg besar, alat dan mesin yg cangih serta jutaan petani yg bekerja akan sulit di prediksi bahwa program keyahan dan kedaulatan pangan akan sukses terwujud.
Jadikan Petani sebagai Manusia Unggul Kini, perlu menjadikan petani yang sukses dalam mewujudkan program ketahanan dan kedaulatan pangan. Selama ini, petani sering terlupakan, banyak orang sering melupakan jasa nya petani dan petanipun tidak tidak memiliki gelar atas jasanya. Sampai sekarang petani bukan menjadi status profesi yg di apresiasi secara keilmuam maupun ketrampilan yang diutamakan, dibanding perbengkelan (montir) dan buruh pabrik. Oleh karena itulah perlu kerangka komitmen pemerintah untuk membina, mengembangkan serta meningkatkan potensi profesi petani yg lebih baik dan memuliakan kehidupan petani dengan sistem jaminan kesejahteraan petani dan keluarganya, seperti sekolah dan kuliah beasiswa untuk pendidikan dan keyrampilan di bidang pertanian, bantuan partisipasi yg bersifat langsung serta jaminan hari tua sejenis pensiun dsbnya. Hal tersebut diatas penting untuk diwujudkan krn petani punya tugas yg sangat mulai dan sangat berat, tugas mulia petani selalu bekerja tanpa lelah untuk menghasilkan pangan bagi masyarakat dan menyukseskan tugas pemerintah di sisi lain berat karena petani dlm unit produksi pangan sll berada di lahan berkerja di teriknya panas matahari dan kadang di detasnya hujan dan memperoleh keuntungan yg paling minim di banding dg para pedagang dan pengusaha pangan yg membeli hasil panennya para petani. Kemuliaan dan kerja keras petani inilah yg seharus menjadi fokus perhatian untuk ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilanya agar para petani memiliki keunggulan. Dari perpektif itulah Kami KUP SUTA Nusantara merasa tertantang untuk berpikir keras dan mengkaji secara mendalam untuk membuat pola dan tahapan pendidikan dan pelatihan MANUSI UNGGUL untuk menciptakan regenerasi dan jenjang kopetensi petani yg potensial, handal berkekuatan kerja yg progresif dan berdaya saing sesuai perkembangan dan kemajuan jaman.
KUP SUTA Nusantara bersyukur karena hal itu sudah diawali sejak 3 tahun lalu di lapangan spt di klurahan sei seluncah dan skitarnya di kecamatan kalidoni kota palembng sumsel petani binaan kita mampu membuat sentra budi daya padi dan produksi beras dg luas area 1500 ha lebih yg juga dibantu oleh Kodam Sriwijaya, setra Budi Daya Bawang di Desa Cimenyan Kec Cimenyan Kab Bandung Jabar seluas 500 hektar yang disupport oleh Kodam Siliwangi dan masih banyak sentra dalam skala yang lebih kecil dan yang baru dimulai. Berdasarkan dari permasalah dan partisipasi program ketahanan dan kedaulatan pangan serta pengalaman oruentasi lapangan slma 3 tahun lebih itulah semakin menguatkan tekant kami KUP SUTA Nusantara bahwa manusia unggul itu adalah petani, petani yg berhati mulia dan bekerja keras, petani yg berpengetahuan dan berketrampilan sesuai dg perkembangan dan kemajuan jaman itulah kemudian kita sebut petani yang selalu berkemampuan untuk mencapai the best movement dan the best moment. Oleh karena itu, Dadung berharap, di awal tahun 2017 pihaknya dapat menemukan pola manajemen lapangan untuk membuat sistem strategi implementasi pelaksanaan program dan usaha di bidang pertanian yang lebih konferhensif, integreted sustainable dan univesal, serta meningkatkan perluasan kerjasama dengan semua pihak khususnya komponen kepemudaan di desa seperti karang taruna dan pendidikan seperti pramuka. “Terlebih khusus lagi adalah mengajak para pemuka atau tokoh agama serta adat budaya untuk bersama memberikan support kepada petani untuk menjadi manusia unggul yang sebenarnya. Sehingga pertanian tidak dipandang lagu sebagai dunia yang sempit dan terpencil dari pandangan kita semua,” tutup Ketua Umum KUP SUTA Nusantara. (Red) 





























