PAN Sebut Anies Baswedan Cuma Bermodal Medsos

Jakarta, Obsessionnews.com - Partai Gerindra dan PKS membuat kejutan dalam mengusung pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Gerindra semula menjagokan kadernya sendiri, Sandiaga Uno, sebagai cagub. Namun, di hari terakhir penutupan pendaftaran ke KPU DKI, Jumat (23/9/2016), secara mengejutkan Gerindra dan PKS mengusung duet Anies Baswedan – Sandiaga Uno. [caption id="attachment_153469" align="alignnone" width="640"]
Keakraban tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta: Anies Baswedan, Sylviana Murni, Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Tajahaja Purnama atau Ahok, Sandiaga Uno, dan Djarot Saiful Hidayat.[/caption] Anis mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia menjadi korban reshuffle jilid II pada Rabu, 27 Juli 2016. Sebelumnya ia anggota tim sukses Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014 lalu. Anies sendiri hingga kini tidak menjadi kader partai politik manapun. Terpilihnya Anis menjadi cagub DKI mendapat tanggapan sinis dari politisi PAN Dradjat H Wibowo. “Anies memang beruntung. Selama ini gak turun ke lapangan. Duit gak keluar banyak,” kata Dradjat dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/9/2016). Mantan anggota DPR ini menyebut modal Anies cuma media sosial (medsos). Tiba-tiba dijadikan cagub oleh Prabowo Subianto. Padahal dulu Anies pernah menyebut Prabowo didukung mafia. Dradjat mempertanyakan untuk apa kita menjadi politisi? Harus keluar duit banyak membina konstituen. Oleh media dan rakyat dianggap jelek terus. “Mereka yang waktu kuliah nilainya lebih jelek dari kita, tapi karena mereka tidak pernah terjun ke politik, malah dipuja-puja sebagai profesional yang bersih dan pandai. Sedangkan kita yang terjun ke politik, biarpun nilai akademisnya jauh lebih bagus, dan mati-matian menjaga diri dari korupsi di kancah politik, tetap saja dimaki sebagai politisi yang tdk layak menjadi ini dan itu. Jadi untuk apa menjadi politisi?” tuturnya. Dia berharap pers berhenti mengagungkan orang yang tidak pernah terjun ke politik sebagai "profesional yang bersih dan pandai". “Mereka itu berburu kekuasaan juga. Malah mereka tidak mau keluar keringat dan darah. Memilih nunggu di tikungan. Partai dijelek-jelekin. Ujung-ujungnya mereka menumpang ikut kekuasaan melalui parpol juga. Berhentilah menghujat parpol dan politisi. Setidaknya mereka fair, mau berdarah-darah dalam memenangkan kekuasaan,” ucap Dradjat. Dradjat merasa kasihan orang profesional seperti Yusril Ihza Mahendra yang karena terjun ke politik justru dinilai lebih jelek dari Anies. Dradjat mengingatkan Yusril adalah guru besar hukum ketatanegaraan Universitas Indonesia (UI). (@arif_rhakim)
Keakraban tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta: Anies Baswedan, Sylviana Murni, Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Tajahaja Purnama atau Ahok, Sandiaga Uno, dan Djarot Saiful Hidayat.[/caption] Anis mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia menjadi korban reshuffle jilid II pada Rabu, 27 Juli 2016. Sebelumnya ia anggota tim sukses Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014 lalu. Anies sendiri hingga kini tidak menjadi kader partai politik manapun. Terpilihnya Anis menjadi cagub DKI mendapat tanggapan sinis dari politisi PAN Dradjat H Wibowo. “Anies memang beruntung. Selama ini gak turun ke lapangan. Duit gak keluar banyak,” kata Dradjat dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/9/2016). Mantan anggota DPR ini menyebut modal Anies cuma media sosial (medsos). Tiba-tiba dijadikan cagub oleh Prabowo Subianto. Padahal dulu Anies pernah menyebut Prabowo didukung mafia. Dradjat mempertanyakan untuk apa kita menjadi politisi? Harus keluar duit banyak membina konstituen. Oleh media dan rakyat dianggap jelek terus. “Mereka yang waktu kuliah nilainya lebih jelek dari kita, tapi karena mereka tidak pernah terjun ke politik, malah dipuja-puja sebagai profesional yang bersih dan pandai. Sedangkan kita yang terjun ke politik, biarpun nilai akademisnya jauh lebih bagus, dan mati-matian menjaga diri dari korupsi di kancah politik, tetap saja dimaki sebagai politisi yang tdk layak menjadi ini dan itu. Jadi untuk apa menjadi politisi?” tuturnya. Dia berharap pers berhenti mengagungkan orang yang tidak pernah terjun ke politik sebagai "profesional yang bersih dan pandai". “Mereka itu berburu kekuasaan juga. Malah mereka tidak mau keluar keringat dan darah. Memilih nunggu di tikungan. Partai dijelek-jelekin. Ujung-ujungnya mereka menumpang ikut kekuasaan melalui parpol juga. Berhentilah menghujat parpol dan politisi. Setidaknya mereka fair, mau berdarah-darah dalam memenangkan kekuasaan,” ucap Dradjat. Dradjat merasa kasihan orang profesional seperti Yusril Ihza Mahendra yang karena terjun ke politik justru dinilai lebih jelek dari Anies. Dradjat mengingatkan Yusril adalah guru besar hukum ketatanegaraan Universitas Indonesia (UI). (@arif_rhakim)




























