Inilah Cara Bantu Petani Kita Berkompetisi dengan Negara Lain

Inilah Cara Bantu Petani Kita Berkompetisi dengan Negara Lain
Jakarta - Komunitas Usaha Pertanian Sentra Usaha Tani dan Agribisnis Nusantara (KUP Suta Nusantara) menyatakan, sekarang ini petani kita dihadapkan pada persoalan percepatan dan peningkatan produksi. Selain itu, petani kita juga dihadapkan pada kompetisi usaha dengan negara lain, dengan free trade China, free trade-free trade lainnya. “Seperti hadirnya pola pertanian dari negara lain yang cenderung aglomeratif atau orang menyebut little China farming, little Korean farming, little Japane farming, little Thailand farming dan sebagainya,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat KUP Suta Nusantara, Dadung Hari Setyo, Senin (19/9/2016). suta-nusantara-2 Ia menegaskan, pihaknya telah mengidentifikasikan masalah tersebut sehingga berharap dapat berbuat bersama-sama untuk para petani dan masyarakat, bangsa dan negara. “Mari pertanian kita jadi program dan usaha lagi lebih baik,” harapnya. Menurut Dadung, pada tahun 2016 adalah tahun ke 6 KUP SUTA NUSANTARA berkiprah program dan usaha pertanian. “Meski personalia KUP SUTA NUSANTARA tidak ada yang bebasis akademisi ilmu pertanian tapi Kami yakin ilmu yang dimiliki para petani lebih nyata menjadi pengetahuan Kami, dari petani Kami belajar dari petani Kami melatih diri mental maupun ketrampilan,” tuturnya. suta-nusantara-3 Ketua Umum KUP SUTA NUSANTARA menegaskan, pihaknya mencoba beberapa kali bekerjasama secara personal dengan perusahaan di bidang pertanian baik perusahan pupuk benih maipun alat mesin pertanian. “Selain itu, Kami merintis usaha dari skala yang kecil baik dalam budi daya maupun perdagangan atau tata niaga komoditi pertanian. Pola permodalan juga kami uji coba,” jelas Dadung. “Alhamdulillah seiring dengan waktu pengetahuan Kami selalu bertambah, persahabatan dengan petani pun semakin meluas, walaupun sampai saat ini Kami belum bekerjasama dengan pemerintah pusat maupun propinsi, Kami lebih banyak kerjasama dengan perangkat dan pemuda desa dan beberapa kepala daerah kota atau kabupaten,” tambahnya. suta-nusantara-4 Dadung menyatakan, sudah menjadi tekad KUP SUTA NUSANTARA dalam mengimplementasikan program dan usaha bersifat button up bukan top down. “Kini KUP SUTA NUSANTARA memiliki jaringan personalia persahabatan petani di Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Banten, Jakarta, Jabar, Yogya, Jatim, Bali, NTB dan Sulteng yang teridentifikasi kurang lebih ada 150 kota kabupaten di dalamnya,” paparnya. Kami pun segera memperluas jaringan persahabatan petani tersebut di seluruh propinsi tidak terkecuali NTT maupun Papua. “Adapun program dan usaha pertanian tersebut adalah usaha tani dan agribisnis padi dan beras, jagung, bawang merah, peternakan unggas sapi maupun kambing. Perikanan air tawar serta sayur mayur horticultural perkebunan kopi dan sebagainya,” jelas dia. suta-nusantara-5 Ia mengungkapkan, perjalanan 6 tahun tersebut tidaklah mudah. “Persoalan, permasalahan, kendala, hambatan pasti selalu ada tapi Alhamdulillah semua itu adalah proses pembelajaran bagi Kami sekaligus sebagai penguat tekat untuk lebih fokus pada program dan usaha pertanian. Sesuai dengan namanya KUP SUTA NUSANTARA, KUP adalah Komunitas Usaha Pertanian sebagai wadah berhimpun dan berkumpulnya para penggiat usaha di pertanian,” tandasnya. Sedangkan SUTA, menurutnya, adalah Sentra Usaha Tani dan Agribisnis yaitu pola pengembangan pemberdayaan pertanian yang manajemen program dan usaha terpadu, memadukan antara pola produksi usaha tani dengan agribisnis yang ada dalam satu kawasan dan satu atap manajemen bisnis. suta-nusantara-8 Seiring dengan waktu 6 tahun pula, kata Dadung, KUP SUTA NUSANTARA telah menyimpulkan beberapa persoalam dasar dalam pembangunan pertanian sebagai berikut: SECARA UMUM: 1. Kebijakan Pemerintah banyak belum dikenal oleh para petani, banyak kbijakan dari atas pusat ke bawah pemerintah daerah dan desa masih banyak tumpang tindih. Banyak kebijakan programnya kurang bersifat konferhensir integreted sustainable dan kurang berpihak pada petani lebih berpihak pada perusahaan swasta maupun BUMN, semisal kebijakan tentang produksi benih dan pupuk petani sangat tergantung dengan perusahaan benih dan pupuk, dan petani tergantung dengan bantuan pemerintah. Padahal banyak petani yang sudah dapat membuat pembenihan dan produksi pupuk-pupuk tertentu seperti pupuk organik sendiri tanpa harus tergantung dengan perusahaan swasta dan BUMN tentu masih banyak yang lain. Kebijkan terkait ini sekiranya harus dievaluasi dan ditata lebih baik lagi agar petani tidak konsumtif dan lebih kreatif serta produktif. suta-nusantara-7 2. Rendahnya komitmen Pelaku usaha di bidang pertanian totalitasnya hanya mencari keuntungan, petani selalu betada di dasar palinng bawah dan tertekan. Pelaku usaha diatas petani ada tengkulak kecil diatasnya lagi tengkulak besar dan diatasnya lagi pengusaha perdagangan dan diatasnya lagi pengusaha yg menguasai pasar.. dan herannya petani yg mendapatkan margin paling kecil dan bekerja yg paling berat. 3. Rendahnya riset development, rendah kualitas pendidikan baik formal maipun non formal. Keberadaan lembaga pendidikan di bidang pertanian kurang strategis bnyak ahli2 atau tenaga terdidik di bidang pertanian tidak mau terjun di lapangan, mereka memilih kerja di meja dari pada di ladang dg petani. suta-nusantara-6 SECARA KHUSUS PETANI: 1. Minimnya media informasi pertanian. Tidak ada media khusus pertanian yg berskala nasional. Banyak media pertanian di tingkat lokal tapi keberadaanya tdk lama bubar begitu selalu silih berganti. Banyak informasi di medsos ataupun internet namun kredibilitas informasinya dipertanyakan karena informasi tsb tdk banyak yg bisa dikonfirmasi kebenaran;hanya jadi sebuah etalase informasi saja tidak lain. 2. Rendahnya pengetahuan dan ketrampilan pelaku usaha pertanian. Tidak ada perhatian terhadap kopetensi pelaku maupun pelaksana pembangunan pertanian, tidak adanya lembaga pengawasan penilaian dan akreditasi pelaku, kurang adanya reward dan punishmen 3. Kurang memiliki sistem majamen produksi dan usaha tani yg terukur dan teruji sehingga sulit secara strategis mengkalkulasi kemampuan produksi disetiap komoditas secara terpadu, disinilah lemahnya produsen pertanian untuk memiliki nilai tawar . 4. Jiwa entreprenuernya para pelaku dan pelaksana tdk terbangun krn dibiasakan terima bantuan sosial, tdk memiliki jiwa dagang dan tdk dpt mengatur tata niaga dg baik. Sampai ada yg bilang "Jangan jadikan petani sebagai pekerja sosial atau relawan pangan” suta-nusantara-9 5. Tidak memiliki akses bisnis yg luas dan mitra bisnis yg kuat. Manajemen agribinisnya minim. Akses permidalan dan investasi bagi para petani jauh dari harapan. Petani Kita adalah petani butuh yg abadi, srjak dari anak-anak muda sampai tua pun jadi petani yg bekerjanya di ladang dg cangkul dan sabit . Jarang sekali petani yg punya jiwa dagang, jiwa wirausaha apalagi jd pengusaha. 6. Tidak mengenal pola pengembangan permodalan. Banyak petani tdk mngenal permidalan perbankan maupun non perbankan, malah lebih mngenal pola-pola ijon pola tengkulak spt istilah pijam 4 kembalikan 6 dan sebagainya. 7. Tidak punya kemampuan menarik investor untuk kerjasama. Banyak petani yg jeberadaannya scr admitratif bisnis tdk memenuhi persyaratan senisal tanah bnyak blm tersertifikat dan blm memiliki badan usaha yg selayaknya. 8. Asset selalu menurun karena tidak ada peningkatan pendapatanya dan bahkan pengelyaran smkin besar baik untuk kebutuhan usahanya maupun kebutuhan keluarga. Petano saat ini lbh konsumtif drpd produktifnya 9. Minimnya keberhasilan petani dlm bisnis, terdapatnya pola bisnis yg tidak baik sistem ijon, tengkulak dan sebagainy membuat orang takut dan tidak tertarik menjadi petani. (Red)