Maryono Motor Penggerak Pembangunan Perumahan

Maryono Motor Penggerak Pembangunan Perumahan
Sebagai nakhoda PT Bank Tabungan Negara Tbk (Bank BTN), Maryono berhasil membawa institusinya berlari kencang dan menjadi motor penggerak pembangunan perumahan negeri ini. Tak salah jika kiprahnya itu mampu memberikan pengaruh besar pada kebijakan pembiayaan perumahan rakyat. Program sejuta rumah yang menjadi target pemerintahan saat ini sangat menaruh harapan besar kepada Maryono dan BTN untuk dapat ikut berperan menyukseskannya. Pasalnya, BTN sudah didaulat sebagai pemeran utama dalam merealisasikan pembangunan rumah bagi rakyat kecil di Indonesia tersebut. Bagi Maryono bersama BTN, tentu tak perlu waktu lama untuk menyatakan kesiapannya. “Ini adalah program pemerintah dan menjadi tugas mulia bagi kami untuk merealisasikannya. Ini juga menjadi obsesi kami, bagaimana masyarakat mendapatkan rumah yang layak dengan mudah dan murah,” ujar Maryono. Seperti yang tertuang dalam UUD 1945, tambah Maryono, kebutuhan papan  merupakan kebutuhan pokok di antara sandang dan pangan. “Saat ini masih ada backlog 14 juta,” kata Maryono. Komitmen tersebut pun Maryono buktikan, kinerja Perseroan semester I 2016 masih menunjukan konsistensi Bank BTN pada bisnis utamanya itu. “Bank BTN masih menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan di Indonesia dengan pangsa pasar 31% dan posisi ini akan kami pertahankan dan terus diupayakan peningkatannya,” tandas Maryono. Kredit yang disalurkan Bank BTN semester I 2016, tumbuh 18,39% dari Rp 126,12 triliun pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp 149,31 triliun. "Pertumbuhan kredit ini didukung oleh penyaluran kredit ke sektor perumahan sebesar Rp 135,74 triliun yang tumbuh 20,23% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 112,91 triliun. Sementara kredit non perumahan sebesar Rp 13,57 triliun atau tumbuh 2,64% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 13,22 triliun," papar Maryono. Kredit ke sektor perumahan disalurkan untuk dukungan kredit perumahan subsidi dan kredit perumahan non subsidi. Kredit subsidi mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi sebesar Rp 49,81 triliun atau tumbuh 31,18% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 38,01 triliun. Sementara kredit non subsidi tercatat tumbuh 14,88% dari sebesar Rp 49,75 triliun menjadi Rp 57,15 triliun di semester I 2016. Berkat tangan dingin Maryono, Bank BTN juga berhasil meraih laba bersih sebesar Rp1,04 triliun per semester I 2016. Total laba mengalami pertumbuhan 25,40% persen bila dibanding posisi Rp831 miliar di periode serupa tahun sebelumnya. Perolehan laba bersih perseroan ini juga berada diatas rata-rata industri di mana pada umumnya pada periode yang sama laba industri tumbuh secara melambat. Maryono juga mengatakan, mendukung dan menyukseskan program pemerintah Tax Amnesty dalam rangka mempercepat pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, Bank BTN memberikan banyak alternatif produk kepada masyarakat atau calon investor. Obligasi Berkelanjutan II Tahap II Bank BTN tahun 2016 adalah salah satu pilihan terbaik yang dapat dimanfaatkan. Obligasi Bank BTN ini telah memperoleh kenaikan rating dari AA menjadi AA+ dari PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo) yang berarti Kinerja Perseroan yang sangat baikdan berkelanjutan (sustain) disamping memperoleh dukungan yang  kuat dari pemegang saham pengendalinya, Pemerintah Indonesia. Menurut jadwal pada 29 Agustus 2016, Obligasi perseroan diharapkan sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di usia RI ke-17, Maryono menilai dunia perbankan Indonesia sangat maju. Setelah tahun 2000, sektor perbankan telah banyak mengalami perubahan menuju profesional dunia artinya sudah setara kualitas operasionalnya dengan dunia. “karena sudah menerapkan aturan internasional misalnya risk management dengan good governance. Itulah kenapa kita bisa tahan gejolak krisis global maupun regional sehingga ini menjadi kebanggaan bagi kami karena perbankan adalah salah satu pilar ekonomi,” ujarnya. Selain memfasilitasi masyarakat mendapatkan rumah dengan mudah dan murah, Maryono memiliki obsesi bagaimana masyarakat di seluruh pelosok desa mendapat layanan perbankan. “Obsesi tersebut sedang berjalan seperti adanya layanan brachless  banking dan digital banking, sehingga nanti layanan perbankan sudah tidak eksklusif lagi tapi menjadi kebutuhan kehidupan ekonomi,” pungkasnya. Atas keberhasilannya memimpin BTN tersebut Maryono terpilih sebagai salah seorang dari 71 Tokoh Berpengaruh versi Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2016.  (Men’s Obsession/Rud)