Perkembangan Daya Tarik Pelancong di Gunung Bromo

Probolinggo, Obsessionnews.com- Keindahan gunung Bromo seakan tidak pernah luput dari kenangan para pelancong yang pernah menginjaknya. Bahkan hingga detik ini, Bromo tidak pernah sepi dari incara mata yang belum memandangnya, Tak pelak, gunung ini selalu menjadi destinasi terpilih, Indonesia memang kaya. Mengenal ini, Bromo sendiri diambil dari bahasa Sanskerta yaitu Brahma, diambil dari salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu. Berstatus aktif di jawa Timur, gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Kepada Obsessionnews.com, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Probolinggo Anung Widiarto menjelaskan, perkembangan wisata gunung Bromo dari tahun ke tahun memang telah mengalami lonjakan wisatawan yang tinggi, sehingga sampah juga turut menyelimuti gunung ini. "Dari tahun ke tahun, semakin banyak orang menyadari keindahan gunung Bromo, semakin banyak yang datang kesini. Namun disisi lain sampah pun semakin bertambah, namun kami terus melakukan pembersihan dan sekarang wisatawanpun disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya," ujarnya, Minggu (11/9/2016).
Permasalahan sampah ini telah berhasil dihilangkan, ia melakukan pembatasan jumlah pengunjung serta melakukan kerjasama dengan para pecinta alam, sahabat bromo melalui kegiatan 'bersih-bersih bromo'. Selain itu, perubahan gaya hidup seorang pelancong terhadap wisata seperti Bromo telah mengubah daya tarik Sun, sand, and sex yang kini perlahan ‘digantikan’ oleh wisata budaya. Cultural tourism semakin diminati para turis, terutama wisatawan lokal.Pergeseran karakter dari ‘melancong’ ke ‘menjajaki’ turut mendorong pesatnya perkembangan perjalanan budaya atau cultural travel di sejumlah negara. Taruli Tambunan, salah satu penikmat plesir yang cukup berpengalaman melakukan cultural travel, menyatakan telah beberapa kali menjajal kehidupan di desa adat eksotis. “Saya tidak tahu apakah ini tergolong cultural travel atau bukan. Saya pernah sekali, tapi sudah lama sekali. Kira-kira pada 2011. Itu sekaligus menjadi bagian dari pengalaman pertama saya keliling Asia Tenggara,” ujarnya. Ia menuturkan, Seorang cultural traveler harus meninggalkan zona nyaman dan norma-norma yang biasa melekat dengannya untuk merasakan sensasi menjadi bagian dari kebudayaan dan cara hidup masyarakat di tempat tujuan mereka. Kini banyak orang yang lebih tertarik melakukan experience (tinggal di satu komunitas) ketimbang sekadar trip alias sekadar jalan-jalan. Seiring kebutuhan gaya hidup pelancong tersebut, Bromo melengkapi wisatanya dengan'Jazz Gunung Bromo', pengunjung dimanjakan alunan musik jazz di ketinggian 2200 mdpl, hipnotis dengan suhu dinging dan iringab musik jazz berbalut kebudayaan tanah air. (Aprilia Rahapit)
Permasalahan sampah ini telah berhasil dihilangkan, ia melakukan pembatasan jumlah pengunjung serta melakukan kerjasama dengan para pecinta alam, sahabat bromo melalui kegiatan 'bersih-bersih bromo'. Selain itu, perubahan gaya hidup seorang pelancong terhadap wisata seperti Bromo telah mengubah daya tarik Sun, sand, and sex yang kini perlahan ‘digantikan’ oleh wisata budaya. Cultural tourism semakin diminati para turis, terutama wisatawan lokal.Pergeseran karakter dari ‘melancong’ ke ‘menjajaki’ turut mendorong pesatnya perkembangan perjalanan budaya atau cultural travel di sejumlah negara. Taruli Tambunan, salah satu penikmat plesir yang cukup berpengalaman melakukan cultural travel, menyatakan telah beberapa kali menjajal kehidupan di desa adat eksotis. “Saya tidak tahu apakah ini tergolong cultural travel atau bukan. Saya pernah sekali, tapi sudah lama sekali. Kira-kira pada 2011. Itu sekaligus menjadi bagian dari pengalaman pertama saya keliling Asia Tenggara,” ujarnya. Ia menuturkan, Seorang cultural traveler harus meninggalkan zona nyaman dan norma-norma yang biasa melekat dengannya untuk merasakan sensasi menjadi bagian dari kebudayaan dan cara hidup masyarakat di tempat tujuan mereka. Kini banyak orang yang lebih tertarik melakukan experience (tinggal di satu komunitas) ketimbang sekadar trip alias sekadar jalan-jalan. Seiring kebutuhan gaya hidup pelancong tersebut, Bromo melengkapi wisatanya dengan'Jazz Gunung Bromo', pengunjung dimanjakan alunan musik jazz di ketinggian 2200 mdpl, hipnotis dengan suhu dinging dan iringab musik jazz berbalut kebudayaan tanah air. (Aprilia Rahapit) 




























