Dibilang 'Anak Pelacur' Obama Batalkan Pertemuan dengan Presiden Duterte

Dibilang 'Anak Pelacur' Obama Batalkan Pertemuan dengan Presiden Duterte
Laos - Presiden Barack Obama menolak bertemu Presiden Filipina, Rodridgo Duterte, di sela-sela pertemuan puncak ASEAN yang akan berlangsung 6 hingga 8 September di Laos. Para diplomat Amerika Serikat mengungkapkan keprihatinan atas catatan hak asasi manusia di Filipina sejalan dengan upaya pemberantasan narkotika. Di bawah kebijakan Presiden Duterte, sekitar 2.000 tersangka pengedar narkotika tewas dibunuh aparat keamanan maupun kelompok milisi bersenjata. "Presiden Obama tidak akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Duterte dari Filipina siang ini," tegas juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Ned Price, seperti dilansir bbc.com. Duterte sendiri menjelang keberangkatan ke Laos mengatakan kepada para wartawan dia akan 'mengutuk' Obama jika pemimpin Amerika Serikat itu mempertanyakan kebijakan kerasnya dalam memberantas perdagangan gelap narkotika. "Anda harus menghormati. Jangan hanya melempar pertanyaaan dan pernyataan. "Putang ina (anak lonte), saya akan mengutukmu di forum itu," kata Duterte merujuk Presiden Obama kepada para wartawan sebelum terbang ke Laos. Presiden Obama dan Duterte awalnya direncanakan akan melakukan pertemuan bilateral pada Selasa 6 September. Namun Gedung Putih menyatakan Presiden Obama kini akan bertemu dengan Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye, saat menghadiri KTT ASEAN di ibukota Laos, Vientiane. [caption id="attachment_149584" align="aligncenter" width="640"]Presiden Obama sempat disebut 'anak pelacur' oleh Presiden Duterte. (bbc.com) Presiden Obama sempat disebut 'anak pelacur' oleh Presiden Duterte. (bbc.com)[/caption] Kecam Obama terkait HAM Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengatakan Barack Obama 'anak pelacur' dan memperingatkan pemimpin Amerika Serikat itu agar tidak mengangkat masalah hak asasi manusia. Duterte ditanyakan seorang wartawan terkait bagaimana reaksinya jika Presiden Obama menanyakan upaya perang perdagangan obat gelap yang dilakukan pemerintah Filipina. Ratusan orang terbunuh karena operasi antinarkotika sejak Duterte memenangkan pemilihan umum, meskipun dunia internasional sudah menyatakan kecaman. "Kampanye melawan narkotika akan terus berlanjut," tegasnya. Dia juga menambahkan tidak memperdulikan pendapat dari orang yang mengamati tindakannya dengan menambahkan tidak menerima perintah dari Amerika Serikat, yang pernah menjajah Filipina. Duterte dan Obama awalnya dijadwalkan bertemu pada Selasa 6 September di Laos, di sela-sela pertemuan puncak ASEAN. "Anda harus menghormati. Jangan hanya melempar pertanyaaan dan pernyataan. Anak pelacur, saya akan mengutukmu di forum tersebut," katanya merujuk Presiden Obama kepada para wartawan dalam konferensi pers menjelang keberangkatannya ke Laos. Janji sejak kampanye Pada masa kampanye, Duterte memang berjanji untuk mengambil tindakan keras atas peredaran narkotika dan setelah terpilih sebagai presiden, Bulan Mei, berlangsung sejumlah pembunuhan -oleh aparat keamanan maupun kelompok sipil bersenjata- terkait dengan perdagangan narkotika di Filipina. Kepolisian Filipina pada pekan ketiga Agustus mengatakan sekitar 1.900 orang terbunuh dalam operasi penggerebekan narkotika di negara itu. PBB berulangkali mengecam kebijakan tersebut dan menyatakannya sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Gereja Katolik Roma, yang merupakan agama mayoritas di Filipina, juga mengecam Duterte. Tetapi dia mengatakan tidak mengacuhkan pandangan orang-orang yang mengamati aksinya, dan menambahkan menolak diperintah AS, negara yang sebelumnya menjajah Filipina. "Banyak yang akan mati, banyak yang akan terbunuh sampai penjual obat bius yang terakhir ke luar dari jalanan." "Sampai pembuat narkotika terakhir, kami akan meneruskannya dan saya tidka perduli dengan orang yang mengamati perilaku saya," tambahnya. (bbc.com)